Perundingan Israel-Lebanon di Washington, Apa yang Perlu Diketahui?
Kondisi bangunan dan kendaraan yang hangus terbakar setelah serangan Israel di permukiman Corniche Al Mazraa, Beirut, Lebanon, 8 April 2026. Sekitar pukul 18.00 WIB, serangkaian serangan Israel menghantam tanpa peringatan.(AFP/IBRAHIM AMRO)
20:54
14 April 2026

Perundingan Israel-Lebanon di Washington, Apa yang Perlu Diketahui?

- Israel dan Lebanon akan duduk bersama untuk mencapai kesepakatan damai yang dimediasi oleh Amerika Serikat di Washington, Selasa (14/4/2026).

Dalam perundingan itu, Lebanon berupaya untuk mengamankan gencatan senjata, sedangkan tujuan Israel adalah pelucutan senjata kelompok bersenjata Hizbullah.

AS menggambarkan negosiasi itu sebagai pembicaraan terbuka, langsung, dan tingkat tinggi. Ini merupakan keterlibatan bilateral pertama Israel-Lebanon sejak 1993.

Namun, Hizbullah telah mendesak pemerintah Lebanon untuk menarik diri dari pembicaraan tersebut karena menganggapnya sebagai upaya sia-sia.

Lantas, apa yang perlu diketahui tentang perundingan damai Israel-Lebanon?

Baca juga: Israel-Lebanon Segera Berunding Damai di Washington, Menlu AS Hadir

Siapa saja yang ikut dalam perundingan?

Dikutip dari Al Jazeera, Selasa, perundingan itu melibatkan para duta besar dari kedua negara.

AS menjadi penengah dalam pembicaraan tersebut, dengan Departemen Luar Negeri menggambarkan pertemuan itu sebagai respons yang diperlukan terhadap Hizbullah. 

“Israel sedang berperang dengan Hizbullah, bukan Lebanon, jadi tidak ada alasan mengapa kedua negara tetangga itu tidak boleh berdialog,” kata seorang pejabat.

Para peserta perundingan meliputi:

  • Nada Hamadeh: Duta Besar Lebanon untuk AS
  • Yechiel Leiter: Duta Besar Israel untuk AS
  • Marco Rubio: Menteri Luar Negeri AS
  • Michel Issa: Duta Besar AS untuk Lebanon, bertindak sebagai fasilitator
  • Michael Needham: Penasihat Departemen Luar Negeri, juga sebagai fasilitator

Baca juga: Hizbullah Desak Lebanon Batalkan Negosiasi dengan Israel di AS, Klaim Akan Sia-sia

Mengapa mereka berunding sekarang?

Upaya diplomatik ini dilakukan menyusul peningkatan kekerasan yang intens, dengan Israel dituduh menargetkan daerah sipil di seluruh Lebanon.

Hizbullah juga telah menembakkan roket ke Israel.

Serangan militer Israel di Lebanon telah menewaskan sedikitnya 2.089 orang, termasuk 165 anak-anak dan 87 petugas medis, serta menyebabkan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi.

Lebanon mengatakan, pembicaraan tersebut bertujuan untuk menghentikan serangan Israel terhadap negara itu.

Israel menolak untuk membahas gencatan senjata dan malah menuntut agar Hizbullah meletakkan senjatanya.

Baca juga: Lebanon Berjuang Sendiri Gencatan Senjata dengan Israel, Terpisah dari Iran

Gencatan senjata AS-Iran yang disepakati pekan lalu mencakup Lebanon, tetapi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak untuk mematuhinya. 

Seorang penulis dan analis politik, Ameen Kammourieh menuturkan, Lebanon digunakan sebagai alat tawar-menawar selama negosiasi gencatan senjata di Pakistan antara AS dan Iran.

Menurutnya, AS menjadi perantara pembicaraan langsung ini untuk menyingkirkan kartu truf itu dari tangan Iran. 

Ia mencatat bahwa Israel bergegas bergabung dalam pembicaraan setelah gencatan senjata AS-Iran selama dua minggu untuk mencegah Teheran mengeklaim keberhasilan menghentikan perang di Lebanon.

Baca juga: Berulah Lagi, Tank Israel Tabrak Kendaraan PBB di Lebanon, Akses UNIFIL Diblokir

Apa agenda perundingan?

Kondisi bangunan yang hancur diserang Israel di Kota Tirus, Lebanon, Sabtu (4/4/2026). Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Rabu (8/4/2026) menyampaikan bahwa gencatan senjata Iran-Amerika Serikat juga mencakup di Lebanon, yang menjadi sasaran serangan Israel.AFP/KAWNAT HAJU Kondisi bangunan yang hancur diserang Israel di Kota Tirus, Lebanon, Sabtu (4/4/2026). Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Rabu (8/4/2026) menyampaikan bahwa gencatan senjata Iran-Amerika Serikat juga mencakup di Lebanon, yang menjadi sasaran serangan Israel.

Poin-poin utama yang dibahas meliputi pengamanan gencatan senjata, pelucutan senjata Hizbullah, dan penjajakan pengaturan perdamaian yang lebih luas. 

Namun, kedua pihak mendekati agenda tersebut dari titik awal yang sangat berbeda.

Apa yang diinginkan Israel?

Israel menghadiri pembicaraan tersebut dengan instruksi untuk tidak menyetujui gencatan senjata.

