Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
Ilustrasi Usus (Pexels.com/LightFieldStudios)
09:48
28 Mei 2026

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Banyak orang mengira kesehatan usus hanya dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi setiap hari. Padahal, tubuh manusia sebenarnya memiliki sistem pengatur waktu alami yang ikut menentukan bagaimana pencernaan bekerja secara optimal. 

Sistem ini dikenal sebagai ritme sirkadian atau jam biologis tubuh selama 24 jam. Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, kebiasaan begadang, makan tidak teratur, hingga terlalu lama menatap layar pada malam hari ternyata dapat mengganggu ritme alami tersebut. 

Dampaknya bukan hanya membuat tubuh mudah lelah, tetapi juga memengaruhi kesehatan usus dan metabolisme secara keseluruhan. Nutrition Education and Training Lead – Asia Pacific Herbalife, Dr. Vipada Sae-Lao, menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki ketepatan waktu biologis yang luar biasa.

“Ritme sirkadian, atau jam biologis internal tubuh selama 24 jam, secara diam-diam mengatur pola tidur, rasa lapar, serta kinerja setiap sistem tubuh sepanjang hari. Jam biologis ini tidak hanya berada di otak, tetapi juga terdapat di hampir setiap sel tubuh, menjaga seluruh tubuh tetap selaras dengan ritme alami siang dan malam,” jelasnya.

Menurut Dr. Vipada, sistem pencernaan menjadi salah satu bagian tubuh yang paling sensitif terhadap ritme waktu tersebut, termasuk bakteri baik di dalam usus atau mikrobioma usus.

Penelitian menunjukkan bahwa bakteri usus dan jam biologis tubuh saling berkomunikasi untuk membantu menjaga metabolisme, sensitivitas insulin, kesehatan jantung, sistem kekebalan tubuh, hingga berat badan tetap optimal.

Namun, pola hidup modern perlahan mulai mengganggu keseimbangan alami tersebut. Begadang, jadwal makan yang berubah-ubah, kerja shift, hingga paparan layar di malam hari dapat membuat ritme sirkadian menjadi tidak sinkron.

“Tantangannya adalah gaya hidup modern secara perlahan mengganggu komunikasi alami tersebut. Ketika jam biologis tidak lagi sinkron, kondisi usus pun ikut terganggu, sehingga meningkatkan risiko kenaikan berat badan, ketidakseimbangan gula darah, dan peradangan dalam jangka panjang,” ujar Dr. Vipada.

Kabar baiknya, menjaga keseimbangan jam biologis dan kesehatan usus sebenarnya bisa dimulai dari kebiasaan sederhana sehari-hari.

Salah satunya adalah menjaga pola makan yang lebih teratur. Sarapan bergizi di pagi hari dinilai penting karena setelah berpuasa semalaman, sistem pencernaan berada dalam kondisi optimal untuk menyerap nutrisi.

Selain itu, tubuh juga bekerja lebih baik ketika waktu makan dilakukan secara konsisten setiap hari, idealnya dalam rentang delapan hingga 12 jam. Pola makan yang teratur membantu menjaga energi tetap stabil sekaligus mendukung metabolisme tubuh.

Dr. Vipada juga menekankan pentingnya hidrasi yang dilakukan secara sadar dan teratur. Air membantu seluruh proses pencernaan, mulai dari produksi air liur, membantu penyerapan nutrisi, hingga melancarkan pergerakan sisa makanan dalam usus.

“Segelas air sebelum makan pertama di pagi hari dapat membantu memulai proses pencernaan sekaligus mengaktifkan jam biologis tubuh,” jelasnya.

Tidak hanya soal makan dan minum, kualitas tidur juga memiliki hubungan erat dengan kesehatan usus. Sistem pencernaan membutuhkan waktu untuk melambat dan beristirahat sebelum tubuh benar-benar tidur.

Karena itu, konsumsi makanan berat, tinggi lemak, terlalu manis, maupun kafein menjelang tidur sebaiknya dihindari. Sebagai gantinya, aktivitas ringan seperti membaca, peregangan lembut, atau minum teh herbal dapat membantu tubuh lebih rileks sebelum tidur.

Menjaga jam tidur dan bangun yang konsisten juga membantu bakteri baik di usus menyesuaikan ritme biologisnya secara optimal.

Selain pola hidup, stres juga menjadi faktor penting yang memengaruhi hubungan antara usus dan jam biologis tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa stres dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus sekaligus memicu gangguan pada ritme sirkadian.

Kortisol, hormon utama pemicu stres, diketahui dapat memengaruhi pergerakan usus dan membuat sistem pencernaan menjadi lebih sensitif dalam jangka panjang.

“Hubungan antara usus dan otak merupakan hal yang nyata, dan stres adalah salah satu faktor pengganggu terkuat dalam hubungan tersebut,” kata Dr. Vipada.

Ia menambahkan, jauh sebelum ilmu pengetahuan modern menjelaskan hubungan tersebut, banyak kebiasaan tradisional masyarakat Asia sebenarnya sudah menerapkan pola hidup yang selaras dengan ritme alami tubuh.

“Menghadirkan kembali pola hidup tersebut ke dalam gaya hidup perkotaan tidak membutuhkan kesempurnaan, melainkan perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten. Seiring waktu, tubuh akan menemukan kembali keseimbangannya,” tutup Dr. Vipada.

Editor: Dinda Rachmawati

Tag:  #ritme #sirkadian #usus #saling #terhubung #begadang #bisa #ganggu #pencernaan

KOMENTAR