Ada Asa di Balik Perang Timur Tengah, Era Energi Terbarukan Bisa Datang Lebih Cepat
Ilustrasi energi terbarukan.(Shutterstock)
11:42
7 April 2026

Ada Asa di Balik Perang Timur Tengah, Era Energi Terbarukan Bisa Datang Lebih Cepat

- Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memprediksi bahwa krisis energi terburuk yang melanda dunia saat ini akan menjadi katalisator bagi percepatan pengembangan energi terbarukan hingga kendaraan listrik.

Hal tersebut disampaikan Birol wawancara bersama surat kabar Perancis, Le Figaro.

Birol menyebutkan bahwa krisis energi yang dipicu oleh perang di Timur Tengah saat ini memiliki skala yang sangat masif.

Baca juga: Orkestrasi Diplomasi Energi di Tengah Krisis Hormuz

"Krisis ini lebih serius dibandingkan gabungan krisis tahun 1973, 1979, dan 2022," ujar Birol sebagaimana dilansir AFP, Selasa (6/4/2026).

Meskipun terjadi lonjakan harga bahan bakar akibat blokade oleh Iran di Selat Hormuz, Birol menilai ada alasan untuk tetap optimis terhadap perubahan arsitektur sistem energi global.

"Ini akan memakan waktu bertahun-tahun. Ini tidak akan menjadi solusi bagi krisis saat ini, namun geopolitik energi akan bertransformasi secara mendalam," tuturnya.

Birol menekankan bahwa beberapa teknologi akan berkembang jauh lebih cepat dibandingkan yang lain dalam menghadapi situasi ini. 

Sektor energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, diprediksi akan menjadi garda terdepan karena proses instalasinya yang singkat.

"Itu terjadi pada energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, yang dapat dipasang dengan sangat cepat. Kita akan beralih ke energi terbarukan segera, mungkin dalam beberapa bulan ke depan," kata Birol.

Baca juga: Iran Serang Sektor Air dan Energi Teluk, UEA-Bahrain-Kuwait Kena

Peringatan "April Hitam"

Meski optimistis terhadap transisi energi jangka panjang, IEA memberikan peringatan keras untuk menghadapi situasi jangka pendek. 

Birol meminta setiap negara untuk "sebijak mungkin" dalam menghemat energi dan mewaspadai ancaman "April Hitam".

Kekhawatiran ini didasari oleh posisi krusial Selat Hormuz yang tidak hanya menjadi jalur transit utama energi, tetapi juga komoditas penting lainnya seperti pupuk.

"Jika selat tersebut benar-benar tetap tertutup sepanjang April, kita akan kehilangan minyak mentah dan produk pengilangan dua kali lebih banyak dibandingkan bulan Maret," ucap Birol.

Baca juga: Kunci Menghindari Kegelapan Energi, Deeskalasi dan Meja Perundingan

Tag:  #balik #perang #timur #tengah #energi #terbarukan #bisa #datang #lebih #cepat

KOMENTAR