Jawab “Pesta Babi”, Amran: Kita Pesta Panen, Bukan Ketergantungan Impor
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat memberikan sambutan dalam acara panen raya dan pengumuman swasembada beras di Kecamatan Cilebar, Karawang Timur, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).(Tangkap Layar Youtube Sekretariat Presiden)
17:56
4 Juni 2026

Jawab “Pesta Babi”, Amran: Kita Pesta Panen, Bukan Ketergantungan Impor

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menanggapi film dokumenter Pesta Babi yang menyoroti pembukaan lahan atau deforestasi di Merauke, Papua, untuk proyek pangan.

Amran menilai narasi dalam film tersebut menutupi upaya pemerintah membangun ketahanan pangan nasional.

Menurut dia, pemerintah selama ini mencetak sawah dan mengoptimalkan lahan di berbagai daerah, seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan.

Lahan tersebut diklaim menjadi produktif dan bisa panen hingga tiga kali dalam setahun.

Baca juga: Dandhy Nilai Polemik Pelaporan Film Pesta Babi Menggeser Isu Papua

Pernyataan itu disampaikan Amran dalam kuliah umum yang diikuti 500 mahasiswa Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (3/6/2026).

“Kenapa tidak melihat Kalimantan Selatan yang rawa-rawanya kami sulap menjadi lahan produktif hingga bisa tanam tiga kali setahun? Kenapa tidak melihat Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Aceh, dan Sulawesi Selatan?” kata Amran, dikutip dari keterangan resmi, Kamis (4/6/2026).

Menurut Amran, pengembangan lahan pertanian di Merauke merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Ia mengeklaim lahan yang dibangun pemerintah tidak ditujukan untuk kepentingan tertentu, tetapi menyasar petani dan masyarakat.

“Yang kami lakukan di Merauke untuk rakyat. Kami membangun optimalisasi lahan, menyediakan irigasi, menyerahkan alat dan mesin pertanian, serta meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat,” ujar Amran.

Baca juga: Dilaporkan Soal Film Pesta Babi, Dandhy Ungkit Dukungannya ke Mama Sinta

Amran menyebut program cetak sawah di Merauke terbukti mampu menekan harga beras di pasar setempat.

Menurut dia, harga beras di Merauke turun dari Rp 30.000 menjadi Rp 13.000 per kilogram.

Amran menduga tudingan terhadap program tersebut tidak lepas dari kepentingan tertentu yang tidak ingin Indonesia mencapai swasembada pangan.

“Ketika Indonesia masih impor pangan, semua diam. Tidak ada yang membuat narasi seperti ini. Tetapi ketika kita bergerak menuju swasembada, justru muncul berbagai tudingan dan fitnah,” tutur Amran.

“Padahal yang kami bangun bukan hutan, melainkan lahan rawa yang dioptimalkan untuk produksi pangan,” tambahnya.

Dokumenter Pesta Babi menyoroti praktik deforestasi di Merauke untuk program pertanian padi, perkebunan tebu, kelapa sawit, hingga peternakan sapi.

Film tersebut mengkritik pembelian hutan adat dengan harga murah serta persoalan lingkungan dalam upaya memenuhi produksi beras, B50, dan bioetanol.

Lahan hutan atau rawa yang dibuka kemudian disebut dikelola oleh perusahaan tertentu.

Film Pesta Babi telah diputar di berbagai forum dengan skema nonton bareng, baik di dalam maupun luar negeri.

Di YouTube, film tersebut sudah ditonton 13 juta kali dalam 13 hari.

Tag:  #jawab #pesta #babi #amran #kita #pesta #panen #bukan #ketergantungan #impor

KOMENTAR