Survei KKI: 92 Persen Konsumen Tak Tahu Galon Guna Ulang Ada Masa Pakai
Komunitas Konsumen Indonesia menemukan sebanyak 92 persen konsumen masih menerima galon guna ulang berusia lebih dari satu tahun yang berisiko bagi kesehatan.(Dok. istimewa)
14:06
8 Mei 2026

Survei KKI: 92 Persen Konsumen Tak Tahu Galon Guna Ulang Ada Masa Pakai

– Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) mengingatkan pentingnya memperhatikan usia galon guna ulang (ganula) setelah menemukan 92 persen konsumen tidak mengetahui adanya batas masa pakai. Data ini berasal dari 250 laporan di tujuh kota selama Maret hingga April 2026.

Ketua KKI David Tobing mengatakan, temuan itu mencerminkan kondisi paradoks di lapangan.

"Ini menunjukkan tingginya kesadaran konsumen. Namun di sisi lain, pengetahuan mereka masih minim. Ini menunjukkan lemahnya edukasi produsen," kata David dalam rilis yang diterima Kompas.com, Kamis (7/5/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), 34 persen rumah tangga Indonesia menggunakan air galon sebagai sumber utama. Dengan estimasi sekitar 100 juta orang mengonsumsinya setiap hari, isu ini dinilai signifikan.

Baca juga: RDP DPR Soroti Tidak Ada Standar Galon Guna Ulang, DPR: Kita Jadi Kayak Minum Kimia

David pun menyoroti tidak adanya informasi masa pakai pada galon.

"Di galon itu tidak tercantum masa pakainya, justru yang tertera hanya kode produksi. Inilah yang saya katakan sebagai kekosongan regulasi masa pakai. Akibatnya, konsumen terus menerima galon lama tanpa menyadari risikonya, " ucapnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa sebanyak 92 persen laporan menunjukkan konsumen masih menerima galon berusia lebih dari satu tahun. KKI memverifikasi usia galon melalui foto yang wajib dilampirkan pelapor. Bahkan, ditemukan galon yang sudah sangat tua.

"Ada yang usianya 11 tahun. Di beberapa daerah sekitar Jakarta itu galon-galon memang usianya banyak yang 5 tahunan ke atas," ungkap David.

Baca juga: Risiko Paparan BPA di Balik Ganula, Galon Guna Ulang Lanjut Usia yang Tidak Memiliki Kedaluwarsa

Kondisi fisik galon juga menjadi perhatian. Sebanyak 30 persen dilaporkan kotor atau berlumut, dan 18 persen retak atau tergores.

"Semakin tua usia galon semakin beragam jenis keluhannya. Masalah fisik, kotor, kusam, dan retak. Aspek tersebut mendominasi laporan konsumen," kata David.

Risiko kesehatan muncul dari bahan polikarbonat yang mengandung bisfenol A (BPA). Pakar merekomendasikan masa pakai maksimal satu tahun atau 40 kali penggunaan untuk mencegah dampak kesehatan, seperti obesitas dan diabetes tipe 2.

"Tentu (galon guna ulang berbahan BPA) berbahaya. Sebab, zat tersebut bisa luruh dan bercampur dengan air di dalamnya. Hal ini bisa disebabkan paparan sinar matahari, usia pakai, dan pencucian kasar," jelas David.

Baca juga: Masih Beredar Luas, Galon Guna Ulang Tua Bisa Lepaskan Zat Kimia yang Berbahaya bagi Kesehatan

David juga menyoroti ketidakadilan dalam transaksi jual beli galon. Menurutnya, konsumen kerap membayar harga yang sama meski menerima galon dengan kondisi berbeda.

"Ada satu prinsip di dalam perdagangan, kalau harganya sama, kualitas juga sama. Pertanyaannya, dalam galon ini kita bisa saja membeli dengan harga sama tapi galonnya sudah tua," tegas David.

KKI mendesak produsen dan pemerintah bertindak. David menilai pelaku usaha harus bertanggung jawab terhadap galon yang beredar.

"Harusnya pelaku usaha bertanggung jawab terhadap galonnya. Jangan dibiarkan (galon guna ulang yang) beredar sudah tua-tua," ujarnya.

Baca juga: Galon BPA Banyak Diedarkan di Kalangan Bawah, KKI: Ini Tidak Adil

David menegaskan, kekosongan regulasi masa pakai untuk galon guna ulang adalah akar masalah yang harus ditutup.

"Kekosongan regulasi masa pakai untuk guna ulang adalah akar masalah yang harus ditutup. Negara perlu regulasi yang melindungi kesehatan masyarakat bukan sekadar keuntungan produsen," ucap David.

Tag:  #survei #persen #konsumen #tahu #galon #guna #ulang #masa #pakai

KOMENTAR