Militer AS Klaim Bakal Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz, Seberapa Bahaya Ancaman Ini?
Selat Hormuz menjadi salah satu rute energi terpenting dunia yang terdampak dalam perang Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Memasuki minggu keenam konflik, militer Amerika Serikat (AS) menyatakan kapal perangnya bakal melakukan operasi untuk memblokade pelabuhan Iran.
Selain itu, kapal perang AS juga bakal membersihkan ranjau laut yang dipasang Iran di Selat Hormuz, sebagaimana dikutip dari CNN, Senin (13/4/2026).
Kapal perusak berpeluru kendali USS Frank E Peterson dan USS Michael Murphy dilaporkan terlibat dalam operasi tersebut.
Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi hal itu melalui pernyataan resmi pada Sabtu (11/4/2026).
Baca juga: Sudah Ada 4 Kapal yang Lewati Selat Hormuz Meski Ada Blokade AS, dari Mana Saja?
Bersihkan ranjau untuk buka jalur aman
Langkah pembersihan ranjau ini menjadi bagian dari upaya AS untuk menormalkan kembali arus pelayaran di Selat Hormuz, sebagaimana dilansir dari Al Jazeera, Senin.
Sejak perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, Teheran hampir menutup jalur perairan tersebut.
Setelah pengumuman gencatan senjata dua pekan, Islamic Revolutionary Guard Corps atau Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) merilis peta baru Selat Hormuz yang menunjukkan rute aman bagi kapal.
Peta tersebut tampak mengarahkan kapal lebih ke utara, mendekati pantai Iran, dan menjauhi rute tradisional yang biasanya lebih dekat ke pantai Oman.
IRGC dalam pernyataannya menegaskan kapal harus mengikuti jalur tersebut karena adanya kemungkinan berbagai jenis ranjau anti-kapal di zona lalu lintas utama.
Lantas, apa sebenarnya ranjau itu, dan seberapa bahayanya ancaman ini?
Baca juga: Kesepakatan Belum Tercapai, AS Mulai Blokade Selat Hormuz, Iran Panas, Apakah Perang Lagi?
Apa itu ranjau laut?
Menurut analisis Foreign Policy Research Institute (FPRI) yang berbasis di Philadelphia, ranjau modern yang canggih dapat diproduksi dengan biaya puluhan ribu dolar.
Ranjau mampu menimbulkan dampak ekonomi dan strategis yang jauh lebih besar.
Mengutip dari Al Jazeera, analis maritim memperkirakan stok ranjau Iran berkisar antara 2.000 sampai 6.000 unit.
Sebagian besar ranjau diprediksi merupakan hasil produksi dalam negeri.
Sementara itu, senjata ini umumnya terbagi dalam tiga kategori berdasarkan cara berinteraksi dengan targetnya:
Ranjau kontak
Desain tradisional seperti M-08 yang berasal dari era Perang Dunia I. Ranjau ini ditambatkan ke dasar laut dan meledak saat bersentuhan langsung dengan lambung kapal.
Ranjau dasar (influence mines)
Model ranjau seperti Maham-2 berada di dasar laut dan dipicu oleh tanda akustik, magnetik, atau tekanan dari kapal yang melintas.
Ranjau dasar dilaporkan jauh lebih sulit dideteksi dibanding ranjau yang ditambatkan. Jenis ini juga lebih berbahaya karena kapal tidak perlu menyentuh ranjau untuk memicu ledakan.
Ranjau “pintar” dan roket
Selain dua jenis itu, ada ranjau "pintar" dan roket dengan sistem yang lebih canggih.
Salah satunya, ranjau roket EM-52 buatan China yang dilaporkan diimpor serta ditempatkan di dasar laut hingga kedalaman 200 meter.
Ranjau tersebut dapat melepaskan roket yang bisa menghantam bagian bawah kapal saat mendeteksi kapal yang melintas di atasnya.
Baca juga: AS Siap Blokade Selat Hormuz, Berani Sita Kapal China-Rusia?
