Efek Dekat dengan Rusia dan China, Ekonomi Korea Utara Mulai Berdenyut
Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un dan putrinya, Kim Ju Ae, saat menghadiri parade militer untuk menutup Kongres Partai Buruh di Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang, Kamis (26/2/2026).(KCNA/KNS via AFP)
14:12
17 April 2026

Efek Dekat dengan Rusia dan China, Ekonomi Korea Utara Mulai Berdenyut

- Perekonomian Korea Utara dilaporkan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. 

Kondisi ini terjadi seiring dengan langkah Pyongyang memperdalam hubungan perdagangan dan diplomatik dengan dua sekutu utamanya, Rusia dan China.

Laporan tersebut disampaikan oleh Kementerian Unifikasi Korea Selatan dalam sebuah dokumen resmi yang dikirimkan kepada AFP, Jumat (17/4/2026). 

Baca juga: Temuan PBB: Korea Utara Semakin Dekat dengan Senjata Nuklir

Menurut kementerian tersebut, Korea Utara tampaknya telah melewati periode kontraksi dan kini memasuki fase pemulihan bertahap.

Selama bertahun-tahun, pertumbuhan ekonomi Korea Utara terhambat oleh sistem perencanaan sosialis yang kaku, besarnya anggaran militer, serta sanksi internasional yang ketat akibat program senjata nuklirnya.

Namun, keterisolasian tersebut mulai terkikis berkat dukungan dari China.

Sebagai pendukung ekonomi utama, China baru-baru ini mempererat kerja sama praktis. 

Baca juga: Belajar dari Perang Iran, Korea Utara Tembakkan Rudal Pembawa Nuklir

Maskapai Air China telah mengoperasikan kembali penerbangan langsung Beijing-Pyongyang pada Maret lalu setelah ditangguhkan selama enam tahun. 

Selain itu, layanan kereta api penumpang harian antar-kedua ibu kota juga telah beroperasi kembali.

Sementara itu, hubungan Pyongyang dengan Moskwa semakin erat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. 

Para analis menyebut Pyongyang menerima bantuan teknologi militer dan ekonomi dari Rusia sebagai imbalan atas pengiriman pasukan serta amunisi untuk membantu perang di Ukraina.

Menteri Luar Negeri China, dalam kunjungannya ke Pyongyang pekan lalu, menyatakan harapan Beijing untuk lebih lanjut mempromosikan kerja sama praktis dengan Korea Utara.

Baca juga: Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik, Pupus Harapan Diplomasi Seoul

Tantangan di tengah ambisi nuklir

Meski ekonomi menunjukkan tren positif, Pyongyang menegaskan tidak akan menghentikan program nuklir dan rudalnya. 

Hal ini tetap dilakukan meski tekanan internasional telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Secara statistik, ekonomi Korea Utara masih sangat kecil dibandingkan negara tetangganya. 

Berdasarkan estimasi resmi Korea Selatan, Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Korea Utara pada tahun 2024 setara dengan sekitar 30 miliar dollar AS. 

Angka ini hanyalah sebagian kecil dari ekonomi Korea Selatan yang merupakan salah satu yang paling maju di dunia.

Baca juga: Kim Jong Un Kukuhkan Korea Utara sebagai Negara Nuklir

Optimisme Kim Jong Un

Di satu sisim Korea Utara memiliki sejarah panjang krisis pangan, termasuk kelaparan hebat pada pertengahan 1990-an yang menewaskan ratusan ribu orang. 

Laporan terbaru juga menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 juga sempat mendorong banyak warga ke jurang kelaparan ekstrem.

Namun, dalam kongres penting pada Februari lalu, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menjanjikan peningkatan standar hidup masyarakat. 

Dia mengeklaim bahwa negaranya telah mengatasi kesulitan terburuk dalam lima tahun terakhir.

Kim Jong Un menyatakan bahwa saat ini Korea Utara sedang memasuki fase yang penuh dengan optimisme dan kepercayaan diri terhadap masa depan.

Baca juga: Skenario jika Rezim Iran Tumbang, Bisa Jadi seperti Venezuela atau Korea Utara

Tag:  #efek #dekat #dengan #rusia #china #ekonomi #korea #utara #mulai #berdenyut

KOMENTAR