Wamentan: Saya Produk Makan Bergizi dan Minum Susu
- Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono alias Mas Dar, mengaku menjadi produk makan bergizi dan minum susu.
Pernyataan itu Mas Dar sampaikan dalam peringatan Hari Susu Nasional di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Mas Dar menceritakan, sejak kecil ia tidak mengkonsumsi susu. Dirinya baru mulai minum susu saat mengenyam pendidikan di SMA Taruna Nusantara (Tarnus), Magelang, Jawa Tengah.
“Mulai SMA saya minum susu sampai sekarang. Saya bahkan dalam tiga tahun naik 14 sentimeter karena minum susu dan makan bergizi," kata Mas Dar sebagaimana dikutip dari keterangan resmi.
Baca juga: Wamentan: Ada Komitmen Investasi Puluhan Ribu Ekor Sapi
Mas Dar diketahui merupakan anak petani yang tidak memiliki lahan di Grobogan, Jawa Tengah. Di kampung, hari-harinya diisi dengan memikul pakan untuk ternak sapi.
Oleh karena itu, kata Mas Dar, ia akan melawan pandangan negatif terhadap Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program unggulan Presiden Prabowo Subianto.
“Jadi kalau orang ngomong apapun negatif tentang MBG, tentang susu, saya adalah orang produk dari makan bergizi dan produk dari minum susu,” ucap Mas Dar.
Mas Dar menjelaskan, manfaat minum susu tidak terlihat seketika tapi secara secara jangka panjang meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Adapun susu menjadi salah satu sumber protein yang dianggap penting pemerintah dan menjadi menu program MBG.
"Minum susu hari ini printarnya enggak langsung besok. Tapi pinternya itu nanti bertahap, lama-lama jadi tambah pintar, orangnya tambah kuat dan seterusnya. Jadi memang protein, protein, protein," ujar Mas Dar.
Sebagai orang dekat Presiden Prabowo, Mas Dar melihat gagasan mendorong konsumsi susu sudah lama menjadi perhatian Ketua Umum Partai Gerindra itu.
Sebelum menjabat Menteri Pertahanan maupun presiden, Prabowo mencetuskan program pemenuhan gizi melalui minum susu. Program itu bernama Gerakan Revolusi Putih di Parta Gerindra.
“Jadi memang sudah lama perhatian terhadap susu dan gizi masyarakat ini," ucap Mas Dar.
Ia mengakui, saat ini salah satu tantangan Indonesia adalah meningkatkan konsumsi susu per kapita bagi anak-anak.
Di sisi lain, pemerintah juga dihadapkan pada keterbatasan populasi sapi perah yang mengakibatkan produksi susu nasional tidak mencukupi kebutuhan. Akhirnya, sebagian besar susu tanah air diimpor dari luar negeri.
Menurutnya, teknologi reproduksi dan stok bibit sapi dalam negeri sudah memadai. Namun, jumlah populasi sapi perah masih jauh dari cukup.
"Kita ini kurang sapi induknya. Kalau sperma kemudian bank spermanya kita sudah punya banyak. Baik daging maupun susu, yang kurang itu adalah sapi hidupnya. Memang mesti kita datangkan," tuturnya.
Baca juga: Kemenko Pangan Hidupkan Lagi Semangat Minum Susu Lewat Program Makan Bergizi Gratis
Saat ini, pemerintah mendorong investasi peternakan sapi perah, baik kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta.
Dalam beberapa waktu terakhir, terdapat komitmen investasi dengan mendatangkan puluhan ribu ekor sapi.
"Sudah beberapa ada komitmen, ada yang 10 ribu ekor, ada yang 5 ribu ekor,” ucap Mas Dar.
Sebagai informasi, Indonesia membutuhkan populasi 2 juta ekor sapi perah untuk agar tidak lagi mengimpor susu.
Kementerian Pertanian mencatat, saat ini populasi sapi perah dalam negeri baru 540.657 ekor.
Di sisi lain, produktivitas sapi perah di Indonesia juga jauh lebih kecil dibandingkan negara asalnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, setiap satu ekor sapi perah rata-rata menghasilkan 12,5 liter susu per hari. Padahal, di negara asal sapi itu bisa menghasilkan 30 liter susu per hari.