Sebaliknya, Perdana Menteri Netanyahu secara eksplisit menyatakan bahwa Israel menginginkan pembongkaran senjata Hizbullah untuk mencapai perdamaian sejati yang akan berlangsung selama beberapa generasi.

Baca juga: Israel Buka Peluang Dialog Damai dengan Lebanon, Hizbullah Jadi Fokus Utama

Menurut laporan Channel 14, Israel diperkirakan akan mengusulkan rencana kontroversial yang akan membagi Lebanon selatan menjadi tiga zona keamanan:

  • Zona 1 (0-8km dari perbatasan): Kehadiran militer Israel yang intensif dan jangka panjang yang akan tetap ada sampai Hizbullah sepenuhnya dibubarkan
  • Zona 2 (hingga Sungai Litani): Pasukan Israel akan melanjutkan operasi tetapi secara bertahap menyerahkan kendali kepada tentara Lebanon
  • Zona 3 (Utara Sungai Litani): Tentara Lebanon akan memikul tanggung jawab penuh untuk melucuti senjata Hizbullah.

Selain itu, para pejabat Israel telah mengemukakan gagasan untuk secara resmi membangun kembali "zona penyangga" di Lebanon selatan, sebuah kebijakan yang ditinggalkan beberapa dekade lalu karena menghadapi perlawanan dari kelompok bersenjata di Lebanon.

Baca juga: Israel Tolak Gencatan Senjata dengan Hizbullah, Tetap Serang Lebanon

Bagaimana sikap pemerintah Lebanon?

Menurut Menteri Kebudayaan Lebanon, Ghassan Salame memandang, pembicaraan dengan Washington semata-mata sebagai pertemuan pendahuluan untuk mengamankan jeda dalam aktivitas militer.

Ia mengakui bahwa Lebanon tidak memiliki pengaruh yang signifikan, tetapi menekankan pemerintah sedang berupaya untuk menegaskan kembali otoritas negara dan memisahkan masalah Lebanon dari masalah Iran.

Mengenai tuntutan Israel untuk melucuti senjata Hizbullah, Salame memperingatkan bahwa proses tersebut membutuhkan waktu dan tidak dapat dicapai dalam hitungan hari.

Baca juga: Geram Lebanon Diserang Terus, Menhan Pakistan Sebut Israel Kutukan Kemanusiaan

Tahun lalu, pemerintah Lebanon mengumumkan rencana untuk melucuti senjata Hizbullah di bawah tekanan dari AS. Namun, Hizbullah menyebut keputusan itu sebagai penyerahan diri kepada Israel dan AS.

Hizbollah mengatakan, Israel perlu menarik diri dari wilayah selatan negara itu terlebih dahulu sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata 2024.

Kesepakatan 2024 mengharuskan pasukan Israel untuk menarik diri dari Lebanon selatan dan Hizbullah untuk mengakhiri kehadirannya di selatan negara itu.

Namun, Israel tidak pernah sepenuhnya menarik diri dan terus melakukan serangan hampir setiap hari di Lebanon yang melanggar gencatan senjata. Hizbullah tidak membalas hingga pembunuhan Ali Khamenei pada 1 Maret 2026.

Baca juga: Tragedi Berdarah di Lebanon, 250 Tewas Akibat Serangan Udara Israel

Mungkinkah mengarah pada gencatan senjata?

Ledakan di salah satu bangunan Lebanon yang diserang Israel di Desa Abbasiyyeh, 13 Maret 2026. Israel menyerang Hizbullah di Lebanon dalam lanjutan perang Iran yang meluas di Timur Tengah.AFP/KAWNAT HAJU Ledakan di salah satu bangunan Lebanon yang diserang Israel di Desa Abbasiyyeh, 13 Maret 2026. Israel menyerang Hizbullah di Lebanon dalam lanjutan perang Iran yang meluas di Timur Tengah.

Peluang gencatan senjata segera tampaknya tipis. 

Meskipun Lebanon mendorong penghentian permusuhan, seorang pejabat AS mengakui bahwa kekhawatiran utama Israel adalah melucuti senjata Hizbullah.

Israel meragukan kemampuan Beirut untuk memenuhi tuntutan tersebut. Sementara, realita di lapangan mengancam akan menutupi upaya diplomatik di Washington. 

Militer Israel telah mengepung kota penting di selatan, Bint Jbeil, sebuah benteng yang sangat simbolis bagi Hizbullah.

Baca juga: Tak Mau Dicegah, Netanyahu Akan Terus Bombardir Lebanon meski Gencatan Senjata

Pensiunan Brigadir Jenderal Lebanon Hassan Jouni, seorang ahli militer dan strategis, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa hasil pertempuran untuk Bint Jbeil akan secara langsung menentukan batasan negosiasi di Washington.

“Jika tentara Israel sepenuhnya menguasai Bint Jbeil, itu akan memberi mereka sinyal kuat untuk mempertahankan tuntutan tinggi,” kata Jouni. 

“Tetapi jika Hizbullah mempertahankan posisinya dan menjaga kekebalan pertahanannya Israel akan semakin yakin bahwa menundukkan Hizbullah secara militer akan sangat sulit,” sambungnya.

Hal ini secara tidak langsung akan menguntungkan delegasi Lebanon di meja perundingan.

Tag:  #perundingan #israel #lebanon #washington #yang #perlu #diketahui

KOMENTAR