Bekas Klinik Peninggalan Belanda Dimanfaatkan Jadi Kebun Lidah Buaya, Nyiramnya Bisa Lewat HP
Kebun lidah buaya KWT Sumber Boga di Padukuhan Tamanan, Kalasan, Sleman. (Dok. KWT Sumber Boga)
08:28
6 Juni 2026

Bekas Klinik Peninggalan Belanda Dimanfaatkan Jadi Kebun Lidah Buaya, Nyiramnya Bisa Lewat HP

Kebun lidah buaya di Padukuhan Tamanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki pemandangan yang tidak biasa. Hamparan tanaman hijau itu tumbuh di lahan yang dulunya merupakan klinik kesehatan peninggalan Belanda.

Bangunan bersejarah tersebut adalah Klinik Pabrik Gula Randugunting yang berdiri pada 1870. Dulu, fungsinya adalah untuk melayani karyawan pribumi yang bekerja di Pabrik Gula Randugunting dan masyarakat sekitar.

Klinik ini terdiri dari tiga bangunan utama antara lain, yaitu bangsal perawatan, kantor, dan rumah dinas mantri. Tenaga kesehatan terdiri dari satu orang mantri dan dua perawat.

Kondisi eks Klinik Pabrik Gula Randugunting yang berdiri pada 1870 di Padukuhan Tamanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Suara.com/Irwan Febri)Kondisi eks Klinik Pabrik Gula Randugunting yang berdiri pada 1870 di Padukuhan Tamanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Suara.com/Irwan Febri)

Krisis ekonomi yang melanda pada 1930-an terpaksa membuat Klinik Pabrik Gula Randugunting berhenti beroperasi. Saat ini, klinik tersebut menjadi bagian dari jaringan rumah sakit pembantu milik Rumah Sakit (RS) Petronella, yang kini bernama RS Bethesda.

Setelah tak berfungsi, klinik ini terbengkalai. Halamannya dipenuhi semak belukar yang menutupi keberadaan bangunan-bangunan bersejarah tersebut.

Namun, kini halaman klinik peninggalan Belanda itu terlihat bersih dan kembali menghijau, lantaran disulap menjadi kebun lidah buaya yang dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber Boga.

 Ketua KWT Sumber Boga, Nurul Komariyah, ketika menjenguk kebun lidah buaya. (Suara.com/Irwan Febri)Ketua KWT Sumber Boga, Nurul Komariyah, ketika menjenguk kebun lidah buaya. (Suara.com/Irwan Febri)

"Dulu kan di sini ada pabrik gula zaman Belanda, cerobongnya masih. Kliniknya di sini, sama Randugunting. Dulu pernah ada dari Belanda langsung ke sini, beberapa tahun yang lalu. Mereka napak tilas," kata Ketua KWT Sumber Boga, Nurul Komariyah, kepada Suara.com.

"Dulu depan rumah sakit itu semua semak belukar. Bekas tanaman toga, obat-obatan. Kan kami pakai tahun 2018-2019 itu dibersihkan kemudian izin untuk dipakai," lanjutnya.

Awalnya, kebun lidah buaya KWT Sumber Boga tidak berada di halaman klinik peninggalan Belanda, tetapi di sebuah lahan kecil desa. Dikarenakan bibit yang beranak pinak menjadi begitu banyak, alhasil dipindahkan ke lahan yang sekarang.

Kebun lidah buaya KWT Sumber Boga di Padukuhan Tamanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Suara.com/Irwan Febri)Kebun lidah buaya KWT Sumber Boga di Padukuhan Tamanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Suara.com/Irwan Febri)

"Dulu kan kami waktu belajar, kami beli 200 bibit. Kami tanam di lahan Pak Dukuh, pojok desa sana. Itu semakin lama beranak pinak, otomatis butuh lahan banyak," ungkap Nurul.

"Akhirnya Pak Dukuh nembung lahan Bethesda untuk nanam itu. Itu kan kurang lebih 900-1000 meter persegi dan kemudian dipindah ke situ," lanjutnya.

Di lahan seluas 1.000 meter persegi itu, kini tumbuh sekitar 1.200 tanaman lidah buaya yang dikelola ibu-ibu rumah tangga dari Padukuhan Tamanan.

Dulu Angkat-angkat Ember, Sekarang Tinggal Klik Pakai HP

KWT Sumber Boga memiliki anggota lebih dari 100 orang. Di lahan kebun yang luas itu, ibu-ibu kerap bergotong royong membawa ember untuk menyirami tanaman lidah buaya.

