IMF Peringatkan Perang Iran Bisa Picu Resesi dan Inflasi
- Dana Moneter Internasional (IMF) telah menyusun perkiraan tentang seberapa besar dampak perang Iran terhadap ekonomi global, dalam Pertemuan Musim Semi di Washington, AS.
Dilansir Al Jazeera, Rabu (15/4/2026), organisasi tersebut mengatakan bahwa kerusakan ekonomi sudah terjadi.
Bahkan jika perang AS-Iran berakhir hari ini, pertumbuhan ekonomi tetap akan menunjukkan penurunan.
Baca juga: Cara Diam-diam Iran Akuisisi Satelit Mata-mata China untuk Incar Markas AS
Sebaliknya, jika ini berlanjut dalam waktu yang sangat lama dan ada lebih banyak infrastruktur yang rusak, akan memperlambat pertumbuhan ekonomi menjadi 2 persen tahun ini dan mungkin meningkatkan inflasi lebih dari 6 persen tahun depan.
Dampak ekonomi dirasakan berbeda di setiap negara, tetapi para ahli memperkirakan negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk akan terdampak parah.
IMF menyebut, negara-negara berkembang akan merasakan dampaknya jauh lebih besar daripada di AS, yang mana dampak ekonomi akan hampir dua kali lebih buruk.
Baca juga: Blokade AS di Selat Hormuz Dinilai Gagal: 7 Kapal Lolos, 4 Terkait Iran
Perang Iran berpotensi memicu resesi
Gedung markas Dana Moneter Internasional (IMF) terlihat jelang pertemuan musim semi IMF/Bank Dunia di Washington, AS, pada Senin (8/4/2019).
Sebelumnya, IMF memperingatkan eskalasi lebih lanjut dalam perang Iran dan gangguan berkelanjutan terhadap pasar minyak dapat mendorong dunia ke ambang resesi.
Mereka mengatakan skenario terburuknya adalah guncangan berulang pada pasar energi yang akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global menjadi 2 persen dari angka saat ini 3,1 persen.
Berdasarkan prospek ini, harga minyak rata-rata bisa mencapai 110 dolar AS (Rp 1,8 juta) per barel pada 2026 dan 125 dolar AS (Rp 2,1 juta) pada tahun 2027.
IMF juga membayangkan skenario lainnya yang berpotensi terjadi terkait dengan krisis energi akibat perang Iran.
Baca juga: IMF Peringatkan Perang Iran Bisa Picu Resesi Global, Negara Mana Paling Terdampak?
Skenario paling optimis mengasumsikan konflik yang berumur pendek dan harga minyak kembali normal pada paruh kedua 2026, dengan harga rata-rata 82 dolar AS (Rp 1,4 juta) per barel.
Sementara itu, skenario jalan tengah membayangkan konflik yang lebih panjang yang menjaga harga minyak tetap sekitar 100 dolar AS (Rp 1,7 juta) per barel tahun ini dan 75 dolar AS (Rp 1,2 juta) pada tahun 2027.
Kepala ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas mengatakan, jika gangguan energi yang terus berlanjut dan tidak adanya jalan yang jelas untuk mengakhiri konflik, jalan tengah atau "skenario buruk" tampaknya semakin mungkin terjadi.
Tag: #peringatkan #perang #iran #bisa #picu #resesi #inflasi