Dokter Ungkap, 35 Persen Kasus Sulit Punya Anak Ternyata Berasal dari Pria
Masalah kesuburan sering kali dianggap identik dengan perempuan. Padahal, data menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga kasus infertilitas justru berkaitan dengan faktor sperma pada pria.
Fakta tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG, Subsp.F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM dalam acara re-launching layanan fertilitas di Jakarta, sebagaimana dilansir dari Antara pada Selasa (26/5/2026).
Menurut Budi, pemeriksaan kesuburan idealnya dilakukan pada kedua pasangan karena peluang terjadinya gangguan tidak hanya berasal dari pihak perempuan.
“Data di Indonesia justru 35 persen penyebab gangguan kesuburan adalah faktor sperma, untuk penyebab perempuan yang paling besar adalah gangguan pematangan telur,” kata dr. Budi.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa upaya mendapatkan keturunan tidak seharusnya hanya membebankan perempuan sebagai pihak yang harus diperiksa atau disalahkan ketika kehamilan belum terjadi.
Baca juga: Tak Hanya Diabetes, Asupan Gula Berlebih Bisa Pengaruhi Kesuburan
Faktor sperma menyumbang banyak kasus infertilitas
Budi menjelaskan, kondisi sperma menjadi salah satu penyebab utama pasangan mengalami kesulitan memiliki anak.
Sementara pada perempuan, penyebab yang paling sering ditemukan adalah gangguan pematangan sel telur.
Kondisi tersebut umumnya ditandai dengan siklus menstruasi yang tidak teratur atau adanya gangguan kesehatan reproduksi tertentu.
Karena itu, edukasi mengenai kesuburan perlu diberikan kepada laki-laki dan perempuan secara seimbang agar pasangan dapat memahami bahwa infertilitas merupakan masalah bersama.
Menurut Budi, kesadaran ini juga penting untuk mendukung upaya peningkatan kualitas generasi produktif Indonesia di masa depan.
Baca juga: 4 Jenis Obat yang Mengganggu Kesuburan Pria
Kebiasaan sehari-hari bisa memengaruhi kualitas sperma
Ilustrasi sperma. POGI menyebut lebih dari sepertiga kasus infertilitas berkaitan dengan faktor sperma, bukan hanya masalah pada perempuan.
Selain faktor medis, gaya hidup juga berperan besar terhadap kualitas sperma.
Budi mengatakan, sejumlah kebiasaan yang dianggap sepele ternyata dapat memengaruhi kondisi organ reproduksi pria.
Salah satunya adalah merokok.
Ia menyarankan pria yang sedang merencanakan kehamilan untuk menghentikan kebiasaan tersebut karena dapat berdampak pada kualitas sperma.
Selain itu, pria juga dianjurkan menghindari berbagai aktivitas yang meningkatkan suhu di sekitar organ reproduksi.
Beberapa contohnya adalah menggunakan pakaian dalam yang terlalu ketat, bersepeda jarak jauh dalam waktu lama, mandi sauna terlalu sering, hingga menyimpan ponsel di saku celana.
Menurut Budi, kebiasaan-kebiasaan tersebut berpotensi memengaruhi kondisi sperma sehingga peluang terjadinya pembuahan dapat menurun.
Baca juga: Apakah Sperma Bisa Menghilangkan Bekas Jerawat? Berikut Penjelasannya…
Perempuan juga perlu memperhatikan siklus menstruasi
Di sisi lain, perempuan disarankan lebih memperhatikan kondisi siklus menstruasi sebagai salah satu indikator kesehatan reproduksi.
Budi menjelaskan bahwa perempuan dengan siklus haid yang teratur umumnya memiliki proses pematangan sel telur yang baik.
Sebaliknya, siklus yang tidak teratur dapat menjadi tanda adanya gangguan ovulasi.
“Karena kalau perempuan haidnya teratur 90 persen dia telurnya baik, tapi kalau perempuan menstruasinya tidak teratur, 3 bulan sekali atau 2 kali dalam sebulan kemungkinan besar ada gangguan pematangan telur,” ujarnya.
Selain ketidakteraturan siklus haid, perempuan juga perlu mewaspadai keluhan seperti nyeri menstruasi yang berat, nyeri saat berhubungan seksual, nyeri saat buang air kecil, atau nyeri saat buang air besar ketika menstruasi.
Keluhan tersebut dapat menjadi petunjuk adanya gangguan pada organ reproduksi yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Baca juga: Bahaya Asap Rokok pada Ibu Hamil, Tingkatkan Risiko Preeklampsia dan Kelahiran Prematur
Gaya hidup sehat bagi pasangan yang rencanakan kehamilan
Menurut Budi, menjaga kesuburan tidak hanya dilakukan ketika pasangan mulai menjalani program hamil.
Upaya tersebut sebaiknya dilakukan sejak dini melalui penerapan gaya hidup sehat.
Selain menghindari rokok dan menjaga kesehatan reproduksi, pasangan juga perlu memperhatikan pola makan serta kondisi tubuh secara keseluruhan.
Ia menegaskan bahwa masalah kesuburan merupakan tanggung jawab bersama sehingga pemeriksaan dan penanganannya perlu dilakukan secara komprehensif pada laki-laki maupun perempuan.
Dengan memahami faktor-faktor yang memengaruhi kesuburan sejak awal, pasangan memiliki peluang lebih besar untuk merencanakan kehamilan dan mendapatkan keturunan yang sehat.
Tag: #dokter #ungkap #persen #kasus #sulit #punya #anak #ternyata #berasal #dari #pria