Rupiah Tembus 17.700 per Dollar AS, Ibu-ibu Mulai Pangkas Hiburan hingga Makan Tabungan
Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp 17.704 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai terasa di dapur rumah tangga.
Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya sekolah anak, hingga kebutuhan bayi membuat banyak ibu rumah tangga harus memutar otak agar pengeluaran bulanan tetap aman.
Ade Rizky (33), ibu rumah tangga di Bogor dengan dua anak, mulai merasakan perubahan harga kebutuhan pokok dalam beberapa waktu terakhir.
Ade mengatakan kenaikan harga memang belum terlalu tinggi. Namun, kenaikan tersebut cukup mengganggu arus kas rumah tangga jika berlangsung lama.
“Harga kebutuhan pokok sedikit naik, Rp 1.000 sampai Rp 3.000 per kilogram, seperti telur, ayam, dan perbumbuan. Belum signifikan memang, tapi cukup mengganggu cashflow rumah tangga kalau berlangsung lama,” ujar Rizky kepada Kompas.com pada Selasa (19/5/2026).
Baca juga: Rupiah Terkapar, Ditutup di Level 17.706 per Dollar AS, Harga Pangan Bisa Melonjak
Ade mengatakan kenaikan harga seperti itu biasanya lebih sering terjadi menjelang hari besar keagamaan. Namun kali ini, ia menduga pelemahan rupiah ikut memengaruhi harga bahan pangan sehari hari.
Pengeluaran rumah tangga memang membengkak. Meski begitu, Ade mengaku kondisi keuangan keluarganya masih cukup bertahan.
Konsekuensinya, keluarga Ade harus memangkas pengeluaran lain di luar kebutuhan utama.
“Penghematan harus dilakukan. Kami bikin opsi untuk menekan biaya lain seperti hiburan supaya kebutuhan pokok tetap terpenuhi,” katanya.
Ade dan suaminya kini lebih selektif saat berbelanja. Barang yang dibeli benar benar dibatasi pada kebutuhan penting, bukan sekadar keinginan.
“Selain itu kami juga gencar cari barang diskon di marketplace supaya lebih hemat,” ujarnya.
Baca juga: Rupiah Bergetar, Negara Bicara, dan Rakyat Mendengar
Kebutuhan pendidikan anak menjelang tahun ajaran baru masih relatif aman. Ade telah menyiapkan tabungan pendidikan.
Namun, Ade lebih mengkhawatirkan pengeluaran harian jika pelemahan rupiah berlangsung lama dan mulai berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM) maupun bahan makanan.
“Kalau rupiah makin melemah dan memengaruhi harga minyak, bensin, dan makanan pokok dalam waktu lama, itu sangat mengganggu,” ucapnya.
Ade menilai masyarakat kecil justru menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampak kenaikan harga akibat pelemahan rupiah.
“Statement pemimpin bahwa itu tidak berdampak pada masyarakat desa menurut saya salah besar. Justru masyarakat bawah yang paling terasa imbas kenaikan harga,” kata dia.
Kekhawatiran serupa dirasakan Riris P (56), ibu rumah tangga asal Sidoarjo yang memiliki tiga anak.
Riris mengaku pengeluaran belanja harian kini meningkat dibanding sebelumnya.
“Yang biasanya sehari belanja Rp 100.000 sekarang bisa lebih karena bahan kebutuhan pokok pada naik,” ujarnya.
Riris mengatakan pendapatan keluarga saat ini sudah tidak cukup menutup seluruh kebutuhan bulanan.
Ia bahkan harus mengambil tabungan untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga.
“Kebutuhan bukan hanya pangan saja, ada anak sekolah, listrik, dan lainnya,” katanya.
Kebutuhan pendidikan anak menjadi beban yang paling sulit ditekan di tengah kenaikan biaya hidup.
Riris berharap pemerintah lebih memprioritaskan kebutuhan dasar masyarakat, terutama pendidikan.
Ia mengaku keluarganya sudah lama menekan pengeluaran yang tidak penting. Mereka juga mencoba membuka usaha tambahan di luar pekerjaan utama.
Namun, kenaikan harga kebutuhan dinilai terlalu cepat. Pendapatan tambahan pun belum cukup membantu.
“Harga-harga sangat melejit semua,” katanya.
Bagi Riris, kekhawatiran terbesar bukan hanya soal kebutuhan sehari hari, melainkan masa depan pendidikan anak-anaknya.
“Yang kami khawatirkan kondisi anak yang tidak bisa meneruskan ke jenjang sekolah tinggi, sedangkan anak dituntut sekolah lebih tinggi agar bisa mencapai cita-citanya,” ujar dia.
Dwi (37), ibu rumah tangga asal Bogor dengan dua anak, juga mulai merasakan tekanan pengeluaran.
Kebutuhan bayi menjadi pos yang paling terasa naik.
“Karena saat ini saya punya bayi, yang paling dirasakan itu pengeluaran beli popok. Harganya cukup signifikan naiknya, hampir 10 persen,” ujar Dwi.
Dwi mengaku kondisi keuangan keluarganya mulai tertekan. Beberapa kali, ia harus mengambil tabungan maupun dana darurat untuk memenuhi kebutuhan bulanan.
“Sejujurnya tidak cukup. Beberapa kali kami harus mengambil tabungan atau dana darurat,” katanya.
Menurut Dwi, kenaikan biaya hidup kini terjadi hampir di semua sektor, termasuk pendidikan anak.
Ia memperkirakan uang sekolah, buku, hingga seragam akan ikut naik karena biaya operasional sekolah juga meningkat.
“Semua pasti naik, uang sekolah, buku, dan seragam,” ujarnya.
Dwi mulai mengurangi belanja harian dan membatasi aktivitas rekreasi keluarga untuk bertahan.
Namun, kondisi yang paling ia khawatirkan adalah hilangnya kemampuan keluarga untuk menabung dan berinvestasi. Pengeluaran kini lebih besar dibanding pendapatan.
“Yang saya takutkan itu tidak bisa menabung atau investasi karena pengeluaran lebih besar daripada penghasilan,” jelas Dwi.
Tag: #rupiah #tembus #17700 #dollar #mulai #pangkas #hiburan #hingga #makan #tabungan