AS Optimis Capai Kesepakatan dengan Iran, Peringatkan Tekanan Ekonomi jika Menolak
- Amerika Serikat menyatakan optimismenya bisa mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Meski demikian, Washington melayangkan peringatan keras akan adanya peningkatan tekanan ekonomi besar-besaran jika Teheran tetap memilih untuk menentang.
"Kami merasa optimis dengan prospek kesepakatan," kata sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam konferensi pers, dikutip dari Reuters, Rabu (15/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Leavitt juga membantah kabar yang menyebut AS telah secara resmi meminta perpanjangan masa gencatan senjata dua minggu yang sebelumnya disepakati pada 8 April lalu.
Sementara, Presiden Donald Trump meyakini bahwa hampir berakhir, meskipun blokade pengiriman yang diumumkannya telah berlaku dan lalu lintas melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah tingkat normal.
Baca juga: Iran Beri Peringatan soal Blokade Selat Hormuz, Ancam Tenggelamkan Kapal AS
Perundingan kedua di Pakistan
Para pejabat AS dan Iran mempertimbangkan kembali ke Pakistan untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut secepatnya pada akhir pekan mendatang.
Kepala Militer Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, telah tiba di Teheran pada Rabu (15/4/2026) dalam misi mediasi untuk mencegah pecahnya kembali konflik terbuka.
Kehadiran Munir disambut baik oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, yang menyatakan komitmen Teheran dalam mengupayakan perdamaian kawasan.
Sebagai mediator yang terlibat dalam putaran sebelumnya, Munir diharapkan mampu mempersempit jurang perbedaan antara kedua belah pihak setelah perundingan akhir pekan lalu gagal membuahkan hasil.
Diketahui, perundingan akhir pekan lalu gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Baca juga: Ungkap Nasib Iran, Trump Klaim Dunia Bisa Kocar-kacir jika Ia Bukan Presiden
Tekanan ekonomi terhadap Iran
Sementara, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperkirakan, ekspor minyak Iran ke China akan terhenti total akibat blokade AS terhadap kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan Iran.
Ia menegaskan, AS siap menjatuhkan sanksi sekunder bagi negara manapun yang nekat membeli minyak mentah dari Teheran.
Departemen Keuangan AS telah memperingatkan dua bank China untuk tidak memproses uang Iran atau menghadapi sanksi, tanpa menyebutkan nama bank tersebut.
Sebelumnya, China membeli lebih dari 80 persen minyak Iran yang diekspor.
"Pihak Iran harus tahu bahwa ini akan menjadi setara secara finansial dengan apa yang kita lihat dalam aktivitas kinetik," kata Bessent.
Baca juga: Diplomasi di Bawah Bayang-bayang Blokade: Menakar Tuntutan Reparasi Iran
Ia merujuk pada kampanye serangan udara AS dan Israel yang menewaskan sejumlah pemimpin Iran dan merusak kemampuan pertahanan serta angkatan lautnya.
Menurutnya, AS tidak akan memperbarui dispensasi yang memungkinkan pembelian sebagian minyak Rusia dan Iran tanpa menghadapi sanksi AS.
Langkah-langkah ini menandai berakhirnya upaya pemerintahan Trump untuk menggunakan dispensasi tersebut guna membebaskan lebih banyak pasokan minyak dan menurunkan harga energi global yang melonjak.
Perang tersebut telah menyebabkan Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi kapal selain kapalnya sendiri, sehingga secara tajam mengurangi ekspor dari Teluk dan membuat importir energi berebut pasokan alternatif.
Baca juga: 20 Kapal Berhasil Lewat Selat Hormuz di Tengah Blokade AS, Lalu Lintas Mulai Pulih?
Isu nuklir dan Lebanon jadi hambatan perundingan
Kondisi bangunan dan kendaraan yang hangus terbakar setelah serangan Israel di permukiman Corniche Al Mazraa, Beirut, Lebanon, 8 April 2026. Sekitar pukul 18.00 WIB, serangkaian serangan Israel menghantam tanpa peringatan.
Ambisi nuklir Iran menjadi poin penting yang diperdebatkan dalam pembicaraan akhir pekan lalu.
AS mengusulkan penangguhan semua aktivitas nuklir Iran selama 20 tahun, sementara Teheran menyarankan penghentian selama tiga hingga lima tahun, menurut orang-orang yang mengetahui proposal tersebut.
Washington juga mendesak agar semua material nuklir yang diperkaya dikeluarkan dari Iran, sedangkan Teheran menuntut agar sanksi internasional terhadapnya dicabut.
Salah satu sumber yang terlibat dalam pembicaraan tersebut mengatakan, diskusi melalui jalur belakang telah menghasilkan kemajuan dalam mempersempit kesenjangan, membawa kedua belah pihak lebih dekat pada kesepakatan yang dapat diajukan pada putaran pembicaraan baru.
Namun, sikap Israel yang terus menyerang Lebanon dengan menargetkan Hizbullah, memperumit perundingan itu.
Tag: #optimis #capai #kesepakatan #dengan #iran #peringatkan #tekanan #ekonomi #jika #menolak