Kisah Perempuan Spanyol, Noelia Castillo, Meninggal Lewat Eutanasia Usai Menang Gugatan HAM atas Ayahnya
Ilustrasi eutanasia.(SHUTTERSTOCK)
16:42
27 Maret 2026

Kisah Perempuan Spanyol, Noelia Castillo, Meninggal Lewat Eutanasia Usai Menang Gugatan HAM atas Ayahnya

– Noelia Castillo (25), seorang perempuan asal Barcelona, Spanyol, meninggal dunia melalui prosedur eutanasia pada Kamis (28/11/2024).

Noelia akhirnya menjalani bantuan medis untuk mengakhiri hidup setelah memenangi gugatan hukum panjang melawan ayah kandungnya di Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR).

Kasus ini menjadi sorotan dunia karena merupakan kali pertama prosedur eutanasia di Spanyol harus diputuskan melalui meja hijau akibat keberatan keluarga.

Baca juga: Spanyol Sahkan UU Eutanasia untuk Bantu Seseorang Mengakhiri Hidup

Sengketa Hukum 18 Bulan sebelum Eutanasia Noelia

Noelia, yang mengalami lumpuh dari pinggang ke bawah (paraplegia) akibat percobaan bunuh diri pada 2022, sebelumnya telah mendapatkan izin eutanasia dari pemerintah Katalunya pada musim panas 2024.

Namun, prosedur tersebut mendadak ditangguhkan setelah ayahnya mengajukan keberatan hukum.

Sang ayah, yang didukung kelompok konservatif Abogados Cristianos, berargumen bahwa putrinya menderita gangguan kepribadian yang memengaruhi objektivitasnya dalam mengambil keputusan.

Ia mengeklaim bahwa negara memiliki kewajiban untuk melindungi warga yang rentan, terutama mereka yang memiliki masalah kesehatan mental.

Namun, Noelia menegaskan bahwa keputusan tersebut adalah hak otonomi atas tubuhnya sendiri.

"Ia (ayah) tidak menghormati keputusan saya dan tidak akan pernah," tegas Noelia dalam wawancara sebelum kematiannya, dikutip dari BBC, Jumat (27/3/2026).

Pertarungan hukum ini berlangsung selama 18 bulan hingga akhirnya Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR) memenangkan Noelia.

Meskipun ibunya, Yolanda, mengaku tidak setuju, ia memilih untuk tetap menghormati keputusan sang putri.

Noelia sendiri meminta agar ia hanya ditemani oleh dokternya saat suntikan mematikan itu diberikan.

Penderitaan yang Tak Tertahankan

Keputusan Noelia untuk mengakhiri hidup didasari oleh penderitaan fisik dan trauma masa lalu yang mendalam.

Kehidupan Noelia berubah drastis pada 2022, setelah sebuah upayanya untuk mengakhiri hidup gagal.

Ia justru harus menghadapi kenyataan pahit, mengalami lumpuh dari pinggang ke bawah (paraplegia).

Namun, luka fisiknya hanyalah puncak gunung es dari trauma masa kecil yang kelam.

Dalam sebuah wawancara televisi pekan ini, Noelia mengenalkan dirinya sebagai sosok yang selalu merasa sendirian.

Ia menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di panti asuhan.

Tragedi kembali menghampiri saat ia mengaku mengalami pelecehan seksual berkali-kali, baik oleh mantan kekasihnya maupun oleh sekelompok pria di sebuah klub malam.

"Penderitaan apa yang telah saya tanggung selama bertahun-tahun? Saya hanya ingin pergi dengan damai dan menghentikan rasa sakit ini," ungkap Noelia.

Ilustrasi eutanasiaWharton Ilustrasi eutanasia

Pro dan Kontra Eutanasia di Berbagai Negara

Di balik ruang sidang dan perdebatan medis, eutanasia adalah pertarungan dua prinsip besar yang sulit didamaikan.

Di satu sisi, ada mereka yang memegang teguh prinsip otonomi diri.

