PT DSI Resmi Beroperasi, Kadin Soroti Potensi Tambahan Devisa
– Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Alexander Yahya Datuk, menilai mulai beroperasinya PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menjadi langkah positif dalam memperkuat tata kelola ekspor komoditas strategis nasional.
Menurut Alexander, apabila diimplementasikan secara optimal, keberadaan DSI berpotensi mengurangi praktik under-invoicing dan transfer pricing, sekaligus memperbesar manfaat ekonomi dari ekspor sumber daya alam (SDA) bagi Indonesia.
Ia menilai pola tata kelola ekspor seperti yang diterapkan DSI bukan merupakan hal baru dalam praktik perdagangan global.
Baca juga: Ekspor Lewat DSI Dikawal Ketat, Dunia Usaha Minta Transparansi
Ilustrasi ekspor.
Sejumlah negara, kata dia, telah menerapkan model serupa untuk memperkuat pengawasan perdagangan komoditas, meningkatkan transparansi, serta memastikan manfaat ekonomi dari ekspor dapat kembali lebih optimal ke negara asal.
“Secara preseden ternyata pola seperti ini juga sudah dilakukan oleh banyak negara juga ya dan menurut saya secara teori seharusnya ada potensi besar kita untuk bisa reduce atau bahkan menghilangkan masalah transfer pricing dan under-invoicing, dan meningkatkan pendapatan negara devisa negara,” ujar Alexander dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).
Potensi peningkatan devisa negara
Alexander menilai, apabila praktik under-invoicing dan transfer pricing dapat ditekan, maka potensi peningkatan devisa negara akan semakin besar.
Menurut dia, kondisi tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap stabilitas ekonomi nasional, termasuk memperkuat kemampuan menjaga nilai tukar rupiah dan memastikan dana hasil ekspor tersimpan dalam sistem keuangan domestik.
Baca juga: DSI, B50, dan Mahalnya Menjaga Rupiah
Ilustrasi rupiah.
“Kalau under-invoicing atau transfer pricing bisa di-reduce atau bahkan dihilangkan, kita tetap mengejar dengan devisa yang lebih besar daripada yang ini dan itu akan membuat kita punya kemampuan juga untuk bisa menjaga, logikanya kan akan bisa menjaga kurs mata uang kita sekaligus juga memastikan dana itu tersimpan di sistem perbankan nasional,” katanya.
Ia berpandangan bahwa penguatan tata kelola ekspor melalui DSI dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan manfaat ekonomi dari aktivitas ekspor komoditas strategis Indonesia.
Momentum transformasi tata kelola ekspor
Selain berpotensi meningkatkan devisa, Alexander melihat pembentukan DSI dapat menjadi momentum transformasi tata kelola ekspor nasional menuju sistem yang lebih transparan dan berbasis teknologi.
Menurut dia, pengelolaan ekspor ke depan perlu ditopang oleh sistem yang memungkinkan seluruh transaksi tercatat, terdokumentasi, dan dapat diawasi secara lebih baik.
Baca juga: Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Dengan sistem yang terintegrasi, proses pengawasan terhadap transaksi ekspor dinilai dapat berjalan lebih efektif sekaligus mendukung transparansi dalam perdagangan komoditas strategis.
Meski demikian, Alexander menekankan pentingnya masa transisi pada tahap awal operasional DSI.
Menurut dia, periode sekitar tujuh bulan pertama akan menjadi fase krusial untuk membangun sistem, platform, dan infrastruktur pendukung agar mekanisme kerja perusahaan dapat berjalan sesuai target.
“Saya sangat berharap ini bisa jalan, challenge-nya sekarang adalah di enam bulan pertama itu kan adalah periode evaluasi ya sama persiapan transisi sampai sistemnya sudah terbentuk, platformnya terbentuk berarti memang tujuh bulan ke depan harus ada extra effort untuk memastikan platformnya siap, sistemnya siap, infrastruktur untuk bisa berfungsi sesuai dengan yang diharapkan,” jelasnya.
Baca juga: Pengusaha Minta Operasional DSI Transparan, Jangan Tambah Beban Biaya Ekspor
Ilustrasi ekspor.
Tujuh bulan pertama dinilai krusial
Alexander mengatakan, keberhasilan implementasi DSI pada fase awal sangat ditentukan oleh kesiapan manajemen dalam membangun platform dan sistem operasional yang mampu mendukung transaksi secara efektif dan tepat waktu.
Menurut dia, masa awal operasional tidak hanya berfokus pada pengumpulan data dan informasi, tetapi juga menjadi periode penting dalam merancang model kerja perusahaan ke depan.
“Ini kan tujuh bulan pertama ini sangat krusial karena itu adalah proses dimana pertama data collection, informasi data dan kedua mulai membangun platform atau sistem kerja perusahaan itu akan seperti apa, platformnya seperti apa,” ucapnya.
Ia menambahkan, waktu tujuh bulan tergolong singkat untuk membangun platform dan sistem yang akan menjadi fondasi operasional perusahaan.
Baca juga: Purbaya soal Ekspor via PT DSI: Bukan Program Main-main, Presiden Prabowo Awasi Detail
Karena itu, ia berharap manajemen DSI dapat melakukan upaya ekstra agar seluruh target pembangunan sistem dan infrastruktur dapat diselesaikan sesuai tenggat waktu yang telah ditetapkan.
“Dan itu tujuh bulan itu bukan waktu yang lama itu cukup singkat sebenarnya untuk membangun platform seperti itu, jadi upayakan extra effort, manajemennya harus extra effort, kerja keras dan bisa deliver sesuai dengan target deadline yang diberikan. Platformnya sudah harus siap dan berfungsi dengan baik dan bertransaksi dengan efektif,” terang Alexander.
Tag: #resmi #beroperasi #kadin #soroti #potensi #tambahan #devisa