Ukraina Kini Pakai Robot untuk Perang, Tak Perlu Korbankan Nyawa
Ilustrasi robot. (freepik)
19:36
21 April 2026

Ukraina Kini Pakai Robot untuk Perang, Tak Perlu Korbankan Nyawa

- Pemandangan tak lazim terjadi di garis depan medan pertempuran Ukraina. 

Dua tentara Rusia tampak mengangkat tangan ke udara, menyerah dengan patuh mengikuti instruksi yang diteriakkan. 

Namun, tidak ada satu pun prajurit manusia yang menyergap mereka. Keduanya justru menyerah kepada robot darat dan drone yang dikendalikan oleh pilot dari jarak bermil-mil jauhnya.

Peristiwa ini menandai era baru peperangan yang sedang berlangsung saat ini. 

Baca juga: Curhat Zelensky, AS Tak Punya Waktu untuk Ukraina gara-gara Perang Iran

Di bawah komando Mykola Zinkevych dari unit NC13 Brigade Serangan Terpisah Ketiga Ukraina, teknologi robotik mulai mengambil alih peran paling berbahaya yang selama ini dipikul oleh infanteri.

"Posisi itu direbut tanpa satu tembakan pun," kenang Zinkevych, dikutip dari CNN, Minggu (20/4/2026).

Operasi tersebut menjadi tonggak sejarah di mana posisi musuh diserbu dan tawanan ditangkap sepenuhnya oleh mesin tanpa keterlibatan fisik tentara di lokasi.

Bagi Ukraina, ini menjadi rutinitas harian untuk menyeimbangkan kekuatan melawan jumlah personel Rusia yang jauh lebih besar.

Baca juga: Tak Lagi Andalkan AS, Negara Teluk Borong Drone Pencegat Murah dari Ukraina

Keunggulan mesin di medan tempur

Selama bertahun-tahun, langit Ukraina telah dipenuhi drone udara, namun kini eksperimen beralih ke drone darat, sebuah kendaraan kendali jarak jauh dengan roda atau trek. 

Awalnya, robot-robot ini hanya digunakan untuk evakuasi medis dan logistik. Tapi, kini mereka berevolusi menjadi mesin penyerang yang mematikan.

Drone darat menawarkan keunggulan yang tidak dimiliki kendaraan militer besar, yakni sulit terdeteksi, mampu beroperasi dalam cuaca ekstrem, dan memiliki daya tahan baterai yang luar biasa. 

Baca juga: Rusia dan Ukraina Saling Tuduh Langgar Gencatan Senjata Paskah

Zinkevych menceritakan, sebuah robot bersenapan mesin yang mampu menahan serangan Rusia selama 45 hari hanya dengan perawatan ringan.

Strategi ini lahir dari kesadaran pahit akan keterbatasan sumber daya manusia. 

"Kita tidak akan pernah memiliki lebih banyak personel dibandingkan musuh. Oleh karena itu, kita perlu mencapai keunggulan melalui teknologi," tegas Zinkevych. 

Ambisi Ukraina kini menargetkan sepertiga pasukan infanteri dapat digantikan oleh robot pada tahun ini.

Baca juga: Ukraina Mulai Beraksi Jatuhkan Drone Iran di Timur Tengah

Visi strategis yang tak korbankan nyawa

Foto yang diambil dan dirilis oleh Dinas Darurat Negara Ukraina pada Rabu (9/7/2025) menunjukkan petugas pemadam kebakaran memadamkan api setelah serangan Rusia di wilayah Kyiv di tengah invasi Rusia ke Ukraina.AFP Foto yang diambil dan dirilis oleh Dinas Darurat Negara Ukraina pada Rabu (9/7/2025) menunjukkan petugas pemadam kebakaran memadamkan api setelah serangan Rusia di wilayah Kyiv di tengah invasi Rusia ke Ukraina.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mengungkapkan, dalam tiga bulan terakhir, drone dan robot telah menjalankan lebih dari 22.000 misi. 

Angka ini menjadi simbol keberhasilan industri militer domestik Ukraina. 

Menurut Zelensky, ribuan nyawa prajurit berhasil diselamatkan karena robot yang memasuki area paling berbahaya.

Transformasi ini semakin cepat sejak pengangkatan Mykhailo Fedorov sebagai Menteri Pertahanan.

Baca juga: Terinspirasi Gencatan Senjata AS-Iran, Ukraina Desak Washington Tekan Rusia

Dengan latar belakang transformasi digital, Fedorov merancang cetak biru peperangan yang mengandalkan data untuk menciptakan "zona pembunuhan" sedalam 20 kilometer di sepanjang garis depan. 

Pada zona ini, drone dan robot beroperasi tanpa henti untuk menahan setiap pergerakan musuh.

Ahli peperangan dari Royal United Services Institute, Robert Tollast menilai, meski robot mungkin belum bisa sepenuhnya mempertahankan wilayah tanpa dukungan manusia, peran mereka dalam evakuasi, pembersihan ranjau, dan pertempuran langsung telah mengubah doktrin perang modern secara fundamental.

Baca juga: Ukraina Mau Bantu Buka Blokade Selat Hormuz, Sudah Pengalaman di Laut Hitam

Masih perlu tenaga manusia

Namun, banyak yang tetap berhati-hati dalam menggunakan AI pada drone darat. 

Meskipun Zinkevych dapat melihat beberapa proses yang diotomatisasi, ia tidak yakin bahwa teknologi otonom sepenuhnya memiliki tempat di medan perang.

“Keputusan akhir harus selalu dibuat oleh manusia,” katanya. 

“Apakah Anda akan mempercayakan senjata kepada kecerdasan buatan? Bagaimana kita bisa yakin bahwa ia mampu membedakan teman dari musuh? Bagaimana kita bisa yakin tidak akan ada kerusakan atau sesuatu yang salah?” lanjutnya.

Baca juga: Merasa Dibohongi Zelensky, AS Mau Alihkan Pasokan Senjata Ukraina ke Timur Tengah

Kendati demikian, sebagai mantan prajurit infanteri dan komandan kelompok penyerang, yang kini bertanggung jawab atas robot, Zinkevych mengaku selalu kagum dengan kemajuan teknologi yang telah ia saksikan selama empat tahun terakhir.

“Jika saya mendengar diri saya berbicara seperti ini pada 2022, saya akan mengatakan bahwa itu adalah ucapan orang gila itu semua hanyalah fiksi ilmiah,” ujarnya.

“Nyawa manusia tak ternilai harganya, sedangkan robot tidak berdarah," tambahnya.

Karenanya, ia meyakini bahwa sistem robot darat perlu dikembangkan jauh lebih cepat, dalam skala yang jauh lebih besar, dan diimplementasikan sebagai sistem global untuk digunakan di medan perang.

Tag:  #ukraina #kini #pakai #robot #untuk #perang #perlu #korbankan #nyawa

KOMENTAR