Trump Desak Selat Hormuz Dibuka, Iran Bahas Kendali Pelayaran
– Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kembali menegaskan syarat utama dalam pembahasan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Trump meminta pembukaan Selat Hormuz untuk pelayaran internasional tanpa tarif maupun pembatasan.
Melalui unggahan di Truth Social pada Jumat (29/5/2026), Trump mengatakan dirinya akan segera mengambil keputusan final terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata yang saat ini berlaku.
Dalam unggahan tersebut, Trump juga mengulang sejumlah "garis merah" yang menjadi syarat Washington, termasuk terkait Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Baca juga: Hakim Minta Nama Trump Dihapus dari Kennedy Center, Dianggap Salahi Wewenang
Menurut Trump, jalur perairan itu harus segera dibuka sepenuhnya bagi kapal-kapal internasional.
“Selat Hormuz harus segera dibuka, tanpa tarif, untuk lalu lintas pelayaran yang tidak dibatasi ke dua arah,” tulis Trump, dikutip dari Yahoo Finance, Sabtu (30/5/2026).
Ia menambahkan ranjau-ranjau laut akan disingkirkan dan kapal-kapal yang masih terdampar akibat konflik dapat kembali berlayar pulang.
Namun, tuntutan tersebut berhadapan dengan sinyal dari Iran yang menunjukkan Teheran belum ingin melepaskan ambisi jangka panjangnya untuk memiliki peran dalam pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melintasi jalur perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Baca juga: Harga Minyak Turun 1,7 Persen Usai Trump Berniat Akhiri Perang Iran
Iran dan Oman bahas masa depan Selat Hormuz
Beberapa jam sebelum unggahan Trump, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengungkapkan hasil pembicaraannya dengan Menteri Luar Negeri Oman.
Menariknya, unggahan Araghchi muncul hampir tepat satu jam sebelum pernyataan Trump dipublikasikan.
Dalam pernyataannya, Araghchi mengatakan kedua negara yang berada di sisi berlawanan Selat Hormuz itu membahas perkembangan kawasan, termasuk masa depan pengelolaan jalur pelayaran tersebut.
"Kami membahas Hormuz dan pengelolaannya di masa depan sesuai dengan tanggung jawab kedaulatan kami dan hukum internasional," tulis Araghchi.
Pernyataan itu dinilai sebagai sinyal lanjutan setelah laporan pekan lalu mengungkap Iran dan Oman sempat membahas kemungkinan pembentukan sistem tarif jangka panjang bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Baca juga: Trump Gelar Rapat Rahasia di Gedung Putih, Tentukan Nasib Perang Iran
Araghchi juga menegaskan solidaritas Iran terhadap Oman dalam menghadapi berbagai ancaman.
Pernyataan tersebut diduga merujuk pada komentar Trump dalam rapat kabinet AS pekan ini yang menyatakan, "Oman akan bertindak seperti semua pihak lainnya, atau kami harus menghancurkannya."
Ancaman sanksi terhadap Oman
Tekanan Washington terhadap Oman tidak berhenti pada pernyataan Trump.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent pada Kamis (28/5/2026) mengatakan pemerintah AS tidak akan ragu menjatuhkan sanksi secara agresif apabila Oman terlibat dalam penerapan tarif bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Ancaman tersebut menjadi perkembangan yang cukup mengejutkan mengingat Oman selama ini dikenal sebagai sekutu lama AS sekaligus mediator penting dalam berbagai perundingan diplomatik di Timur Tengah.
Baca juga: Trump Susun Keputusan Akhir soal Iran, Ada 2 Poin Krusial
Kapal-kapal terlihat mengantre di Selat Hormuz, saat difoto dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026.
Kesepakatan masih menunggu restu Trump
Perkembangan terkait Oman hanya menjadi satu bagian dari negosiasi yang lebih luas antara AS dan Iran yang hingga kini masih memerlukan persetujuan akhir dari Trump.
Sejumlah laporan media internasional menyebut rancangan kesepakatan yang sedang dibahas akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.
Sebagai bagian dari kesepakatan itu, pembatasan pelayaran di Selat Hormuz akan dicabut selama periode tersebut.
Harapannya, masa 60 hari itu dapat dimanfaatkan oleh perunding dari kedua negara untuk membahas isu yang lebih kompleks dan sensitif, termasuk program nuklir Iran.
Meski demikian, ketidakpastian yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir membuat banyak pelaku pasar tetap berhati-hati.
Baca juga: Iran Buka Suara, Sebut Trump Berbohong soal Selat Hormuz
Sejumlah pengamat menilai masih terdapat risiko bahwa kesepakatan awal tersebut gagal tercapai atau sulit dipertahankan apabila hubungan AS dengan negara-negara di kawasan Teluk memburuk.
Analis Pangaea Policy, Terry Haines, mengatakan keberhasilan setiap kesepakatan tidak hanya bergantung pada Trump dan Iran, melainkan juga pada dukungan negara-negara Teluk yang terlibat dalam dinamika kawasan.
Menurut Haines, Oman merupakan salah satu pihak paling penting dalam proses tersebut.
"Tidak ada kesepakatan yang bisa tercapai tanpa dukungan negara-negara Teluk," tulis Haines dalam catatan kepada kliennya.
Tag: #trump #desak #selat #hormuz #dibuka #iran #bahas #kendali #pelayaran