Kegiatan ini berlangsung selama bertahun-tahun sejak berpindah ke halaman bekas klinik itu pada 2019. Tentu banyak tenaga dan waktu yang dihabiskan untuk menyirami kebun lidah buaya.

"Sebelum ada pengairan itu, kami menggerakkan ibu-ibu. Hampir satu atau dua minggu sekali, bawa ember nanti jejer-jejer deket selokan itu. Diranting, satu planter bag itu satu ember kecil," kenang Nurul.

"Selama ini gitu, manual. Capek iya. Capek tanaga, capek perkewuh mengumumkan juga," lanjutnya.

Perubahan besar akhirnya datang pada 2024. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menyalurkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) yang dimanfaatkan KWT Sumber Boga untuk meningkatkan sarana dan prasarana kebun.

Sistem pengairan otomatis  KWT Sumber Boga di Padukuhan Tamanan, Kalasan, Sleman. (Dok. KWT Sumber Boga)Sistem pengairan otomatis KWT Sumber Boga di Padukuhan Tamanan, Kalasan, Sleman. (Dok. KWT Sumber Boga)

Sebagian dana CSR BRI dialihkan untuk membuat Irigasi IoT (Internet of Things), sistem pengairan cerdas yang memanfaatkan sensor dan perangkat terhubung untuk penyiraman otomatis.

Sehingga, kini KWT Sumber Boga tidak angkat-angkat ember lagi. Cukup lewat handphone atau HP, kebun seluas 1.000 meter persegi itu bisa sirami dengan mudah dan efisien.

"Pakai smart IoT, tinggal pencet saja. Saya sambil masak saja nyalakan bisa, sudah mengalir. Saya mau di Semarang, mau di Jakarta juga bisa langsung," ujar Nurul.

"Jadi, sangat bermanfaat. Apalagi kalau musim kemarau sangat bermanfaat," imbuhnya.

Kebun Terawat, Ekonomi Warga Meningkat

Adanya teknologi penyiraman otomatis membuat tenaga ibu-ibu KWT Sumber Boga bisa teralihkan ke kegiatan lainnya, seperti pembuatan produk-produk untuk dipasarkan.

Saat ini, produk unggulan KWT Sumber Boga adalah minuman lidah buaya dengan aneka rasa. Kemudian, ada permen, keripik, hingga sabun.

Contoh produk dari KWT Sumber Boga. (Suara.com/Irwan Febri)Contoh produk dari KWT Sumber Boga. (Suara.com/Irwan Febri)

Kepala Dukuh Tamanan, Hasto Sri Wibowo, menjelaskan bahwa UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) berkembang di bawah pengelolaan KWT Sumber Boga dengan jumlah saat ini mencapai 22.

Warga diberikan kesempatan untuk membuat produk. Kemudian, KWT Sumber Boga nantinya akan membantu dalam hal pemasaran dan lain sebagainya.

Kepala Dukuh Tamanan, Hasto Sri Wibowo, ketika ditemui di kediamannya. (Suara.com/Irwan Febri)Kepala Dukuh Tamanan, Hasto Sri Wibowo, ketika ditemui di kediamannya. (Suara.com/Irwan Febri)

"Dengan adanya KWT ini sekarang sudah terkumpul sekitar 22 UMKM di Tamanan. Tadinya kan enggak ada," kata Hasto.

"Yang usaha-usaha kami kumpulkan, mau buat kripik dan lainnya, kami bantu pemasaran. Ada event-event kami munculkan semua," imbuhnya.

Berkembangnya UMKM di bawah KWT Sumber Boga turut diakui berdampak pada geliat ekonomi warga desa. Sehingga diharapkan mampu menciptakaan masyarakat yang semakin mandiri secara ekonomi.

"Iya berdampak ke ekonomi warga itu jelas," tegas Hasto.

"Saya harapannya simpel, warga saya tumbuh mandiri. Tidak kebergantungan dengan bantuan. Biar mereka usaha dan kita ikhtiar," lanjut pria asal Sleman itu.

Dari halaman klinik peninggalan Belanda yang pernah terbengkalai, kini tumbuh ribuan tanaman lidah buaya yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Jejak sejarah yang nyaris terlupakan perlahan menemukan kehidupan baru melalui tangan-tangan ibu rumah tangga KWT Sumber Boga yang merawatnya setiap hari.

Editor: Irwan Febri

Tag:  #bekas #klinik #peninggalan #belanda #dimanfaatkan #jadi #kebun #lidah #buaya #nyiramnya #bisa #lewat

KOMENTAR