IHSG Sesi I Anjlok 2,87 Persen, Rupiah Dekati Rp 18.200 Per Dollar AS
– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi pertama, Senin (8/6/2026), dengan pelemahan tajam di tengah tekanan yang melanda pasar keuangan global dan melemahnya nilai tukar rupiah.
Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 12.00 WIB, IHSG merosot 160,459 poin atau 2,87 persen ke level 5.434,306. Sementara itu, indeks LQ45 turun 15,427 poin atau 2,77 persen ke posisi 542,318.
Pelemahan terjadi secara luas di pasar saham. Sebanyak 646 saham tercatat turun, sementara hanya 88 saham yang menguat dan 79 saham bergerak stagnan.
Baca juga: Saham Bank Besar Anjlok, BBCA dan BBRI Cetak Level Terendah 5 Tahun
Aktivitas perdagangan terbilang ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 1,37 juta kali. Total volume perdagangan mencapai 20,24 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 12,92 triliun.
Seluruh 11 sektor saham berada di zona merah. Tiga sektor yang mencatat penurunan terdalam yakni sektor kesehatan yang melemah 6,01 persen, sektor infrastruktur turun 4,72 persen, dan sektor barang konsumsi siklikal yang terkoreksi 3,99 persen.
Di jajaran saham unggulan LQ45, tekanan terbesar dialami PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang anjlok 11,96 persen ke level Rp 2.430 per saham. Selain itu, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) turun 7,14 persen menjadi Rp 2.080 dan PT Indosat Tbk (ISAT) melemah 6,12 persen ke Rp 1.765.
Sementara itu, sejumlah saham masih mampu mencatat penguatan. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 5,99 persen ke Rp 460, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menguat 4,64 persen ke Rp 1.465, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) bertambah 1,22 persen ke Rp 3.330.
Baca juga: IHSG Masih Tertekan, Kapan Investor Bisa Mulai Akumulasi Saham?
Adapun saham-saham dengan penurunan terdalam atau top losers pada sesi pertama antara lain PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) yang merosot 14,88 persen ke Rp 103, PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) turun 14,78 persen ke Rp 196, dan PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR) yang melemah 14,20 persen ke Rp 145.
Rupiah Semakin Tertekan
Tekanan di pasar saham sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Mengutip data Bloomberg, pada pukul 11.55 WIB rupiah berada di level Rp 18.187 per dollar AS, melemah 151 poin atau 0,84 persen dibandingkan posisi penutupan Jumat (5/6/2026).
Dengan posisi tersebut, mata uang Garuda semakin mendekati level psikologis Rp 18.200 per dollar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.
Dari faktor eksternal, rupiah tertekan oleh penguatan dollar AS yang berlangsung sejak Jumat malam. Menurut dia, penguatan dollar AS didorong oleh masih berlanjutnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dollar AS.
"Rupiah diperkirakan bergerak melemah di kisaran Rp 18.100-18.250 per dollar AS," ujar Lukman kepada Kompas.com, Senin (8/6/2026).
Baca juga: KOSPI Terjun 8 Persen, Investor Tinggalkan Saham Teknologi
Bursa Asia Kompak Merah
Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia juga sejalan dengan pelemahan bursa saham di kawasan Asia.
Indeks Nikkei 225 Jepang turun 4,28 persen ke level 63.736,81. Sementara itu, indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 6,68 persen menjadi 7.615,18.
Di China, indeks SSE Composite melemah 1,69 persen ke 3.959,55. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,33 persen ke 24.630,70, sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,70 persen ke 8.625,10.
Pelaku pasar mencermati meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko. Kondisi tersebut tercermin dari pelemahan mayoritas bursa saham Asia, penguatan dollar AS, serta tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Tag: #ihsg #sesi #anjlok #persen #rupiah #dekati #18200 #dollar