Purbaya Ungkap Penopang Ekonomi RI 5,61 Persen, Ekonom Soroti Kondisi Riil
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan pada Selasa (12/5/2026).(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY)
06:51
18 Mei 2026

Purbaya Ungkap Penopang Ekonomi RI 5,61 Persen, Ekonom Soroti Kondisi Riil

- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut konsumsi rumah tangga masih menjadi kekuatan utama yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026, yakni periode Januari–Maret 2026.

Menurut Purbaya, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada awal tahun terutama ditopang oleh kuatnya daya beli masyarakat dan meningkatnya aktivitas ekonomi domestik.

“Kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap kuat dan tumbuh signifikan,” ujar Purbaya dalam keterangannya pada Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, yakni mencapai 2,94 persen.

Sementara itu, investasi menyumbang 1,79 persen terhadap pertumbuhan ekonomi dan belanja pemerintah sebesar 1,26 persen.

Baca juga: Di Balik Angka 5,6 Persen: Menjaga Pertumbuhan Tinggi di Tengah Gejolak Dunia

Purbaya mengatakan, struktur pertumbuhan ekonomi perlu dipahami berdasarkan kontribusi masing-masing komponen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Kontribusi pertumbuhan dihitung dari pertumbuhan masing-masing komponen dikalikan dengan pangsanya terhadap perekonomian. Dari perhitungan tersebut, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.

Selain konsumsi rumah tangga, pemerintah juga mencatat pertumbuhan belanja negara pada awal tahun sebagai bagian dari strategi percepatan belanja pemerintah agar dampak ekonomi dapat dirasakan lebih merata sepanjang tahun.

Menurut Purbaya, pola belanja pemerintah yang sebelumnya banyak terkonsentrasi di akhir tahun kini mulai diarahkan untuk direalisasikan lebih awal guna mendukung aktivitas ekonomi secara optimal.

Baca juga: Warga Antre Beli Parfum dan Jam Tangan, Bukan Tanda Ekonomi Baik?

Pemerintah, lanjut dia, juga terus menjalankan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan memperkuat daya beli masyarakat.

Langkah tersebut dilakukan melalui percepatan realisasi belanja kementerian dan lembaga serta pelaksanaan berbagai program prioritas nasional sejak awal tahun.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan. Angka tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan berada di atas ekspektasi pasar.

Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi dapat terus dijaga di atas 5,5 persen pada tahun ini sebagai bagian dari upaya menuju target pertumbuhan 8 persen pada 2029.

Baca juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,6 Persen, Said Abdullah Sebut Ini Melampaui Ekspektasi

Ekonomi RI Tumbuh Tinggi, Dampaknya Dinilai Belum Merata

Ilustrasi pertumbuhan ekonomishutterstock.com Ilustrasi pertumbuhan ekonomiMeski demikian, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I 2026 memang mencerminkan ekspansi ekonomi yang kuat.

Namun, di balik capaian tersebut, kondisi di lapangan dinilai belum sepenuhnya dirasakan merata oleh seluruh sektor usaha maupun kelompok masyarakat.
Menurut Josua, pertumbuhan tahunan yang tinggi tidak bertentangan dengan kontraksi ekonomi sebesar 0,77 persen secara kuartalan karena keduanya menggunakan basis perbandingan yang berbeda.

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 banyak ditopang oleh efek basis rendah, momentum Ramadhan dan Idul Fitri, serta percepatan belanja pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Karena itu, sebagian penguatan ekonomi dinilai masih bersifat musiman dan didorong stimulus fiskal.

Secara agregat, Josua mengatakan data produk domestik bruto (PDB) memang menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi. Konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 5,52 persen, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) naik 5,96 persen, sementara konsumsi pemerintah melonjak 21,81 persen.

Akan tetapi, ia mengingatkan kondisi riil di lapangan masih lebih kompleks. Tekanan harga, pelemahan rupiah, dan kenaikan biaya energi mulai membebani rumah tangga maupun dunia usaha.

Selain itu, sinyal perlambatan juga mulai terlihat dari sektor manufaktur. “PMI manufaktur pada April turun ke 49,1 dan tekanan biaya bahan baku naik ke level tertinggi dalam empat tahun akibat perang Timur Tengah,” kata Josua.

Tag:  #purbaya #ungkap #penopang #ekonomi #persen #ekonom #soroti #kondisi #riil

KOMENTAR