Purbaya Pede Rupiah Menguat pada Semester II 2026, Ditopang Sinergi Fiskal-Moneter
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Paripurna DPR RI, Jakarta, Selasa (9/6/2026).(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY)
14:16
10 Juni 2026

Purbaya Pede Rupiah Menguat pada Semester II 2026, Ditopang Sinergi Fiskal-Moneter

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis nilai tukar rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II 2026 seiring membaiknya arus modal asing dan semakin solidnya koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan.

Purbaya mengatakan, meski rupiah sepanjang tahun ini masih menghadapi tekanan akibat berbagai sentimen global, pemerintah melihat sejumlah indikator mulai menunjukkan perbaikan.

"Kami juga mencermati perkembangan nilai tukar rupiah yang memang di tahun 2026 masih menghadapi tekanan, terutama dipengaruhi oleh sentimen global, kondisi risk off di pasar keuangan, serta tekanan dari transaksi berjalan dan transaksi finansial domestik," ujar Purbaya dalam rapat kerja Kementerian Keuangan, Kementerian PPN/Bappenas, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Komisi XI DPR RI, di Jakarta Rabu (10/6/2026).

Namun demikian, Purbaya meyakini tekanan tersebut bersifat sementara dan berpotensi mereda pada paruh kedua tahun ini.

Menurut Purbaya, penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan, ditambah perbaikan tata kelola devisa hasil ekspor (DHE) serta pendalaman pasar keuangan, akan memperkuat fundamental ekonomi nasional.

"Pemerintah optimistis dengan koordinasi yang lebih solid antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan disertai perbaikan tata kelola DHE serta pendalaman pasar keuangan akan memperkuat pasar keuangan dalam negeri," katanya.

Selain itu, arus modal asing juga mulai menunjukkan tren yang lebih baik, terutama pada instrumen Surat Utang Negara (SUN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Purbaya mengatakan, kepercayaan investor terhadap aset keuangan domestik masih tetap terjaga meskipun kondisi ekonomi global masih diliputi ketidakpastian.

Ia menilai, stabilitas nilai tukar rupiah penting agar pasar keuangan domestik dapat kembali menjadi sumber pembiayaan ekonomi nasional sekaligus instrumen investasi yang menarik.

Purbaya menjelaskan, fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih cukup kuat untuk menopang stabilitas rupiah. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 tercatat sebesar 5,61 persen, sementara inflasi hingga Mei 2026 berada di level 3,18 persen.

Di mana cadangan devisa Indonesia juga tetap tinggi, yakni mencapai 144,9 miliar dollar AS atau setara dengan 5,6 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Pemerintah juga menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi, mulai dari pengendalian harga pangan dan energi, menjaga disiplin fiskal, memperbaiki tata kelola DHE, hingga mempercepat penyerapan belanja negara.

Menurut Purbaya, kombinasi berbagai kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat kepercayaan pasar terhadap Indonesia.

Dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027, pemerintah memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak stabil pada kisaran Rp 16.900-Rp 17.500 per dollar AS, seiring membaiknya kondisi ekonomi global dan menguatnya fundamental domestik.

Hal ini sebagai strategi pemerintah untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan berada pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen pada 2027, sebagai pijakan menuju target pertumbuhan 8 persen pada 2029.

Tag:  #purbaya #pede #rupiah #menguat #pada #semester #2026 #ditopang #sinergi #fiskal #moneter

KOMENTAR