Krisis Energi akibat Perang Iran, Asia Berisiko Kena Dampak Terparah
- Negara-negara Asia sedang menghadapi krisis energi besar akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 tersebut menyebabkan Iran menghentikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur yang biasanya dilalui seperlima pasokan minyak mentah dunia dan sejumlah besar gas.
Kondisi tersebut menimbulkan guncangan di pasar energi global dan menyebabkan kenaikan harga bagi konsumen di seluruh dunia.
Baca juga: Jurus China Tetap Tenang Meski Selat Hormuz Ditutup, Ketahanan Energi Harga Mati
Perusahaan analitik maritim Kpler mengatakan kepada AFP, terjadi penurunan tajam dalam pengiriman minyak mentah ke wilayah Asia, sementara itu hanya ada sedikit alternatif.
"Kami pikir Asia, untuk saat ini, akan menjadi yang paling menderita," kata Presiden Kpler Jean Maynier kepada AFP, Selasa (31/3/2026).
Dia menyebut, jika kondisi ini terus berlanjut, akan sangat berdampak pada kondisi pasokan energi di wilayah Asia.
"Ini benar-benar buruk bagi Asia dan kami tidak optimis jika kondisi ini berlanjut," ujarnya.
Baca juga: Atasi Krisis Energi, Kilang Minyak Filipina Borong 2,5 Juta Barrel Minyak Rusia
Dia mengatakan bahwa meskipun serangan terhadap Iran telah diantisipasi, tetapi durasi dan dampak perang yang terjadi di luar perkiraan. Khususnya krisis energi yang terjadi saat ini.
Hampir tidak ada minyak mentah yang tiba di Asia saat ini, dan tidak ada alternatif yang layak untuk impor energi dari Timur Tengah, sedangkan persediaan sedang menipis, kata Maynier.
Dampak penutupan Selat Hormuz secara de facto telah menyebabkan pemerintah mengambil langkah-langkah besar, seperti Filipina yang mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional.
Di Indonesia sendiri pemerintah telah mengambil sejumlah kebijakan, salah satunya adalah skema Work from Home (WFH) bagi sejumlah ASN.
Baca juga: Krisis Energi, Lebih dari 400 SPBU di Filipina Tutup Sementara
Jepang dan Indonesia memperkuat koordinasi hadapi krisis energi
Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi di Akasaka Palace, Tokyo, Jepang, pada Senin (31/3/2026). Keduanya kemudian melangsungkan pertemuan bilateral untuk membahas kerja sama strategis.
Dikutip dari Kompas.com, Selasa (31/3/2026), Pemerintah Jepang dan Indonesia sepakat untuk memperkuat koordinasi terkait keamanan energi nasional.
Langkah ini diambil menyusul konflik Timur Tengah antara AS-Israel dan Iran, yang masih berlangsung hingga kini.
Kesepakatan tersebut tercapai dalam pertemuan bilateral antara Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Presiden RI Prabowo Subianto di Tokyo, Selasa (31/3/2026).
PM Takaichi menegaskan, eskalasi konflik di Timur Tengah telah memaksa negara-negara di dunia untuk menghitung ulang strategi ketahanan energi mereka.
Baca juga: Bos Minyak Dunia Ketar-ketir Krisis Energi Kian Nyata akibat Perang Iran
"Mengingat situasi Iran, kepentingan strategis sumber daya dan keamanan energi sekali lagi diakui secara global. Indonesia adalah negara kaya sumber daya yang utama," ujar Takaichi dalam konferensi pers bersama Prabowo.
Bagi Jepang, posisi Indonesia sangatlah vital karena tercatat sebagai eksportir batu bara termal terbesar di dunia yang menyumbang hampir setengah dari total ekspor global.
Selain itu, Indonesia merupakan pemasok besar gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG), dengan sekitar seperempat dari total pengiriman LNG Indonesia ditujukan ke Jepang.
Tag: #krisis #energi #akibat #perang #iran #asia #berisiko #kena #dampak #terparah