INDEF: Pelemahan Rupiah Momen untuk Gencarkan Ekspor
Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)
21:08
27 Mei 2026

INDEF: Pelemahan Rupiah Momen untuk Gencarkan Ekspor

Pelemahan nilai tukar rupiah seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor.

Kondisi itu juga seharusnya dapat memperkuat daya saing produk nasional di pasar global.

Namun, peluang tersebut belum tercermin pada kinerja ekspor nasional. Ekspor Indonesia justru mengalami perlambatan pada awal 2026.

Baca juga: Industri Berbasis SDA Diuntungkan Saat Rupiah Melemah

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, mengatakan pelemahan rupiah secara teori dapat membuat harga produk ekspor Indonesia lebih kompetitif dibandingkan negara lain.

“Kalau kita belajar dari China, kenapa mereka mendevaluasi mata uangnya, ya agar harga produknya di pasar global tetap murah,” ujar Tauhid kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2026).

Nilai tukar rupiah terus melemah dalam beberapa bulan terakhir.

Bloomberg mencatat rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.804 per dolar AS pada Selasa (26/5/2026).

Posisi tersebut melemah 0,05 persen dibandingkan penutupan Senin (25/5/2026) di level Rp 17.796 per dolar AS.

Tauhid mengatakan Indonesia memang tidak sengaja melakukan devaluasi mata uang.

Namun, pelemahan rupiah yang terjadi secara alami saat ini seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperbesar ekspor nasional.

“Kita memang tidak mendevaluasi, tapi secara natural rupiah melemah. Harusnya ini menjadi momentum ekspor ditingkatkan, bukan malah turun,” katanya.

Baca juga: Kurs Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.800, Purbaya: Ya Saya Stres

Tauhid menyoroti pertumbuhan ekspor Indonesia yang justru melemah saat rupiah tertekan.

Ia menilai kondisi tersebut berlawanan dengan teori dasar perdagangan internasional.

Secara umum, mata uang domestik yang melemah memberi keuntungan bagi eksportir karena harga produk menjadi lebih murah di pasar global.

“Kalau kita justru pertumbuhan ekspornya turun, ini yang menurut saya kebalik,” ucapnya.

Tauhid menegaskan momentum pelemahan rupiah seharusnya lebih dimanfaatkan untuk memperluas pasar ekspor.

Ia menilai pemerintah dan pelaku usaha tidak semestinya justru memperbesar impor saat rupiah melemah.

“Kalau momen pelemahan rupiah itu seharusnya ekspor yang digencarkan, bukan impor. Karena produk kita menjadi lebih murah dibanding negara lain,” tutur Tauhid.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indonesia pada Maret 2026 sebesar 22,53 miliar dolar AS.

Angka tersebut turun 3,10 persen secara tahunan dibandingkan Maret 2025. Secara kumulatif, total ekspor sepanjang kuartal I 2026 mencapai 66,85 miliar dolar AS.

Penurunan terjadi pada sektor migas dan nonmigas. Ekspor migas tercatat sebesar 1,28 miliar dolar AS, turun 11,84 persen secara tahunan.

Sementara itu, ekspor nonmigas mencapai 21,25 miliar dolar AS, turun 2,52 persen.

Komoditas utama penopang ekspor Indonesia masih berasal dari sektor nonmigas. Komoditas tersebut antara lain minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), batu bara, serta besi dan baja.

Negara tujuan utama ekspor Indonesia meliputi Tiongkok, Amerika Serikat, dan India.

Tag:  #indef #pelemahan #rupiah #momen #untuk #gencarkan #ekspor

KOMENTAR