Geram Dibombardir, UEA Desak Iran Bayar Ganti Rugi
Uni Emirat Arab (UEA) pada Rabu (8/4/2026) menyatakan bahwa Iran harus bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan di kawasan Teluk.
Pernyataan ini muncul di tengah gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai masih rapuh.
UEA juga meminta kejelasan soal bagaimana kesepakatan tersebut menjamin penghentian permusuhan oleh Teheran.
Baca juga: Nyaris Gagal, Pakistan Jadi “Penyelamat” di Menit Terakhir Gencatan Senjata AS-Iran
Selain itu, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi tuntutan utama yang disoroti Abu Dhabi.
Gencatan senjata dinilai masih rapuh
Amerika Serikat dan Iran sebelumnya sepakat melakukan gencatan senjata selama dua pekan setelah lebih dari sebulan konflik. Namun, implementasinya belum berjalan mulus.
Iran dilaporkan masih mengalami serangan, sementara sejumlah negara Teluk, termasuk UEA, menuduh Teheran telah melancarkan serangan ke wilayah mereka.
Selama lebih dari sebulan perang, Iran disebut menyerang kawasan Teluk sebagai respons atas serangan AS dan Israel yang melumpuhkan kepemimpinannya.
Dalam periode tersebut, UEA menjadi salah satu negara yang paling terdampak oleh serangan Iran.
UEA minta jaminan penghentian permusuhan
Dilansir AFP, Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan perlunya kejelasan lebih lanjut terkait isi kesepakatan gencatan senjata.
UEA “sedang mencari klarifikasi lebih lanjut mengenai ketentuan perjanjian untuk memastikan komitmen penuh Iran terhadap penghentian segera semua permusuhan di kawasan serta pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat,” demikian pernyataan resmi mereka.
Selain itu, UEA juga menuntut adanya jaminan bahwa jalur pelayaran strategis tersebut kembali aman dan terbuka bagi perdagangan global.
Baca juga: Tak Tiru Malaysia, Singapura Enggan Negosiasi dengan Iran soal Selat Hormuz
Desak Iran bayar ganti rugi
Peluncuran gelombang ke-41 serangan rudal Iran oleh Garda Revolusi (IRGC) pada Kamis (12/3/2026), menargetkan aset-aset Israel dan Amerika Serikat di Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait.
UEA mengambil sikap tegas dengan menuntut pertanggungjawaban Iran atas kerusakan yang ditimbulkan.
Serangan Iran “mengharuskan adanya sikap tegas, termasuk memastikan bahwa Iran dimintai pertanggungjawaban dan sepenuhnya bertanggung jawab atas kerusakan dan kompensasi,” lanjut pernyataan tersebut.
Selama konflik berlangsung, serangan Iran tidak hanya menargetkan aset militer AS, tetapi juga infrastruktur sipil seperti bandara, fasilitas energi, pelabuhan, hotel, hingga kawasan permukiman.
UEA juga menyoroti spektrum ancaman yang lebih luas dari Iran, termasuk kemampuan nuklir, rudal balistik, drone, serta jaringan proksi di kawasan.
Selain itu, Abu Dhabi menekankan pentingnya mengakhiri ancaman terhadap kebebasan navigasi, perang ekonomi, dan praktik pembajakan di Selat Hormuz.
Hubungan UEA-Iran memburuk
Serangan Iran turut memperburuk hubungan antara negara-negara Teluk dengan Republik Islam tersebut, setelah sebelumnya sempat mengalami periode detente atau meredanya ketegangan.
UEA kini mengambil sikap lebih keras dengan menarik duta besarnya dari Iran dan menutup kedutaan di negara tersebut.
Selain itu, warga Iran juga dilarang masuk ke UEA dengan pengecualian terbatas. Maskapai berbasis Dubai menyebut pembatasan ini diberlakukan, sementara agen perjalanan melaporkan tingginya penolakan visa bagi warga Iran sejak perang di Timur Tengah pecah.
Tak hanya itu, sejumlah entitas yang terkait dengan Iran di Dubai, termasuk rumah sakit, sekolah, dan pusat komunitas, juga telah ditutup.
Baca juga: Reza Pahlavi Kecewa Rezim Iran Tak Runtuh, Sesalkan Gencatan Senjata