Stok Minyak Dunia Menipis, OPEC+ Mau Tambah Produksi: Harga Siap Melonjak?
Ditengah ketidakpastian geopolitik yang kian meruncing, aliansi produsen minyak mentah dunia, OPEC+, dilaporkan bersiap menyepakati kenaikan target produksi minyak bumi untuk keempat kalinya dalam empat bulan terakhir pada pertemuan hari Minggu ini.
Berdasarkan informasi dari tiga sumber internal lingkaran OPEC+ dalam laporan Reuters, kebijakan ini tetap digulirkan meskipun eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi hambatan besar bagi sejumlah negara anggota untuk mengoptimalkan kapasitas pompa mereka.
Operasi militer yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah tersebut telah memotong jalur distribusi logistik energi global, terutama arus pelayaran kapal tanker yang melewati Selat Hormuz.
Dampaknya, dunia kini dihadapkan pada krisis pasokan minyak mentah terbesar sepanjang sejarah, di mana negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi mengalami kesulitan fatal untuk memenuhi pesanan ekspor dari para pelanggannya secara penuh sejak akhir Februari lalu.
Saat kabar ini ditulis, harga minyak dunia melemah 2,69% dalam 24 jam dan berada di kisaran US$ 90,5. Sementara, harga minyak Brent bertahan di US$ 93.
Kondisi internal blok negara eksportir ini kian tertekan menyusul keputusan mengejutkan dari Uni Emirat Arab (UEA) yang memilih keluar (exit) dari keanggotaan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) setelah membina kemitraan selama hampir 60 tahun.
Bagi para pelaku pasar komoditas dan generasi muda berusia 18-45 tahun di kota-kota besar Indonesia yang memantau pergerakan harga bahan bakar serta inflasi makro, dinamika geopolitik ini menjadi sinyal kuat adanya volatilitas tinggi pada sektor hulu energi global.
Secara kronologis, tujuh negara anggota inti dari pakta kelompok OPEC+—yang mengintegrasikan negara-negara OPEC dengan produsen sekutu termasuk Rusia—sebelumnya telah sepakat mengerek kuota produksi mereka untuk periode April hingga Juni sebesar hampir 600.000 barel per hari (barrels per day/bpd).
Namun, kalkulasi di atas kertas tersebut berbanding terbalik dengan realitas di lapangan. Data resmi yang dirilis oleh OPEC menunjukkan bahwa volume produksi riil kelompok ini justru mengalami penurunan drastis akibat pemangkasan ekspor paksa oleh negara-negara Teluk yang terdampak langsung blokade perang.
Sepanjang bulan April, rata-rata pasokan riil merosot ke angka 33,19 juta bpd, berbanding jauh dari perolehan bulan Februari yang sempat menyentuh level 42,77 juta bpd.
Pada pertemuan krusial hari Minggu ini, ketujuh negara anggota inti diproyeksikan akan mengesahkan penambahan target pasokan baru sebesar 188.000 bpd yang mulai berlaku efektif pada Juli mendatang.
Formulasi angka ini setara dengan besaran penyesuaian pada bulan Juni, yang sengaja dikoreksi turun dari rencana kenaikan bulanan awal sebesar 206.000 bpd pada Mei dan April guna merespons dampak hilangnya kuota produksi pasca-hengkangnya UEA.
Mengingat sensitivitas isu ekonomi ini terhadap pergerakan bursa saham dan komoditas internasional, seluruh sumber informasi menolak identitasnya dipublikasikan kepada media karena kesepakatan final dari forum menteri tersebut masih bersifat dinamis sebelum ketok palu resmi.
Sebagai catatan, tujuh dari total 21 negara anggota OPEC+ yang dijadwalkan menggelar pertemuan khusus hari Minggu ini meliputi:
- Arab Saudi
- Rusia
- Irak
- Kuwait
- Aljazair
- Kazakhstan
- Oman
Meskipun sidang pleno tingkat menteri OPEC+ secara menyeluruh juga dijadwalkan berlangsung pada hari yang sama, sejumlah analis dan sumber internal memperkirakan agenda besar tersebut tidak akan melahirkan perubahan radikal pada arah kebijakan makro organisasi.
Tag: #stok #minyak #dunia #menipis #opec #tambah #produksi #harga #siap #melonjak