PNS Malaysia Bakal WFH di Tengah Perang Iran, Berhemat Imbas Krisis BBM
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan kebijakan Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) di tengah perang di Iran yang semakin memanas.
Kebijakan ini akan mulai diterapkan pada 15 April dan dilakukan secara bertahap.
Langkah tersebut diambil untuk menghemat konsumsi energi sekaligus menjaga stabilitas pasokan bahan bakar nasional.
Baca juga: 4 Skenario jika Trump Tinggalkan Perang Iran Tanpa Buka Selat Hormuz
WFH untuk hemat energi
Anwar Ibrahim mengatakan bahwa pemerintah telah menyepakati kebijakan kerja dari rumah bagi kementerian, lembaga, serta perusahaan terkait pemerintah.
“Kabinet telah menyetujui kebijakan kerja dari rumah. Ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan memastikan pasokan energi yang stabil,” ujar Anwar dalam pengarahan khusus, seperti dikutip AFP.
Ia menambahkan bahwa penerapan WFH akan dilakukan secara selektif dan bertahap, dengan rincian teknis yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
Selain sektor publik, pemerintah juga mendorong sektor swasta untuk mengikuti langkah serupa.
“Kami juga mendorong sektor swasta untuk mengadopsi praktik serupa, karena beberapa perusahaan dan bank telah melakukannya,” kata Anwar.
Dampak krisis BBM global mulai terasa
Ilustrasi BBM.
Kebijakan ini muncul saat Malaysia mulai merasakan dampak lonjakan harga energi global akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi faktor utama terganggunya pasokan minyak dunia.
Selat tersebut merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah global.
Baca juga: Trump Gembar-gembor Menang Perang, Yakinkan Warga AS soal Urgensi Serang Iran
Gangguan di wilayah ini membuat banyak negara Asia menghadapi tekanan besar terhadap ketersediaan energi.
Sebagai langkah tambahan, pemerintah Malaysia juga memangkas kuota bahan bakar bersubsidi dari 300 liter menjadi 200 liter per bulan. Sementara itu, harga bahan bakar non-subsidi tetap mengikuti harga pasar global.
Kapal Malaysia tertahan di Hormuz
Di tengah situasi tersebut, sejumlah kapal tanker milik perusahaan Malaysia masih menunggu izin untuk melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Menteri Luar Negeri Mohamad Hasan sebelumnya menyebut kapal milik Petronas, Sapura Energy, dan MISC berada dalam antrean.
Menteri Transportasi Anthony Loke memastikan bahwa kapal-kapal Malaysia kemungkinan tidak akan dikenakan biaya tambahan oleh Iran.
“Kami adalah pihak yang bersahabat. Kami memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan pemerintah Iran,” ujarnya, seraya menyatakan keyakinan bahwa kapal Malaysia akan diizinkan melintas.
Dalam pidato sebelumnya, Anwar juga mengucapkan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian karena telah mengizinkan kapal tanker Malaysia beserta awaknya melanjutkan perjalanan pulang.
Baca juga: Jelang Pidato Tump, Presiden Iran Kirim Surat Terbuka untuk Warga AS
Tag: #malaysia #bakal #tengah #perang #iran #berhemat #imbas #krisis