BI Rate Bisa Naik demi Jaga Rupiah, Apa Dampaknya ke Cicilan Kredit?
Ilustrasi rupiah. (Shutterstock/Pramata)
14:40
15 Mei 2026

BI Rate Bisa Naik demi Jaga Rupiah, Apa Dampaknya ke Cicilan Kredit?

Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp 17.600 per dollar AS mulai memunculkan kekhawatiran baru di masyarakat.

Bukan hanya harga barang impor yang berpotensi naik, tekanan kurs juga dinilai bisa berdampak pada bunga kredit dan cicilan pinjaman masyarakat.

Di tengah gejolak global dan penguatan dollar AS, ruang Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga acuan BI Rate dinilai semakin terbatas.

Baca juga: Rupiah Melemah Mulai Hantam Dapur Warga: Harga Tahu, Tempe, hingga Mi Instan Terancam Naik

Ilustrasi Bank IndonesiaSHUTTERSTOCK/HARISMOYO Ilustrasi Bank Indonesia

Namun, sejumlah ekonom mulai melihat peluang BI kembali menaikkan suku bunga acuan apabila tekanan inflasi meningkat akibat lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah berlanjut.

Kondisi tersebut membuat bunga kredit perbankan berpotensi bertahan tinggi lebih lama, sehingga cicilan pinjaman masyarakat juga sulit turun dalam waktu dekat.

Rupiah melemah, arah suku bunga berubah

Bank sentral sendiri beberapa kali mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75 persen. Keputusan tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) David Sumual mengatakan sejauh ini BI masih cenderung mempertahankan suku bunga acuannya. Namun arah kebijakan moneter bisa berubah jika tekanan inflasi meningkat akibat kenaikan harga energi.

Baca juga: Kurs Rupiah Anjlok ke Rp 17.600, Harga Tahu dan Tempe Berpotensi Naik

“Saat ini masih tetap. Tapi kalau inflasi naik misal akibat kenaikan harga BBM, BI Rate diproyeksikan naik,” ujar David, dikutip dari Kontan.

Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan. Meski BI rate sudah turun empat kali, bunga kredit masih bertahan di level tinggi.SHUTTERSTOCK/MONSTER ZTUDIO Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan. Meski BI rate sudah turun empat kali, bunga kredit masih bertahan di level tinggi.

Menurut David, besaran kenaikan suku bunga akan bergantung pada dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi nasional.

“Apabila inflasi bergerak mendekati level 4 persen, maka BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan sekitar 50 basis poin,” katanya.

Tekanan terhadap inflasi dinilai berpotensi meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah dunia akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Baca juga: Rupiah Melemah, Begini Dampaknya ke Harga BBM dan Tiket Pesawat

Kenaikan harga minyak terjadi karena negosiasi untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai masih jauh dari titik temu.

Bagi Indonesia yang masih berstatus net importer minyak, lonjakan harga minyak berpotensi menekan fiskal pemerintah, meningkatkan tekanan terhadap rupiah, hingga memicu kenaikan harga energi domestik.

Risiko bunga kredit kembali naik

Jika BI kembali menaikkan suku bunga acuan, dampaknya bisa terasa langsung pada bunga kredit perbankan dan cicilan masyarakat.

Head of Macroeconomics and Market Research Permata Institute for Economic Research (PIER) Faisal Rachman mengatakan peluang kenaikan BI Rate ke level 5 persen semakin terbuka.

Baca juga: Rupiah Melemah Tembus Rp 17.600 per Dollar AS pada Jumat Pagi

“Kami melihat memang peluang BI untuk menaikkan suku bunga ke 5 persen itu terbuka saat ini,” ujar Faisal dalam Media Briefing PIER Economic Review, Selasa (11/5/2026).

PIER memperkirakan BI Rate berpotensi naik 25 basis poin menjadi 5 persen pada Mei atau Juni 2026.

Menurut Faisal, terdapat tiga faktor utama yang menjadi pertimbangan arah kebijakan moneter BI.

Pertama, inflasi domestik yang saat ini masih relatif stabil tetapi berisiko meningkat akibat tekanan dari sisi pasokan dan permintaan.

Baca juga: Hadapi Pelemahan Rupiah, Pengusaha Mulai Tahan Ekspansi dan Pangkas Biaya

Ilustrasi impor.SHUTTERSTOCK/AUN PHOTOGRAPHER Ilustrasi impor.

