Trump Didesak Tunda Opsi Militer, Negara Arab Pilih Jalur Diplomasi Iran
– Sejumlah negara Arab meningkatkan upaya diplomatik guna mendorong penyelesaian konflik Iran yang hingga kini masih dibayangi ketidakpastian.
Mereka meminta Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memberi lebih banyak waktu bagi jalur negosiasi sebelum mempertimbangkan langkah militer lanjutan.
Mengutip Bloomberg, Sabtu (23/5/2026), Uni Emirat Arab (UEA) bergabung dengan Arab Saudi dan Qatar dalam menyampaikan seruan kepada Washington agar tidak kembali melancarkan serangan yang berpotensi memperburuk situasi kawasan.
Baca juga: Transaksi Senjata AS-Taiwan Disebut Tidak Terkait dengan Perang Iran
Dorongan serupa juga datang dari Pakistan. Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir tiba di Teheran pada Jumat (22/5/2026) untuk membahas perkembangan negosiasi AS-Iran.
Munir disambut Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni. Menurut pejabat keamanan Pakistan yang mengetahui agenda tersebut, pembicaraan diperkirakan mencakup upaya diplomatik antara Washington dan Teheran.
Ancaman konflik baru masih terbuka
Di tengah manuver diplomasi itu, muncul indikasi bahwa pemerintahan Trump masih mempertimbangkan opsi militer baru.
Axios dan CBS News melaporkan Gedung Putih tengah menyiapkan kemungkinan gelombang serangan tambahan, meski belum ada keputusan final.
Iran merespons keras kemungkinan tersebut. Kantor berita semi-resmi Tasnim mengutip sumber militer yang menyatakan serangan baru dari AS atau Israel dapat memperluas konflik ke "front regional baru".
Baca juga: Perang Iran Tekan Ekonomi, 27 Negara Cari Akses Cepat ke Dana Bank Dunia
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga meningkatkan komunikasi diplomatik dengan sejumlah negara kawasan. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut Araghchi melakukan pembicaraan terpisah dengan mitranya dari Turkiye, Qatar, dan Irak.
Ia juga berbicara dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres terkait perkembangan terbaru proses diplomatik untuk mengakhiri perang.
Sinyal kemajuan negosiasi turut diungkap Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Saat menghadiri pertemuan para menteri luar negeri NATO di Swedia, Rubio mengatakan terdapat sedikit perkembangan dalam pembicaraan.
"Saya tidak ingin melebih-lebihkan, tetapi ada sedikit pergerakan dan itu hal yang baik," kata Rubio kepada media.
Di sisi lain, Trump menilai Iran menunjukkan keinginan mencapai kesepakatan. Namun, Presiden AS itu juga tetap mengancam serangan lanjutan jika Teheran tidak menerima syarat yang diajukan Washington.
Sejak gencatan senjata berlaku enam pekan lalu, Trump beberapa kali menyampaikan optimisme terkait peluang perjanjian damai, tetapi juga berulang kali membuka kemungkinan serangan udara baru.
Helikopter Apache AH-64 terbang saat berpatroli di Selat Hormuz pada 17 April 2026, di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat-Israel, yang berujung blokade jalur air strategis tersebut.
Baca juga: AS dan Iran Gagalkan Kesepakatan Perjanjian Nuklir di Konferensi PBB
Tekanan politik di AS meningkat
Di dalam negeri AS, tekanan terhadap pemerintahan Trump ikut menguat. Lonjakan harga bahan bakar akibat gangguan pasar energi global memicu kekhawatiran publik.
Sejumlah survei menunjukkan meningkatnya penolakan terhadap perang, terutama menjelang pemilu sela yang akan menentukan kendali Kongres AS.
Pekan ini, Senat AS yang dikuasai Partai Republik mulai menunjukkan resistensi terhadap kelanjutan konflik.
Bahkan, pemungutan suara terkait perang yang dijadwalkan berlangsung Kamis (21/5/2026) dibatalkan mendadak setelah absennya sejumlah anggota Partai Republik memunculkan risiko kekalahan politik bagi Trump.
Namun, tidak semua kalangan di Washington mendukung pendekatan diplomatik.
Baca juga: AS Pertimbangkan Perang Lagi, Wilayah Udara Iran Tiba-tiba Kosong
Selat Hormuz jadi batu sandungan
Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, Roger Wicker menilai Trump berisiko mengambil kesepakatan yang tidak cukup menguntungkan AS.
Wicker mendorong militer AS melanjutkan tekanan terhadap kemampuan militer konvensional Iran dan membuka kembali akses penuh di Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi salah satu isu paling sensitif dalam negosiasi. Jalur tersebut merupakan rute vital pasokan energi global.
Iran sebelumnya menyatakan sedang berdiskusi dengan Oman mengenai kemungkinan sistem tarif permanen di Selat Hormuz. Namun, AS menolak gagasan tersebut.
Selain persoalan Hormuz, Washington juga terus mendesak Iran menyerahkan uranium yang telah diperkaya dan menghentikan aktivitas pengayaan uranium setidaknya selama satu dekade.
Iran menolak tuntutan tersebut dengan alasan aktivitas pengayaan merupakan hak yang diatur dalam kesepakatan internasional.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Sepekan Turun, Pasar Cermati Peluang Damai AS-Iran
Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman
Dampak perang mulai merembet
Di tengah situasi tersebut, Jepang yang bergantung pada pasokan energi Timur Tengah mengumumkan pengiriman minyak pertamanya dari Teluk Persia sejak perang dimulai.
Iran juga mengklaim sebanyak 35 kapal melintasi Selat Hormuz dalam sehari terakhir setelah memperoleh izin.
Sementara itu, menurut sumber yang mengetahui langsung perkembangan konflik, Iran disebut telah menghancurkan lebih dari dua lusin drone MQ-9 Reaper milik militer AS sejak perang berlangsung.
Tag: #trump #didesak #tunda #opsi #militer #negara #arab #pilih #jalur #diplomasi #iran