BI Siapkan Insentif KLM agar Bunga Kredit Tak Naik Agresif
Bank Indonesia (BI) menilai insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial atau KLM dapat meredam kenaikan agresif suku bunga kredit dan bunga dana perbankan.
Kebijakan itu disiapkan setelah BI Rate naik menjadi 5,25 persen.
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Dhaha P. Kuantan mengatakan, skema insentif KLM dirancang agar bank tetap menjaga penyaluran kredit.
Skema tersebut juga diarahkan agar bank tidak menaikkan bunga kredit maupun bunga dana secara berlebihan.
Menurut Dhaha, likuiditas perbankan saat ini masih cukup kuat.
Kondisi itu tercermin dari pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga atau DPK yang berada di kisaran 9 persen secara tahunan atau year on year pada April 2026.
“Dengan kondisi itu, target pertumbuhan kredit 8%-12% masih visible untuk tercapai,” ujar Dhaha dalam Pelatihan Wartawan di Makassar, Jumat (22/5/2026).
Baca juga: Rupiah Melemah Hari Ini, Purbaya: Kita Serahkan ke Ahlinya, Bank Indonesia
Dhaha menjelaskan, kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin memang berpotensi mendorong kenaikan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI.
Kenaikan suku bunga acuan juga berpotensi mendorong biaya dana atau cost of fund dan bunga kredit perbankan.
Namun, BI menilai bank tidak akan menaikkan bunga secara agresif karena ada mekanisme insentif KLM.
Skema tersebut memberi insentif likuiditas lebih besar kepada bank yang menjaga spread bunga kredit tetap wajar terhadap BI Rate.
“Kalau spread antara BI Rate dan suku bunga kredit masih sekitar 3%, itu kita anggap masih wajar dan bank akan mendapatkan insentif penuh,” katanya.
Sebaliknya, bank yang menaikkan bunga kredit terlalu tinggi akan menerima insentif lebih kecil.
Insentif bahkan tidak diberikan jika spread terhadap BI Rate melebar signifikan.
“Kalau spread-nya terlalu tinggi, insentifnya akan semakin berkurang bahkan tidak mendapatkan insentif,” ujar Dhaha.
Baca juga: BI Perluas Penempatan DHE SDA Tak Hanya Dollar AS, Kini Bisa Gunakan Yuan China
Menurut Dhaha, pendekatan tersebut dilakukan BI agar transmisi kenaikan suku bunga acuan tetap manageable.
Dengan begitu, kenaikan BI Rate tidak langsung membebani dunia usaha dan debitur.
Dhaha mengatakan, KLM kini juga dirancang lebih forward looking.
Melalui mekanisme baru itu, bank harus lebih dulu menyampaikan komitmen target penyaluran kredit untuk mendapatkan insentif likuiditas.
BI berharap likuiditas yang diberikan benar-benar digunakan untuk mendukung pembiayaan sektor riil.
Likuiditas tersebut tidak diharapkan beralih ke instrumen lain.
Selain menjaga penyaluran kredit, BI memperkuat efektivitas KLM melalui financing to funding channel.
Langkah itu dilakukan untuk menjaga stabilitas pendanaan perbankan.
“Kalau funding-nya kuat, harapannya penyaluran kreditnya juga kuat,” katanya.
Dhaha menambahkan, BI terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan atau OJK, Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS, dan pemerintah.
Koordinasi dilakukan melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau KSSK.
Forum tersebut membahas upaya meredam persaingan special rate bunga dana antarbank.
Menurut Dhaha, special rate perlu turun agar biaya dana perbankan tidak meningkat terlalu tinggi setelah BI Rate naik.
“Di forum KSSK juga kami koordinasi untuk menghimbau special rate ini bisa diturunkan,” imbuhnya.
Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul "BI: Insentif KLM Bakal Redam Kenaikan Bunga Kredit Perbankan Pasca BI Rate Naik", Klik untuk baca: https://nasional.kontan.co.id/news/bi-insentif-klm-bakal-redam-kenaikan-bunga-kredit-perbankan-pasca-bi-rate-naik?source=home_terbaru.
Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari