Menhan Sjafrie Sebut Diksi “Deep State” Bak Musuh dalam Selimut, Apa Itu?
- Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyebut, ada musuh dalam selimut yang dia sebut sebagai “deep state” karena tidak menyukai birokrasi di Indonesia kuat.
Diksi tersebut disampaikan Sjafrie saat dia memberikan pengarahan kepada 1.758 peserta Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) Komcad ASN di Artha Hanggar Indonesia, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (3/6/2026).
“Orang-orang di luar Indonesia, bahkan juga ada orang-orang di dalam Indonesia yang kita sebut sebagai deep state. Saya pernah cerita dulu ada musuh dalam selimut, itu adalah tidak suka kalau birokrasi di Indonesia itu kuat,” kata Sjafrie.
Ia mengatakan, para peserta Komcad ASN telah dibekali dasar-dasar bela negara yang dapat menjadi modal untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menjalankan tugas sebagai aparatur negara.
Baca juga: Kemhan RI Jelaskan soal Deep State yang Dimaksud Sjafrie Sjamsoeddin
Sebab, menurut dia, birokrat merupakan bagian penting dari negara yang harus dijaga dari berbagai upaya pelemahan.
“Kenapa harus waspada? Birokrat itu adalah milik negara. Orang-orang di luar tidak ingin birokrasi di Indonesia kuat,” kata Sjafrie.
Karena itu, Sjafrie meminta para ASN Komcad tidak mudah terpengaruh oleh ideologi maupun paham yang bertentangan dengan dasar negara.
Ia menegaskan bahwa Indonesia telah memiliki landasan ideologi yang jelas, yakni Pancasila, serta konstitusi yang berpedoman pada UUD 1945.
Penjelasan
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menjelaskan bahwa diksi “deep state” yang disampaikan Sjafrie bukan merujuk pada kelompok atau institusi tertentu.
“Melainkan sebagai istilah konseptual untuk menggambarkan adanya pihak-pihak di dalam sistem yang dapat menghambat penguatan birokrasi, melemahkan disiplin, dan profesionalisme, dan semangat kebangsaan dari dalam,” kata Rico, kepada Kompas.com, Rabu (3/6/2026).
Baca juga: Prabowo Ikut Makan MBG: Nasinya Enak, Saya Curiga Dapur Dapat Info Presiden Mau Datang
Dalam konteks pengarahan tersebut, kata Rico, Sjafrie menekankan pentingnya kewaspadaan ASN terhadap ancaman internal maupun eksternal yang berpotensi memengaruhi efektivitas pemeriksaan dan ketahanan negara.
“Yang dimaksud musuh dalam selimut dalam konteks ini adalah segala bentuk perilaku, pengaruh, atau kepentingan yang dapat melemahkan integritas birokrasi, menggerus loyalitas kepada negara, atau menghambat terwujudnya birokrasi yang kuat, bersih, dan profesional,” ungkap Rico.
Rico juga menggarisbawahi bahwa Sjafrie tidak mengarahkan ASN untuk mencari tahu identitas “deep state” atau musuh dalam selimut tersebut.
“Melainkan mengingatkan ASN agar selalu waspada terhadap berbagai pengaruh yang dapat menjauhkan aparatur negara dari nilai-nilai dasar kebangsaan, disiplin, integritas, dan pengabdian kepada kepentingan nasional,” tegas dia.
Apa itu deep state?
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember Andang Subaharianto pernah membahas soal “deep state” di kolom Kompas.com.
Andang mengatakan, “deep state” atau negara bayangan/negara dalam negara, merujuk pada jaringan kekuasaan tersembunyi, terdiri atas elemen-elemen di dalam pemerintahan—seperti militer, kepolisian, intelijen, atau birokrat senior—yang beroperasi independen di luar otoritas politik resmi.
Baca juga: Aksi Prabowo Bawa Ayam Goreng MBG, Sebut jika 1 Ekor Dipotong Jadi 14, Berarti Dosa
Mereka memiliki kekuatan besar untuk membentuk kebijakan dalam negeri maupun luar negeri. Mereka memiliki agenda sendiri.
Bahkan, mereka mampu melawan atau menghambat kebijakan resmi, dan seringkali tidak akuntabel kepada publik.
Birokrasi dinilai sebagai bagian penting dari “deep state”, karena birokrasi dibutuhkan dalam implementasi kebijakan pemerintah.
Tag: #menhan #sjafrie #sebut #diksi #deep #state #musuh #dalam #selimut