Peritel Hadapi Tekanan Ganda, Daya Beli Lemah dan Harga Berpotensi Naik
Pelaku usaha ritel menghadapi tekanan yang semakin berat pada 2026.
Daya beli masyarakat belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Pada saat yang sama, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai mendorong kenaikan biaya yang berpotensi berujung pada penyesuaian harga barang di tingkat konsumen.
Presiden Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), Anggara Hans Prawira, mengakui kondisi tersebut menjadi tantangan nyata bagi industri ritel nasional.
Menurut Hans, tekanan terhadap nilai tukar rupiah mulai berdampak pada pemasok yang kesulitan menahan harga produk.
"Saya kira pertama yang mungkin kita sama-sama tahu, daya beli kita saat ini juga tidak dalam kondisi yang lebih baik dibanding tahun lalu,” ujar Hans usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Kamis (4/6/2026).
“Di samping tentunya kita semua tahu exchange rate dolar AS yang terus menguat, dan melemahnya rupiah," kata dia.
Baca juga: Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Ada Tekanan pada Rupiah dan Daya Beli
Hans mengatakan sejumlah pemasok telah memberi sinyal mengenai kemungkinan kenaikan harga dalam waktu dekat.
Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya biaya yang harus ditanggung pemasok.
"Ini yang terus terang tantangan buat kita karena beberapa supplier sepertinya juga tidak akan mampu lagi menahan harga,” ujarnya.
“Jadi kami juga dapat informasi dari beberapa supplier mengenai kemungkinan terjadinya kenaikan harga," lanjutnya.
Hans menilai kondisi tersebut semakin berat karena terjadi saat daya beli masyarakat masih relatif lemah.
"Jadi kita bisa bayangkan di tengah daya beli yang relatif tidak cukup kuat, tapi harga kemungkinan juga tidak bisa bertahan di level sekarang," ujar Hans.
Meski demikian, Alfamart berupaya menjaga kinerja dengan memanfaatkan data pelanggan.
Data tersebut digunakan untuk menghadirkan promosi yang lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan konsumen.
"Jadi menurut saya tantangan yang obvious, yang nyata, yang harus kita hadapi. Terus pertanyaannya bagaimana kita menghadapi itu? Kita tentunya berusaha untuk bisa, pertama, lebih mengenal konsumen dengan data yang kita miliki," tuturnya.
Baca juga: Purbaya soal IHSG Anjlok: Jangan Takut, Daya Beli Masyarakat Masih Kuat
Menurut Hans, pemanfaatan data membuat perusahaan bisa memahami pola belanja konsumen.
Dengan begitu, perusahaan dapat menawarkan program promosi yang lebih efektif untuk menjaga loyalitas pelanggan.
"Kita percaya bahwa data itu bisa membuat kita punya visibilitas lebih bagus mengenai konsumen kita, sehingga bisa memberikan penawaran yang lebih relevan,” kata dia.
“Ini kalau kita bicara kondisi susah, tapi kita berusaha untuk memberikan promosi-promosi yang bisa meningkatkan loyalitas pelanggan kita. Sekali lagi, promosinya bukan sekadar promosi, tapi kita berbasis data," ujar Hans.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sekaligus Corporate Affairs Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Solihin, menilai dampak pelemahan rupiah terhadap sektor ritel sudah mulai terasa.
"Dampaknya nyata. Bukan disinyalir lagi, memang terjadi adanya rencana peningkatan harga dari para supplier. Artinya pengusaha-pengusaha ritel juga akan meningkatkan harganya," ujar Solihin.
Terkait potensi penurunan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga barang, Solihin menilai kondisi tersebut sudah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
"Penurunan daya beli kan bukan hal baru sekarang. Kemarin-kemarin juga begitu," katanya.
Meski menghadapi berbagai tekanan, Aprindo meminta pelaku usaha tetap optimistis menghadapi situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian.
"Begini, siapapun pengusaha pada saat ini, kita tahu dan kita siap-siap menghadapi suatu kondisi," ujar Solihin.
Solihin mengatakan asosiasi terus mendorong anggotanya tetap menjaga optimisme di tengah tantangan ekonomi dan volatilitas nilai tukar.
"Kita asosiasi terus memberikan semangat. Jangan sampai kondisi begini kita enggak semangat malah parah lagi. Semangat terus," katanya.
Solihin berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi, khususnya nilai tukar rupiah, agar dunia usaha memiliki kepastian dalam menjalankan bisnis.
"Harapan kita semua, ya sebaiknya ketemu pemerintah. Mengharapkan kondisinya stabil. Enggak bikin orang jantungan. Naik-turun terus begitu. Harus stabil," tutupnya.
Tag: #peritel #hadapi #tekanan #ganda #daya #beli #lemah #harga #berpotensi #naik