Kelompok pro ini berargumen bahwa negara tidak berhak memaksa seseorang terus menderita jika individu tersebut sudah tidak lagi menemukan martabat dalam hidupnya.

Namun di sisi lain, penentang eutanasia berdiri di atas prinsip kesucian hidup.

Mereka khawatir jika "hak untuk mati" dilegalkan, hal itu akan menjadi "lereng licin" (slippery slope) yang membahayakan kelompok rentan.

Belajar dari Kasus di Kanada dan Belanda

Kanada sering disebut sebagai contoh nyata dari kekhawatiran ini.

Sejak program Medical Assistance in Dying (MAiD) diperluas pada 2021, muncul kasus-kasus pelik.

Salah satunya adalah laporan mengenai penyandang disabilitas yang mengajukan eutanasia bukan semata karena penyakit, melainkan karena ketidakmampuan finansial untuk membayar sewa rumah dan perawatan.

Hal ini memicu kritik bahwa eutanasia bisa menjadi "solusi praktis" bagi negara untuk menghindari tanggung jawab sosial.

Di Belanda, eutanasia bahkan telah meluas hingga ke kasus gangguan jiwa berat.

Contohnya adalah kasus Aurelia Brouwers (29) pada tahun 2018.

Ia tidak menderita penyakit fisik terminal, namun diizinkan mengakhiri hidup karena depresi berat yang dianggap "tak tertahankan dan tanpa harapan sembuh".

Kasus ini mengguncang dunia karena memunculkan pertanyaan: Kapan penderitaan mental dianggap cukup valid untuk mengakhiri hidup?

Oregon dan Ketatnya Aturan "Self-Administered"

Berbeda dengan Spanyol yang membolehkan tenaga medis menyuntikkan zat mematikan, negara bagian Oregon di AS menerapkan aturan yang lebih ketat.

Pasien harus meminum sendiri dosis mematikan tersebut (self-administered).

Data menunjukkan sekitar sepertiga pasien yang sudah memegang resep mematikan akhirnya memutuskan tidak menggunakannya.

Hal ini menunjukkan bahwa memiliki "pilihan" untuk pergi terkadang memberikan rasa kendali yang cukup bagi pasien tanpa harus benar-benar melakukannya.

Bagaimana Kebijakan Eutanasia di Indonesia?

Di Indonesia, perdebatan ini hampir tidak memiliki ruang legal.

Berdasarkan tinjauan hukum, pemerintah Indonesia secara tegas menolak praktik ini karena hukum internasional pun tidak pernah secara eksplisit mengakui adanya "hak untuk mati".

Secara sosiologis dan religius, masyarakat Indonesia memandang nyawa sebagai titipan Tuhan.

Pasal 344 KUHP menjadi benteng hukum yang kaku, di mana perampasan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri tetap diancam pidana penjara maksimal 12 tahun.

Bagi tenaga medis di Indonesia, dilema biasanya muncul pada eutanasia pasif, seperti saat keluarga meminta penghentian alat bantu napas pada pasien yang sudah mengalami mati batang otak.

Baca juga: Kisah Eks PM Belanda dan Istrinya Meninggal Bergandengan Tangan dengan Eutanasia

Meskipun sering terjadi di area "abu-abu" medis karena pertimbangan biaya atau kondisi medis, secara formal, Indonesia tetap memegang teguh prinsip bahwa keselamatan manusia harus dijunjung tinggi.

Tenaga medis dipandang sebagai penjaga kelangsungan hidup pasien, bukan fasilitator kematian.

Kisah Noelia Castillo mengingatkan dunia bahwa di balik pasal-pasal hukum, ada manusia yang berjuang dengan penderitaan yang sulit dibayangkan.

Kini, Noelia telah pergi, meninggalkan perdebatan panjang yang mungkin tak akan pernah usai soal eutanasia.

Tag:  #kisah #perempuan #spanyol #noelia #castillo #meninggal #lewat #eutanasia #usai #menang #gugatan #atas #ayahnya

KOMENTAR