Penderita Thalasemia Tak Boleh Konsumsi Zat Besi, Dokter Jelaskan Bahayanya
Ilustrasi terapi penyakit thalasemia pada anak. Pasangan yang sama-sama memiliki sifat thalasemia minor akan menyebabkan anak lahir dengan thalasemia mayor, yang butuh transfusi darah rutin.(SHUTTERSTOCK/Chan2545)
16:30
24 Mei 2026

Penderita Thalasemia Tak Boleh Konsumsi Zat Besi, Dokter Jelaskan Bahayanya

- Thalasemia menjadi salah satu penyakit genetik yang membutuhkan penanganan jangka panjang dan pengawasan ketat.

Selain menjalani transfusi darah rutin, penderita juga perlu memperhatikan pola hidup dan konsumsi harian, agar kondisi tubuh tetap stabil dan komplikasi dapat dicegah.

Dokter Spesialis Patologi RSJD Atma Husada Kalimantan Timur Dewi Paramita mengingatkan bahwa penderita thalasemia tidak dianjurkan mengonsumsi suplemen zat besi secara sembarangan.

"Penderita thalasemia dilarang keras mengonsumsi suplemen zat besi, karena transfusi berulang memicu penumpukan besi berlebih yang berbahaya bagi organ dalam seperti jantung dan ginjal," kata dr. Dewi Paramita di Samarinda, seperti dikutip dari Antara, Minggu (24/5).

Baca juga: Pasangan Thalasemia Minor Sebabkan Thalasemia Mayor pada Anak

Apa Itu Thalasemia?

Ia menjelaskan, thalasemia terjadi akibat kelainan pada kromosom 11 dan 16 yang menyebabkan produksi protein globin terganggu. Akibatnya, sel darah merah penderita menjadi lebih kecil, rapuh, dan mudah rusak saat mengalir di pembuluh darah.

Menurut dr. Dewi, berdasarkan tingkat keparahannya, thalasemia dibagi menjadi tiga jenis. Thalasemia mayor merupakan kondisi paling berat, karena pasien membutuhkan transfusi darah seumur hidup akibat gagal tumbuh.

Kemudian terdapat thalasemia intermedia dengan gejala yang lebih ringan, serta thalasemia minor yang kerap tidak menimbulkan gejala klinis.

"Sebagai langkah pencegahan, karena penyakit ini belum bisa disembuhkan, setiap calon pasangan suami istri sangat diwajibkan untuk menjalani skrining dini, guna mendeteksi apakah mereka membawa sifat genetik bawaan sebelum melangsungkan sebuah pernikahan," papar dr. Dewi.

Risiko Genetik

Ia menambahkan, risiko pada anak akan meningkat, apabila kedua orangtua sama-sama membawa sifat thalasemia.

"Jika kedua pasangan yang menikah sama-sama berstatus sebagai pembawa sifat, maka secara medis terdapat risiko sebesar 50 persen anak lahir sebagai pembawa sifat dan 25 persen menderita thalasemia mayor yang mematikan."

Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan laboratorium dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari evaluasi darah lengkap untuk mengukur ukuran dan tingkat kepucatan sel darah merah, pemeriksaan gambaran darah tepi guna melihat bentuk sel abnormal, pemeriksaan status besi, hingga elektroforesis hemoglobin.

Baca juga: Deteksi Dini Thalasemia: Langkah Penting untuk Kesehatan Keluarga dan Anak

Saat ini, layanan pengobatan bagi penderita thalasemia di Kalimantan Timur telah ditanggung BPJS Kesehatan. Fasilitas penunjang saat ini tersedia di RSUD Abdul Wahab Sjahranie dan Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo.

Dr. Dewi mengingatkan, agar para orangtua lebih peka terhadap kondisi anak, terutama jika terlihat mudah lelah, lesu saat beraktivitas fisik, atau memiliki wajah pucat, karena kondisi tersebut dapat menjadi tanda thalasemia.

Tag:  #penderita #thalasemia #boleh #konsumsi #besi #dokter #jelaskan #bahayanya

KOMENTAR