Rupiah Melemah, Ekonom: Bukan Semata-mata Kurang Intervensi...
- Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai intervensi Bank Indonesia (BI) efekif menjaga stabilitas pasar disaat rupiah melemah.
Meski diakui, intervensi BI bersifat defensif supaya pelemahan berlangsung teratur, tak berubah jadi instabilitas sistemik.
"Jadi persoalan rupiah sekarang sebenarnya bukan semata-mata kurang intervensi," katanya dikutip dari Kontan, Jumat (15/5/2026).
Baca juga: Rupiah Melemah, Cicilan KPR dan Kendaraan Berisiko Naik?
Menurut Yusuf, pasar mencermati tiga faktor. Pertama, arah fiskal pemerintah apakah menimbulkan kekhawatiran atau menenangkan investor.
Kedua, konsistensi kebijakan pemerintah, investor butuh kepastian, sangat sensitif terhadap perubahan aturan karena berpengaruh besar pada prospek investasi jangka panjang.
Ketiga, prospek arus modal masuk jangka menengah yang berkaitan erat dengan iklim investasi Indonesia.
Baca juga: Eksportir Hitung Ulang Biaya Logistik dan Produksi Imbas Pelemahan Rupiah
"Kalau tekanan rupiah berasal dari faktor struktural seperti kekhawatiran investor terhadap konsistensi kebijakan dan persepsi risiko fiskal, maka intervensi moneter hanya bisa membeli waktu," jelasnya.
Selain itu, menurutnya akar dari tekanan rupiah banyak dari luar domain moneter, sehingga menjaga nilai tukarnya merupakan tugas kolektif.
"Yang terjadi sekarang justru BI menjadi semacam first responder untuk masalah yang akar utamanya ada di luar kebijakan moneter," katanya.
Baca juga: Para Ekonom Proyeksikan BI Rate Bakal Naik Imbas Rupiah Melemah
Mitigasi pelemahan rupiah
Sementara itu, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun meminta pemerintah mencegah dampak dari rupiah melemah ke masyarakat luas.
Pelemahan rupiah berdampak pada kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
"Kalau pelemahan rupiah ini tidak dimitigasi dengan cepat, dampaknya bisa langsung terasa ke biaya produksi, harga barang impor, sampai harga kebutuhan masyarakat," jelas Misbakhun dikutip dari Kompas.com, Jumat (15/5/2026).
Bank Indonesia (BI) juga diminta proaktif mengantisipasi pelemahan rupiah lebih jauh lagi.
Baca juga: Rupiah Anjlok, Sektor-sektor Ini Ketiban Untung
Setelahnya, memperkuat nilai tukar sekaligus menjaga kepercayaan pasar agar modal tak keluar dari Indonesia.
"Yang dijaga bukan cuma angka kursnya. Yang lebih penting itu kepercayaan pasar dan kepastian bagi pelaku usaha. Komunikasi kebijakan harus cepat, jelas, dan kredibel," jelasnya.
Lalu di sisi fiskal, ia menyoroti begitu pentingnya optimalisasi kebijakan devisa hasil ekspor (DHE).
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.600 per Dollar AS, Barang Apa Saja yang Berpotensi Naik?
DHE bila berhasil dilaksanakan maka penguatan rupiah lebih cepat dan berdampak pada ketahanan nasional dari gejolak global.
Ditambah adanya relaksasi bagi industri yang masih tergantung bahan baku impor, tujuannya agar kenaikan biaya produksi tak membebani harga jual ke masyarakat.
"Jangan sampai pelemahan rupiah ujung-ujungnya menaikkan biaya produksi lalu dibebankan lagi ke harga barang di masyarakat. Kalau itu terjadi, daya beli bisa ikut tertekan," ujarnya.
Baca juga: Akhiri Pekan, Rupiah Ditutup ke Level Rp 17.597 per Dollar AS
Artikel ini pernah tayang di Kontan dengan judul "Penyebab Rupiah Loyo Bukan Kurang Intervensi, Tapi Konsistensi Kebijakan Pemerintah" dan "Rupiah Melemah, Komisi XI DPR Minta Pemerintah Cegah Dampaknya ke Masyarakat"
Tag: #rupiah #melemah #ekonom #bukan #semata #mata #kurang #intervensi