WFH ASN Diklaim Bisa Hemat Rp 10 T, Bappenas Masih Uji Efektivitas
- Kebijakan work from home (WFH) alias bekerja dari rumah setiap Jumat bagi aparatur sipil negara (ASN) disebut berpotensi menghemat anggaran negara hingga Rp 10 triliun dalam empat bulan.
Deputi Perencanaan Makro Pembangunan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Eka Chandra Buana menyebut, kebijakan tersebut tidak hanya diposisikan sebagai langkah fleksibilitas kerja birokrasi, tetapi juga bagian dari strategi efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon nasional.
“Dari perspektif kebijakan energi, WFH merupakan bagian dari demand-side management karena sektor transportasi masih menjadi salah satu pengguna utama energi final berbasis BBM,” ujar Candra kepada Kompas.com, Jumat (15/5/2026).
Baca juga: Kebijakan WFH Dinilai Belum Efektif Bikin Hemat BBM
ilustrasi WFH
Pendekatan kebijakan WFH ASN menurut Kementerian PPN/Bappenas
Menurutnya, Bappenas memandang kebijakan WFH Jumat sebagai bagian dari tiga pendekatan sekaligus, yakni kebijakan energi jangka pendek, reformasi birokrasi, dan strategi menuju ekonomi hijau.
Berdasarkan Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2024 dari Bappenas, sektor transportasi menyumbang sekitar 36,11 persen konsumsi energi final nasional dan masih menjadi pengguna utama BBM.
Karena itu, pengurangan mobilitas ASN dinilai dapat menekan konsumsi bahan bakar secara agregat.
Dalam simulasi Bappenas, kebijakan WFH diperkirakan mampu menghemat sekitar 4,9 juta liter BBM per hari atau setara 1,93 persen konsumsi BBM harian nasional.
Baca juga: WFH ASN: Dampak Ekonomi Lokal, UMKM, dan Penghematan Energi
Emisi karbon dioksida (CO2) juga diproyeksikan turun hingga 11.300 ton per hari.
Kondisi pelayanan di Dukcapil Kelurahan Kemayoran, Jakarta Pusat. Jumat, (8/5/2026).
Perhitungan tersebut menggunakan asumsi sekitar 50 persen ASN nonpelayanan publik menjalankan WFH.
Dari total sekitar 6,5 juta ASN nasional per Desember 2025, diperkirakan 3,27 juta pegawai bekerja dari rumah setiap Jumat.
Bappenas juga memperkirakan penghematan berasal dari berkurangnya biaya operasional kantor, seperti penggunaan listrik gedung, transportasi dinas, dan operasional harian pemerintahan.
Baca juga: Sebulan WFH ASN, Ekonom Soroti Biaya Tersembunyi
Meski demikian, Eka mengakui sejumlah aspek masih belum dikaji mendalam.
Pemerintah belum memiliki simulasi detail mengenai lonjakan konsumsi listrik rumah tangga, penggunaan internet, maupun biaya tersembunyi lain akibat perpindahan aktivitas kerja dari kantor ke rumah.
Meskipun Bappenas juga belum melakukan kajian khusus mengenai perbandingan efisiensi penggunaan AC sentral gedung pemerintah dengan konsumsi listrik jutaan rumah tangga ASN selama WFH.
Namun, menurut Eka, dampak bersih kebijakan ini tetap positif karena penurunan konsumsi energi di sektor transportasi diperkirakan lebih besar dibanding kenaikan konsumsi listrik rumah tangga.
Baca juga: WFH ASN Tiap Jumat Hemat BBM, Tapi Biaya Listrik Rumah Naik
“Kebijakan WFH berpotensi menghasilkan net energy saving,” tulis Bappenas dalam dokumen tersebut.
Bagaimana jika ASN WFH dari kafe?
Terkait kekhawatiran ASN justru bekerja dari kafe atau tempat umum saat WFH, Bappenas menegaskan ASN tetap diwajibkan bekerja dari rumah sesuai aturan Kementerian PANRB.
Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat dikenai sanksi sehingga potensi rebound effect dinilai relatif kecil.
“Sehingga potensi adanya rebound effect dari pelaksanaan kebijakan WFH ASN pada hari Jumat relatif kecil,” jelasnya.
Meski diklaim berpotensi mendukung target net zero emission (NZE), kebijakan WFH Jumat saat ini masih bersifat sementara hingga 31 Mei 2026 dan masih dalam tahap eksperimen kebijakan.
Baca juga: WFH Jumat untuk Swasta Hanya Imbauan: Apakah Perusahaan Sudah Ikut?
“Evaluasi komprehensif baru akan dilakukan setelah masa implementasi berakhir, termasuk untuk melihat dampaknya terhadap efisiensi energi, kinerja ASN, dan pengaruhnya terhadap aktivitas ekonomi nasional,” tutupnya.