Kedua, kondisi eksternal Indonesia yang diperkirakan memburuk seiring potensi pelebaran defisit transaksi berjalan karena impor tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor.

Current account kemungkinan defisit akan melebar karena kita lihat impor itu akan cenderung outpacing,” katanya.

Ketiga, faktor global terutama arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.

Menurut Faisal, pasar kini melihat ruang penurunan suku bunga The Fed semakin terbatas dan baru terbuka pada akhir tahun depan.

Baca juga: Harga TV dan AC Mulai Naik, Rupiah Melemah Tekan Dompet Warga

PIER juga menyoroti pelemahan rupiah yang sudah menembus lebih dari 4 persen terhadap dollar AS. Secara historis, kondisi tersebut biasanya menjadi salah satu sinyal bagi BI untuk mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga.

“Biasanya kalau rupiah melemah 3 persen ke atas, itu sudah ada potensi kenaikan suku bunga,” ujar Faisal.

Selain itu, kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga menunjukkan tekanan pasar keuangan domestik semakin meningkat.

Sementara itu, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai tekanan inflasi ke depan juga berpotensi meningkat apabila harga minyak dunia bertahan di atas 100 dollar AS per barrel dan kurs rupiah terus melemah hingga Rp 17.500 per dollar AS.

Baca juga: Menakar Daya Tahan Rupiah

Menurut dia, kondisi tersebut dapat membebani kapasitas fiskal pemerintah, terutama untuk menahan harga energi bersubsidi agar tidak naik.

“Meskipun pemerintah terus berkata kemungkinan harga BBM atau energi bersubsidi tidak akan dinaikkan tahun ini, tetapi kalau rupiah terus melemah dan harga oil terus bertahan di atas 100 dollar AS, itu ke depannya pasti sudah melebihi kapasitas fiskal yang ada saat ini,” kata Josua.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede saat public expoos 2025 di Jakarta, Jumat (7/3/2025).KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede saat public expoos 2025 di Jakarta, Jumat (7/3/2025).

Ia menilai pemerintah pada akhirnya harus menggunakan ruang fiskal yang tersedia sebagai bantalan untuk menjaga stabilitas ekonomi, bukan lagi untuk mendorong pertumbuhan.

Josua menambahkan kombinasi inflasi yang meningkat dan pelemahan rupiah berpotensi mendorong BI ikut menaikkan suku bunga acuannya.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.500, Cadangan Devisa dan Arus Modal Jadi Sorotan

“Kalau krisis energi ini terus berkepanjangan tentunya pasti akan membebani inflasi Indonesia juga outlook-nya. Di satu sisi rupiah juga akan terus melemah,” ujarnya.

Kenapa cicilan KPR bisa ikut naik?

Pengamat perbankan sekaligus Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan kenaikan cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) sebenarnya lebih dipengaruhi pergerakan suku bunga kredit dibandingkan nilai tukar secara langsung.

“Kenaikan cicilan bergantung pada kenaikan atau fluktuasi suku bunga. Bila dampak dari kenaikan kurs dollar adalah bunga kredit juga ikut naik maka cicilan kredit juga akan naik,” ujar Trioksa kepada Kompas.com.

Menurut dia, dalam kondisi rupiah tertekan, BI umumnya akan mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter termasuk menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Baca juga: Rupiah Sentuh Rp 17.529 per Dollar AS, Imbas Pertumbuhan Ekonomi RI Diragukan

Kenaikan BI Rate tersebut pada akhirnya meningkatkan biaya dana perbankan atau cost of fund, yakni biaya yang dibayar bank untuk simpanan deposito dan tabungan masyarakat.

Kemudian kenaikan biaya dana akan mendorong kenaikan bunga kredit karena bank perlu menjaga margin keuntungan agar tetap sehat.

“Jadi faktor utama fluktuasi bunga kredit adalah biaya dana bank,” tegasnya.

Senada, pengamat perbankan dan praktisi sistem pembayaran Arianto Muditomo mengatakan pelemahan rupiah tidak secara langsung memengaruhi cicilan KPR, terutama kredit dengan skema bunga mengambang atau floating rate.

Ilustrasi rupiah. Shutterstock/Travis182 Ilustrasi rupiah.