Di mana ranjau laut di Selat Hormuz?
Al Jazeera memberitakan belum ada kepastian mengenai lokasi ranjau laut ditempatkan.
Iran hanya menyebut kemungkinan keberadaannya tanpa secara resmi membeberkan lokasi ranjau dipasang.
Pencarian yang saat ini dilakukan kapal perang AS juga menunjukkan Washington belum mengetahui lokasi pasti ranjau tersebut.
Tapi apabila memang telah dipasang, analis militer dari Washington Institute for Near East Policy menilai penempatan ranjau kemungkinan dirancang secara strategis dengan memanfaatkan geografi Teluk.
Alhasil, lalu lintas internasional dipaksa melewati jalur sempit yang lebih rentan.
Hal ini sejalan dengan peta yang dirilis IRGC pekan lalu, di mana Iran jelas mengarahkan kapal agar melintas lebih dekat ke pantai Iran dibanding sebelumnya.
Baca juga: AS Mulai Blokade Selat Hormuz Pukul 21.00 WIB, CENTCOM Ungkap Sistem Kerjanya
Penempatan ranjau untuk batasi akses
Penempatan ranjau laut dalam simulasi perang umumnya dilakukan secara terencana untuk membatasi akses ke wilayah perairan tertentu.
Hal tersebut dikatakan oleh Angkatan laut Rumania yang telah pensiun dan profesional MARSEC, Alexandru Cristian Hudisteanu kepada Al Jazeera.
Sebuah selat, menurutnya, bisa ditambang penuh atau hanya sebagian guna mengendalikan pergerakan atau membatasi akses.
Kendati demikian, menurutnya lokasi fisik ranjau kurang penting dibanding dampak psikologisnya.
Ancaman ranjau tidak harus ada di seluruh area untuk memengaruhi keputusan pihak yang harus melintasinya.
Artinya, ranjau di beberapa area sudah cukup membuat pihak yang melintas mempertimbangkan ulang keputusannya.
Baca juga: Trump Siapkan Blokade Selat Hormuz Usai Perundingan AS-Iran Buntu, Apa Rencananya?
Apakah mudah bersihkan ranjau laut?
Membersihkan ranjau dikenal dengan mine countermeasures (MCM). Proses ini diketahui berlangsung lambat, sistematis, dan berisiko tinggi.
Pencarian ranjau menggunakan sonar resolusi tinggi, lalu ranjau disapu dengan perangkat mekanis atau magnetik untuk memicu ledakan.
Namun, para ahli menyebut Angkatan Laut AS menghadapi "kesenjangan ranjau".
Salah satunya karena beberapa aset khusus MCM dipensiunkan hanya beberapa bulan sebelum perang.
Angkatan Laut AS dilaporkan menonaktifkan empat kapal MCM kelas Avenger terakhir di Bahrain pada September.
Baca juga: Trump Siapkan Blokade Selat Hormuz Usai Perundingan AS-Iran Buntu, Apa Rencananya?
Sementara itu, helikopter MH-53E Sea Dragon yang selama ini menjadi andalan penyapuan ranjau udara dihentikan operasinya pada Agustus.
Alhasil, AS mengandalkan kapal tempur kecil dengan modul pembersih ranjau. Namun hanya satu kapal, yaitu USS Canberra, yang tersedia di kawasan tersebut saat ini.
Namun perlu diketahui, Hudisteanu menjelaskan unit MCM biasanya hanya unggul pada satu tugas. Mereka disebut lemah dalam pertahanan lainnya.
Saat melakukan pembersihan, kapal-kapal tersebut bisa menjadi sasaran empuk bagi rudal pesisir atau kapal serang cepat.
Untuk itu, mereka butuh perlindungan besar dari kapal perusak dan pesawat tempur.
Baca juga: Bunyi Klaim AS soal 2 Kapal Perangnya Bersihkan Ranjau Selat Hormuz
Tag: #militer #klaim #bakal #bersihkan #ranjau #selat #hormuz #seberapa #bahaya #ancaman