Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Ilustrasi inflasi.(FREEPIK/VWALAKTE)
05:29
2 Juni 2026

Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu

Laju inflasi Indonesia diperkirakan meningkat pada Mei 2026 seiring tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga energi global, serta meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya Idul Adha.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan inflasi Mei 2026 mencapai 0,14 persen secara bulanan (month to month/mtm), sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi April yang sebesar 0,13 persen.

Sementara itu, secara tahunan (year on year/yoy), inflasi diproyeksikan naik menjadi 2,94 persen dari posisi 2,42 persen pada April 2026.

"Untuk inflasi Mei 2026, kami memperkirakan inflasi naik tipis secara bulanan dan naik lebih jelas secara tahunan. Jadi arahnya bukan melemah, melainkan sedikit meningkat karena tekanan biaya mulai lebih terasa ke konsumen," kata Josua kepada Kompas.com pada Selasa (2/6/2026).

Baca juga: Magnifica Humanitas: Refleksi Pengendalian Inflasi di Era Digital

Pelemahan Rupiah dorong kenaikan harga bahan baku impor

Menurut Josua, kenaikan inflasi kali ini lebih banyak didorong oleh faktor biaya produksi dan pasokan dibandingkan peningkatan permintaan masyarakat.

Pelemahan rupiah membuat harga bahan baku impor menjadi lebih mahal, sementara harga energi global yang masih tinggi turut menambah tekanan biaya bagi pelaku usaha.

Selain itu, permintaan musiman menjelang Idul Adha diperkirakan mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.

"Tekanan muncul dari kenaikan biaya bahan baku, depresiasi rupiah yang menaikkan harga input impor, harga energi yang masih tinggi, serta permintaan musiman menjelang Iduladha," kata Josua.

Baca juga: Inflasi Medis Picu Kenaikan Biaya Kesehatan, Bagaimana Nasib Nasabah Asuransi?

Momen Idul Adha dan harga energi

Ia memperkirakan kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) kembali mencatat inflasi karena meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap bahan makanan selama periode Idul Adha.

Di sisi lain, kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) juga berpotensi memberikan tekanan tambahan. Kenaikan harga BBM nonsubsidi, energi, dan tarif angkutan udara dinilai masih mungkin terjadi seiring tingginya biaya avtur dan energi.

Tak hanya itu, inflasi inti juga diprediksi meningkat. Josua memperkirakan inflasi inti naik dari 2,44 persen pada April menjadi 2,50 persen pada Mei 2026.

Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya harga minyak goreng dan biaya input nonpangan akibat depresiasi rupiah.

Baca juga: Harga Emas Dunia Naik, Harapan Perdamaian AS-Iran Redakan Kekhawatiran Inflasi

Penurunan harga emas

Meski demikian, penurunan harga emas diperkirakan menjadi faktor yang menahan kenaikan inflasi inti agar tidak terlalu tinggi.

Menurut Josua, inflasi saat ini masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia. Namun, kualitas tekanan inflasi perlu menjadi perhatian karena mulai berasal dari sisi biaya produksi dan impor.

"Inflasi Mei masih terkendali dalam sasaran BI, tetapi tekanan yang muncul mulai berasal dari biaya produksi dan impor, bukan sekadar permintaan musiman," ujarnya.

Ke depan, risiko inflasi masih cenderung meningkat. Selain pelemahan rupiah dan tingginya harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, pemerintah juga perlu mewaspadai potensi gangguan pasokan pangan akibat cuaca ekstrem.

Josua menilai program pemerintah yang bersifat ekspansif, termasuk peningkatan belanja dan berbagai stimulus ekonomi, juga dapat mendorong permintaan sehingga berpotensi menambah tekanan harga jika tidak diimbangi peningkatan produksi.

Meski demikian, ia memperkirakan inflasi sepanjang 2026 masih dapat dijaga di sekitar 2,72 persen, selama harga BBM bersubsidi tidak mengalami penyesuaian.

"Dengan asumsi harga BBM subsidi tetap ditahan, inflasi akhir tahun masih relatif terkendali. Namun jika risiko dari rupiah, harga minyak, pangan, dan cuaca terjadi bersamaan, tekanan inflasi bisa meningkat lebih tinggi," kata Josua.

Tag:  #inflasi #diprediksi #naik #persen #pelemahan #rupiah #harga #energi #jadi #pemicu

KOMENTAR