SBY: Jika Dunia Gagal Capai Net Zero Emissions, Masa Depan Gelap
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjadi pembicara dalam Supermentor yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Selasa (14/4/2026).()
21:44
4 Juni 2026

SBY: Jika Dunia Gagal Capai Net Zero Emissions, Masa Depan Gelap

Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY memperingatkan risiko besar jika dunia gagal mencapai target net zero emissions.

Menurut SBY, kegagalan menekan laju perubahan iklim dapat membuat masa depan dunia menjadi gelap.

Hal itu disampaikan SBY saat memberi sambutan dalam peluncuran Green Indonesia Future Initiative atau GIFT di Gedung Bappenas, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

GIFT merupakan inisiatif kolaborasi antara pemerintah Indonesia dan Global Green Growth Institute atau GGGI.

"Menyelamatkan bumi itu bukan hanya pilihan, keharusan. Kalau kita hanya sekadar menjalankan Paris Climate Agreement business as usual, masa depan kita gelap. Tidak ada jalan tengah, gagal atau sukses," kata SBY.

Baca juga: Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025

SBY mengatakan, komitmen yang telah disepakati melalui berbagai forum internasional harus segera diwujudkan dalam tindakan nyata.

Ia menilai upaya menekan laju perubahan iklim tidak bisa ditunda.

SBY memperingatkan kegagalan dunia mencapai target net zero emissions dapat memicu bencana besar.

Dampaknya, menurut dia, akan dirasakan generasi saat ini.

Karena itu, SBY mendorong negara-negara maju mengambil peran kepemimpinan lebih besar dalam penanganan perubahan iklim.

Namun, ia juga menekankan negara berkembang harus meningkatkan kontribusinya.

"Rich countries, developed countries must take the lead. But emerging markets, developing countries must also do more. Inilah fair collaboration yang harus dibangun dan ini masih tetap relevan," tuturnya.

Baca juga: Menunda Net Zero Picu Gelombang Panas Ekstrem, Wilayah Dekat Khatulistiwa Paling Terdampak

SBY juga menyinggung kemandekan kerja sama global dalam penanganan perubahan iklim.

Menurut dia, agenda global untuk mengatasi perubahan iklim dan mendorong pembangunan berkelanjutan kini menghadapi tantangan karena perhatian banyak negara tersita oleh konflik geopolitik.

"Sekarang ini sepertinya ada kemandekan, ada setback kerjasama multilateral, kolaborasi sedunia untuk combating climate change karena urusan geopolitik, karena urusan perang di Ukraina, di Timur Tengah, ketegangan di Laut China Selatan dan sebagainya," ujar SBY.

Meski begitu, SBY meyakini dunia pada akhirnya akan kembali memberi perhatian pada agenda besar yang menyangkut masa depan umat manusia.

Agenda tersebut mencakup upaya menyelamatkan bumi dari dampak perubahan iklim, mengurangi kemiskinan, dan membangun kolaborasi global.

"But I do believe someday ketika urusan geopolitik dan perang ini mereda, dunia akan kembali kepada agenda besarnya menyelamatkan bumi kita, mengurangi kemiskinan, dan berkolaborasi untuk kemakmuran, keadilan, dan kepentingan bangsa-bangsa sedunia," ucapnya.

SBY menilai peluncuran GIFT menjadi langkah positif di tengah tantangan global tersebut.

Menurut dia, inisiatif yang mendorong pertumbuhan hijau dan pembangunan berkelanjutan perlu terus diperkuat meski situasi geopolitik dunia sedang tidak menentu.

SBY juga menegaskan Indonesia tidak boleh tertinggal dalam transisi menuju ekonomi hijau dan target dunia menuju net zero emissions.

Menurut dia, keterlambatan beradaptasi dengan tren pembangunan berkelanjutan dapat membuat Indonesia kehilangan momentum pada masa depan.

"Kalau kita terlambat menjadi bagian menuju net zero emission, kita akan tertinggal," kata SBY.

Tag:  #jika #dunia #gagal #capai #zero #emissions #masa #depan #gelap

KOMENTAR