Baca juga: Pelemahan Rupiah: Ekonom Ingatkan Kenaikan Biaya Hidup Semester II-2026

Menurut Arianto, suku bunga kredit di Indonesia lebih banyak ditentukan faktor internal seperti biaya dana, likuiditas perbankan, dan kebijakan suku bunga acuan.

“Jadi bukan kurs secara langsung. Namun dampak tidak langsung tetap ada, yaitu jika pelemahan rupiah memicu tekanan inflasi atau mendorong BI mempertahankan atau menaikkan suku bunga, maka bunga floating KPR berpotensi ikut naik dalam periode berikutnya,” ungkapnya.

Ia menilai perbankan akan lebih responsif menyesuaikan bunga kredit di tengah dinamika global saat ini. Namun, penyesuaian tersebut tidak dilakukan secara agresif karena bank tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat, kualitas kredit, dan strategi bisnis.

Selain itu, adanya kebijakan regulator yang tidak lagi menampilkan kredit bermasalah di bawah Rp 1 juta dinilai memberi ruang bagi bank menjaga stabilitas portofolio ritel.

Baca juga: Industri Makanan Minuman Kesulitan Sesuaikan Harga Karena Pelemahan Rupiah

“Bank memiliki ruang untuk menjaga stabilitas portofolio ritel tanpa overreaction terhadap risiko kecil, sehingga penyesuaian bunga biasanya tetap bertahap dan terukur, bukan reaktif terhadap pergerakan rupiah semata,” tuturnya.

Transmisi penurunan bunga kredit sulit cepat

Ketika BI mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga, transmisi penurunan bunga kredit ke masyarakat menjadi semakin lambat.

Kontan melaporkan, penurunan bunga kredit perbankan hingga kini masih berjalan terbatas meski BI sebelumnya telah memangkas suku bunga acuan sebesar 125 basis poin sepanjang tahun lalu.

Dalam polling Reuters, para ekonom mencatat bank-bank baru menurunkan bunga pinjaman sekitar 24 basis poin meski BI telah memangkas suku bunga lebih agresif sejak 2024.

Baca juga: Pelemahan Rupiah Naikkan Biaya Produksi Industri Tekstil

Ilustrasi perjanjian kredit, kredit pemilikan rumah (KPR). SHUTTERSTOCK/STASIQUE Ilustrasi perjanjian kredit, kredit pemilikan rumah (KPR).

Artinya, bunga pinjaman seperti KPR, kredit kendaraan, hingga kredit modal usaha berpotensi belum turun signifikan dalam waktu dekat.

Bagi debitur dengan skema bunga floating rate, kondisi tersebut dapat memengaruhi besaran cicilan bulanan.

Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya juga meminta perbankan mempercepat penurunan bunga dana dan kredit agar permintaan kredit meningkat.

“Upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu ditingkatkan untuk mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi,” kata Perry.

Baca juga: Rupiah Sentuh 17.516, Konflik Timur Tengah dan Dollar AS Menguat Jadi Pemicu

Perbankan tetap menjaga kualitas kredit

Meski tekanan global meningkat, industri perbankan dinilai masih memiliki bantalan yang cukup kuat.

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan kualitas aset perbankan terus membaik, terlihat dari rasio kredit bermasalah (NPL) gross yang stabil di kisaran 2,1 persen hingga 2,2 persen.

Ia mengatakan likuiditas perbankan juga masih cukup baik didukung injeksi likuiditas pemerintah dan penurunan BI Rate sepanjang tahun lalu.

Namun Myrdal mengingatkan pelemahan rupiah tetap menjadi salah satu risiko yang harus diwaspadai karena dapat menekan permintaan kredit.

Baca juga: Rupiah dan Saham Melemah, Apa Dampaknya?

“Jika risiko global meningkat, CoC bisa naik moderat. Tapi bank besar masih memiliki buffer yang cukup kuat untuk menyerap tekanan tersebut,” ujar Myrdal.

Bank Indonesia sendiri masih memproyeksikan pertumbuhan kredit 2026 berada di kisaran 8 persen hingga 12 persen.

Namun arah pertumbuhan kredit ke depan dinilai akan sangat dipengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah, perkembangan inflasi, dan arah kebijakan suku bunga global.

Tag:  #rate #bisa #naik #demi #jaga #rupiah #dampaknya #cicilan #kredit

KOMENTAR