Ekonom: Tak Pakai Dollar, Warga Desa Tetap Terdampak Pelemahan Rupiah
Ilustrasi pertanian, petani.(PIXABAY/HARTONO SUBAGIO)
15:12
18 Mei 2026

Ekonom: Tak Pakai Dollar, Warga Desa Tetap Terdampak Pelemahan Rupiah

- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dinilai memberikan dampak yang nyata bagi kehidupan masyarakat di wilayah pedesaan dan kelompok perumahan rendah.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, dampak tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat bawah meskipun mereka tidak terlibat dalam transaksi menggunakan mata uang asing seperti dollar AS.

“Kalau ditanya apakah pelemahan rupiah paling terasa ke masyarakat kelas bawah dan desa, jawabannya justru iya. Memang mereka tidak bertransaksi langsung memakai dollar AS, tetapi banyak kebutuhan dasar mereka sangat memengaruhi barang dan bahan baku impor,” ujar Yusuf saat dihubungi Kompas.com, Senin (18/5/2026).

Baca juga: Rupiah dan IHSG Melemah, Purbaya Tegaskan Beda dengan Krisis 1998, Ajak Investor Saham Serok Bawah

Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh level Rp 17.600 per dollar AS pada Jumat (15/5/2026). Pelemahan rupiah hari ini dipicu kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang membebani pasar keuangan.ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh level Rp 17.600 per dollar AS pada Jumat (15/5/2026). Pelemahan rupiah hari ini dipicu kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang membebani pasar keuangan.

Sektor pertanian paling rawan pelemahan kurs

Yusuf memaparkan, sektor pertanian menjadi lini pertama di pedesaan yang mendeteksi imbas dari koreksi kurs mata uang garuda ini karena ketergantungan pada komponen impor.

“Dampaknya paling cepat terasa lewat pertanian. Bahan baku pupuk, pestisida, benih, sampai obat ternak masih banyak impor. Ketika rupiah melemah, biaya produksi naik. Subsidi pupuk memang ditahan pemerintah, tetapi pupuk non-subsidi dan input pertanian lain biasanya lebih cepat naik. Akibatnya margin petani ikut tertekan,” kata dia.

Selain pada aspek produksi pertanian, pergerakan nilai tukar ini juga merembet ke sektor konsumsi pangan harian yang menjadi komoditas utama warga desa.

“Lalu dari sisi konsumsi harian, banyak makanan yang sangat dekat dengan masyarakat desa ternyata sensitif terhadap kurs. Gandum untuk mi instan dan roti itu impor, begitu juga sebagian besar kedelai untuk tahu dan tempe," ungkap dia.

Baca juga: OJK: Risiko Perbankan Tetap Terkendali Meski Rupiah Tertekan

Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. PEXELS/DEFRINO MAASY Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah.

"Jadi walaupun masyarakat desa tidak memegang dollar, harga kebutuhan pokok mereka tetap ikut terdorong naik ketika rupiah melemah,” tegas Yusuf.

Pelemahan rupiah terasa signifikan di desa

Ia berpandangan, tekanan ekonomi ini kemudian diperparah oleh biaya operasional transportasi serta komponen penting lainnya seperti kesehatan.

"Energi dan distribusi juga terdampak. Ketika kurs melemah, tekanan terhadap BBM dan biaya logistik meningkat. Ini membuat ongkos distribusi barang ke desa lebih mahal, sementara biaya petani mengangkut hasil panen juga ikut naik. Dari sisi kesehatan juga sama, karena sebagian besar bahan baku obat masih impor sehingga harga obat berpotensi ikut naik," tutur dia.

Yusuf menambahkan, struktur pengeluaran yang didominasi oleh pemenuhan kebutuhan primer menjadi alasan utama mengapa hantaman ekonomi dari pelemahan rupiah ini terasa jauh lebih signifikan di tingkat pedesaan.

Baca juga: Rupiah Melemah Lagi, Harga Minyak dan Sentimen Global Jadi Beban

“Kenapa dampaknya lebih berat ke desa? Karena sebagian besar pengeluaran rumah tangga desa memang untuk pangan dan energi. Jadi ketika harga dua komponen itu naik, daya beli mereka lebih cepat tergerus dibandingkan kelompok menengah atas yang punya penghematan dan ruang konsumsi lebih fleksibel,” ujar dia.

Kelas menengah dan bawah paling merasakan dampak

Ekonom sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia Teguh Yudo Wicaksono mengatakan, dampak dari pelemahan rupiah tersebut akan lebih terasa kepada kelas menengah dan bawah.

"Hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki banyak pilihan," ujar dia.

Teguh menjelaskan, terdapat beberapa hal yang perlu diantisipasi terkait pelemahan rupiah.

Baca juga: DPR Tanya BI: Semua Instrumen Dipakai, Rupiah Kok Melemah?

