Cek Tensi Tak Harus Tunggu Sakit, Ini Waktu Ideal Menurut Dokter
Ibu Sarmi Chairul (63, tengah), salah satu peserta kegiatan Rumah Rasa ketika diperiksa tekanan darahnya. Kegiatan Rumah Rasa bertujuan menurunkan hipertensi dan risiko depresi pada lansia di Hutan Kota GBK, Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2025).(KOMPAS.com/Ni Nyoman Wira)
20:36
16 Mei 2026

Cek Tensi Tak Harus Tunggu Sakit, Ini Waktu Ideal Menurut Dokter

Banyak orang merasa dirinya sehat karena tidak mengalami pusing, lemas, atau keluhan tertentu. Padahal, tekanan darah bisa saja diam-diam tinggi tanpa disadari.

Kondisi inilah yang membuat hipertensi sering dijuluki sebagai silent killer atau “pembunuh senyap”.

Menurut dr. Dita Gemiana, Sp.PD, dari RS Persahabatan, hipertensi sering kali baru diketahui setelah muncul komplikasi serius seperti stroke atau serangan jantung.

“Pasien kadang merasa baik-baik saja, padahal tekanan darahnya sudah sangat tinggi. Bahkan pada beberapa kasus, tekanan darah 180 mmHg pun bisa tidak menimbulkan keluhan,” ujar dr. Dita dikutip dari siaran langsung Kemenkes, Sabtu (16/5/2026).

Kapan Seseorang Disebut Hipertensi?

Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah berada di angka 140/90 mmHg atau lebih pada pemeriksaan berulang.

Dita menjelaskan, diagnosis hipertensi tidak bisa ditegakkan hanya dari satu kali pemeriksaan. Tekanan darah perlu dicek lebih dari sekali dalam kondisi yang tepat.

“Sebelum pemeriksaan, pasien sebaiknya dalam kondisi rileks, tidak habis olahraga, tidak kurang tidur, dan tidak sedang stres,” katanya.

Pasalnya, beberapa faktor seperti cemas, nyeri, kelelahan, hingga aktivitas fisik berat bisa menyebabkan tekanan darah naik sementara.

Salah satu masalah terbesar pada hipertensi adalah banyak orang baru memeriksakan tekanan darah ketika sudah muncul gejala.

Padahal, hipertensi sering tidak menimbulkan tanda apa pun pada tahap awal.

Karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara rutin penting dilakukan meski tubuh terasa sehat.

Dokter Dita mengatakan, orang dewasa usia 18 tahun ke atas sebenarnya sudah dianjurkan mulai memeriksa tekanan darah secara berkala, terutama jika memiliki faktor risiko seperti:

Baca juga: Kopi Bisa Naikkan Tekanan Darah, Tapi Ternyata Tidak Sebabkan Hipertensi

Riwayat keluarga hipertensi

  • Obesitas atau berat badan berlebih
  • Diabetes
  • Kebiasaan merokok
  • Pola makan tinggi garam
  • Kurang aktivitas fisik

Sementara itu, pada usia 40 tahun ke atas, pemeriksaan tensi sebaiknya dilakukan lebih rutin, yakni setiap 6 bulan hingga 1 tahun sekali.

“Sekarang tren hipertensi juga mulai banyak ditemukan pada usia yang lebih muda, sehingga kesadaran untuk cek tekanan darah perlu dimulai lebih dini,” ujar dr. Dita.

Kenapa Hipertensi Berbahaya?

Tekanan darah yang terus tinggi dapat merusak pembuluh darah dan organ tubuh secara perlahan.

Hipertensi merupakan faktor risiko utama stroke, terutama stroke perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah di otak.

Selain stroke, hipertensi yang tidak terkontrol juga bisa menyebabkan:

  • Serangan jantung
  • Gagal jantung
  • Gangguan ginjal
  • Kerusakan pembuluh darah mata
  • Penurunan fungsi otak

Risiko komplikasi akan semakin besar jika tekanan darah tinggi berlangsung lama tanpa pengobatan maupun perubahan gaya hidup.

Cara Cek Tensi yang Benar di Rumah

Saat ini, alat tensi digital cukup mudah ditemukan dan bisa digunakan secara mandiri di rumah. Namun, hasil pengukuran bisa kurang akurat jika dilakukan dengan cara yang salah.

Dita menyarankan penggunaan tensi digital dengan manset di lengan atas dibandingkan alat yang dipasang di pergelangan tangan.

Agar hasil pengukuran lebih akurat, berikut hal yang perlu diperhatikan:

  • Duduk rileks dan bersandar
  • Posisi kaki tidak menyilang
  • Tangan sejajar dengan jantung
  • Istirahat 5–10 menit sebelum pemeriksaan
  • Tidak berbicara saat pengukuran
  • Hindari cek tensi setelah merokok, olahraga, atau minum alkohol

“Posisi tangan yang menggantung atau tubuh yang tidak rileks bisa membuat hasil tekanan darah menjadi tidak akurat,” jelasnya.

Baca juga: Risiko Diabetes dan Hipertensi Usia Dewasa Mengintai Anak Stunting

Jangan Abaikan Perubahan Gaya Hidup

Selain obat-obatan, pengendalian hipertensi juga sangat bergantung pada pola hidup sehari-hari.

Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:

  • Membatasi konsumsi garam maksimal 1 sendok teh per hari
  • Rutin olahraga 30 menit per hari
  • Memperbanyak sayur dan buah
  • Mengurangi makanan olahan tinggi garam
  • Berhenti merokok
  • Menjaga berat badan ideal
  • Mengelola stres

Perubahan gaya hidup biasanya mulai menunjukkan hasil dalam waktu 1 hingga 3 bulan jika dilakukan secara konsisten.

“Yang paling penting sebenarnya konsisten. Jangan hanya saat tensi sedang tinggi saja baru menjaga pola hidup,” kata dr. Dita.

Tag:  #tensi #harus #tunggu #sakit #waktu #ideal #menurut #dokter

KOMENTAR