Gambaran Trump tentang Perang di Iran Tak Sesuai Realita?
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana pengenaan tarif terhadap negara-negara Eropa yang sebelumnya dikaitkan dengan upayanya untuk mengambil alih Greenland.(FABRICE COFFRINI)
13:30
16 April 2026

Gambaran Trump tentang Perang di Iran Tak Sesuai Realita?

- Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus berupaya membangun narasi bahwa perang melawan Iran telah mencapai titik kemenangan. 

Namun, di balik klaim keberhasilan itu, banyak analis menilai bahwa realitas di lapangan jauh lebih kompleks dan tidak sepenuhnya tunduk pada narasi yang dibangun oleh Gedung Putih.

Dalam wawancara dengan Fox Business yang ditayangkan Rabu (15/4/2026), Trump menyebut kepemimpinan Iran saat ini sebagai "rezim baru" yang ia anggap lebih masuk akal untuk diajak berkomunikasi.

“Sejujurnya, kami menganggap mereka cukup masuk akal, jika dibandingkan, cukup masuk akal,” ujar Trump sebagaimana dikutip dari New York Times, Kamis (16/4/2026).

Ini adalah contoh terbaru dari upaya Trump untuk memutarbalikkan fakta dan mengeklaim keberhasilan perubahan rezim di Iran. 

Baca juga: Trump Mau Bangun Gapura Kemenangan di Ibu Kota AS, Didanai Pajak dan Swasta

Realita di balik klaim perubahan rezim Iran

Kendati demikian, para analis percaya, perang tersebut mungkin hanya meningkatkan pengaruh internal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan kelompok garis keras Iran.

Pengangkatan Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi menggantikan ayahnya justru dipandang sebagai simbol kontinuitas, bukan perubahan substansial.

“Paling optimistis, bisa dikatakan ada perubahan kepemimpinan,” kata Behnam Ben Taleblu, direktur senior program Iran di Foundation for Defense of Democracies, sebuah lembaga think tank di Washington yang memiliki sikap keras terhadap Iran. 

“Tidak tepat bagi para pendukung konflik untuk menganggap ini sebagai perubahan ke arah yang lebih baik,” lanjutnya.

Meski perdagangan melalui Selat Hormuz masih jauh dari normal dan pemerintah Iran tidak tunduk pada tuntutan AS terkait program nuklirnya, Trump mengeklaim kemenangan AS di Iran sudah jelas. 

Baca juga: Hubungan Rusia-China Makin Mesra Saat AS dan Iran Berperang

Klaim kemenangan militer vs realita

Trump berulang kali menegaskan bahwa kekuatan militer Iran, termasuk angkatan laut, udara, dan sistem pertahanan mereka, telah musnah. 

Ia menggunakan argumen ini untuk memaksa Iran menyerah pada tuntutan nuklir AS.

"Jika Iran tidak mengesampingkan senjata nuklir, kita akan hidup berdampingan dengan mereka untuk sementara waktu, tetapi saya tidak tahu berapa lama lagi mereka bisa bertahan,” ujarnya.

Faktanya, menurut para analis, 40 hari pengeboman AS-Israel yang berakhir dengan gencatan senjata pekan lalu tampaknya telah meningkatkan kekuatan militer dan kelompok garis keras dalam sistem Iran.

Terlepas dari kehancuran yang meluas dan pembunuhan para pejabat oleh militer AS dan Israel, rezim Iran bertindak semakin berani.

Baca juga: Iran Tuntut Ganti Rugi Perang Rp 4.265 Triliun, Desak AS-Israel Tanggung Jawab

Strategi gertakan Trump tak mempan

Warga Iran bereaksi setelah pengumuman gencatan senjata di Lapangan Enqelab, Teheran, Rabu (8/4/2026). Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat untuk gencatan senjata selama dua minggu, kurang dari satu jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump.AFP Warga Iran bereaksi setelah pengumuman gencatan senjata di Lapangan Enqelab, Teheran, Rabu (8/4/2026). Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat untuk gencatan senjata selama dua minggu, kurang dari satu jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump.

Akibatnya, seorang presiden yang selama ini mengandalkan ancaman dan gertakan sebagai alat kebijakan luar negeri yang penting, tampaknya sedang berupaya mencari pengaruh untuk menundukkan rezim Iran. 

Para analis melihat, keberhasilan upaya terbaru pemerintahan ini, yaitu blokade pelabuhan Iran, bergantung pada kemampuan AS dan sekutunya untuk menahan tekanan tambahan yang dapat diberikan Iran terhadap perdagangan di Teluk Persia.

Mantan pejabat Departemen Luar Negeri dan pakar Timur Tengah, Mona Yacoubian membandingkan perjuangan Trump di Iran dengan keberhasilannya dalam mendapatkan konsesi dari sekutu AS dengan ancaman tarif.

“Ini bukanlah sesuatu yang dapat ia kendalikan hanya dengan sekali goresan pena,” kata Yacoubian, yang memimpin program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies, sebuah lembaga think tank di Washington. 

“Di sinilah pendekatan presiden yang mengandalkan kepribadiannya yang karismatik dan kuat, menurut pandangan saya, tidak sebanding dengan kompleksitas dan ketidakjelasan yang terjadi di Iran,” lanjutnya.

Baca juga: Pangkalan Rahasia Iran Eagle 44 Dihantam Serangan, AS-Israel Bungkam

Iran pegang kartu AS, harga gas dan pemilu

Pemerintahan Trump sangat ingin menggambarkan kesepakatan terobosan dengan Iran sebagai sesuatu yang mungkin terjadi. 

Wakil Presiden JD Vance mengatakan, Trump menginginkan kesepakatan besar, yakni AS akan memperlakukan Iran seperti negara normal jika Teheran bertindak seperti lainnya.

“Dia tidak menginginkan kesepakatan kecil,” kata Vance.

Vance mengakhiri sesi pembicaraan panjang dengan para pejabat Iran di Pakistan pekan lalu tanpa kesepakatan. 

Namun, Iran tampaknya telah menyadari pengaruh yang dimilikinya terhadap Trump, mengingat dampak kenaikan harga gas dan kekhawatiran Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu pada November. 

Artinya, meskipun Iran tampaknya siap untuk bernegosiasi, para pemimpinnya dapat mengajukan tuntutan mereka sendiri, seperti tata kelola Selat Hormuz di masa depan, sambil tetap melakukan tawar-menawar yang keras mengenai kebijakan nuklir.

Tag:  #gambaran #trump #tentang #perang #iran #sesuai #realita

KOMENTAR