Ilustrasi dampak pelemahan rupiah terhadap dollar AS.SHUTTERSTOCK/MELIMEY Ilustrasi dampak pelemahan rupiah terhadap dollar AS.

Pertama, masyarakat harus memperhatikan dampak dari kenaikan harga barang dan jasa yang disebabkan oleh faktor eksternal (imported inflation).

"Banyak juga barang-barang kita yang impor," ucap dia.

Desa dan kota saling melakukan aktivitas ekonomi

Di sisi lain, Teguh bilang, pelemahan rupiah akan mendorong kenaikan harga-harga produksi.

Sebagai contoh, harga pangan seperti kedelai dan pupuk merupakan komoditas impor.

Baca juga: Rupiah Anjlok ke Level Terendah, Apa Penyebabnya?

Lebih lanjut, Teguh menjelaskan dalam hal ini masyarakat desa juga turut merasakan dampak dari pelemahan rupiah kendati mungkin tidak bertransaksi secara langsung menggunakan dollar AS.

"Tetapi asumsi bahwa warga desa tidak terdampak ini tidak betul. Jangan lupa desa dan kota juga saling melakukan aktivitas ekonomi. Kita kota yang terdampak, desa akan kena juga," ungkap dia.

Tidak hanya itu, Teguh juga menyoroti efek pelemahan rupiah terhadap komponen mesin dan peralatan Pertamina yang juga banyak diimpor.

Kurs rupiah capai Rp 17.663 per dollar AS

Berdasarkan pantauan Kompas.com, nilai tukar rupiah di pasar spot hingga pukul 14.36 WIB berada di level 17.662 atau melemah 65 poin setara 0,37 persen dibandingkan pada saat pembukaan.

Baca juga: Seberapa Buruk Rupiah Bisa Terpuruk?

Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada pukul 12.26 WIB berada di level terendahnya Rp 17.680 per dollar AS.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pelemahan rupiah pada sesi pagi ke siang ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu kembali menguatnya sentimen risk off global pada Jumat.

Ilustrasi uang dollar AS. FREEPIK/PVPRODUCTIONS Ilustrasi uang dollar AS.

Dollar AS menguat cukup signifikan di tengah aksi jual di berbagai instrumen investasi, mulai dari obligasi, saham, kripto, hingga mata uang negara berkembang.

Menurut dia, tekanan pasar muncul setelah investor kecewa terhadap hasil pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump yang dinilai belum memberikan solusi berarti terkait konflik AS-Iran.

Baca juga: Mendagri Minta Kepala Daerah Cek Dampak Pelemahan Rupiah Ke Harga Barang

"Hal ini juga membuat harga minyak mentah dunia kembali naik. Range Rp 17.550 sampai Rp 17.650," ungkap dia.

Selain faktor eksternal, Lukman menilai faktor internal juga turut menyebabkan rupiah melemah hari ini.

Adapun sentimen negatif berasal dari pidato Presiden Prabowo Subianto terkait rupiah.

"Pidato tersebut umumnya direspons negatif investor," kata Lukman.

Baca juga: Saat Rupiah Melemah, Transportasi Umum Dinilai Jadi Jaring Pengaman

Masyarakat desa disebut tak pakai dollar AS

Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menanggapi tren nilai tukar rupiah yang berada dalam tren pelemahan terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Prabowo menuturkan, masyarakat yang berada di desa tidak banyak yang menggunakan dollar AS.

"Saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya tidak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa. Rupiah begini, dollar begini, orang rakyat di desa enggak pakai dollar kok," ungkap dia dikutip dari kanal Youtube KompasTV.

Baca juga: IHSG Anjlok dan Rupiah Terjun: Ini Penyebab Tekanan Pasar Keuangan RI

Ia menambahkan, di tengah dinamika situasi global yang membuat negara lain panik, Indonesia justru terpantau masih stabil dan baik-baik saja.

"Pangan aman, energi aman. Banyak negara panik, Indonesia masih oke," ucap Prabowo.

Sementara itu, Prabowo juga memberikan komentar terkait nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar AS dalam Peresmian Operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih pada Sabtu (16/5/2026).

Prabowo mengungkapkan, efek dari pelemahan kurs rupiah akan lebih dirasakan oleh masyarakat yang kerap bepergian ke luar negeri.

Baca juga: Benarkah Desa Tidak Terdampak Pelemahan Rupiah?

"Mau dollar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa tidak pakai dollar. Yang pusing itu yang suka ke luar negeri. Ayo siapa ini?" ungkap dia.

"Percaya, ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat, orang mau mengomong apa. Indonesia kuat, percaya pada kekuatan kita," tutup dia.

Tag:  #ekonom #pakai #dollar #warga #desa #tetap #terdampak #pelemahan #rupiah

KOMENTAR