China Isyaratkan Mau Punya Kapal Induk Nuklir Baru
China memberi sinyal tengah menyiapkan kapal induk baru yang diduga bertenaga nuklir melalui sebuah video propaganda terbaru.
Video tersebut dirilis menjelang peringatan 77 tahun Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China.
Selain itu, Beijing juga menegaskan komitmen untuk terus membangun dan “melindungi” pulau-pulau yang diklaimnya.
Baca juga: Waspadai Dominasi China, AS Perdalam Kerja Sama dengan Uni Eropa
Isyarat kapal induk nuklir keempat
Dalam video berjudul “Into the Deep”, seperti dilansir Reuters pada Kamis (23/4/2026), China menampilkan karakter fiksi dengan nama yang merupakan homofon dari tiga kapal induk aktifnya, yaitu Liaoning, Shandong, dan Fujian.
Munculnya tokoh baru berusia 19 tahun bernama “He Jian” memicu spekulasi publik bahwa China tengah mengembangkan kapal induk keempat, yang kemungkinan menggunakan tenaga nuklir.
Nama “He Jian” sendiri dalam bahasa Mandarin terdengar mirip dengan istilah “kapal nuklir”.
Selain itu, usia 19 tahun karakter tersebut dianggap mengacu pada nomor lambung berikutnya, setelah tiga kapal induk China saat ini yang bernomor 16, 17, dan 18.
Hingga kini, Kementerian Pertahanan China belum memberikan tanggapan resmi terkait makna video tersebut.
Ambisi “bluewater navy”
China diketahui menggelontorkan miliaran dollar untuk membangun “bluewater navy”, yakni angkatan laut yang mampu beroperasi jauh dari perairan domestik. Ambisi ini telah menjadi prioritas sejak Presiden Xi Jinping berkuasa pada 2012.
Video tersebut juga menampilkan adegan latihan militer dan serangan di kawasan Pasifik, sekaligus mengirim pesan simbolik kepada Taiwan yang memiliki pemerintahan demokratis namun diklaim sebagai bagian dari wilayah China.
Dalam salah satu adegan, percakapan antara seorang perwira angkatan laut dan anaknya yang bernama “Xiao Wan”—yang merujuk pada Taiwan—menjadi sorotan.
“Saya belum ingin pulang. Saya ingin bermain lebih lama,” kata sang anak.
Ayahnya menjawab, “Xiao Wan, jangan mempersulit. Ibu menunggumu di rumah. Ayo kita pulang.”
Baca juga: Misteri Kapal Nelayan Hantu di Laut China Selatan: Tak Mancing, Dibayar Rp 60 Juta
Perkuat pulau dan wilayah sengketa
Secara terpisah, Kementerian Sumber Daya Alam China menyerukan upaya lebih besar untuk “melindungi” lebih dari 11.000 pulau yang diklaim negara itu. Mayoritas pulau tersebut berada dalam jarak 100 km dari garis pantai, dengan sekitar 60 persen di Laut China Timur dan 30 persen di Laut China Selatan.
Selama bertahun-tahun, China telah membangun pulau buatan, landasan pacu, dan fasilitas militer di wilayah sengketa di Laut China Selatan melalui proyek reklamasi besar-besaran.
Pada September lalu, Beijing bahkan menetapkan kawasan konservasi alam nasional di Scarborough Shoal, wilayah yang lama menjadi titik panas sengketa dengan Filipina.
Kehadiran militer di kawasan
Upacara peresmian dan pengibaran bendera Fujian, kapal induk pertama China yang dilengkapi ketapel elektromagnetik, di pelabuhan angkatan laut di Kota Sanya, Provinsi Hainan, China, Rabu (5/11/2025).
Gregory Poling dari lembaga pemikir CSIS menilai fasilitas di pulau buatan China memungkinkan patroli intensif di wilayah luas.
“Fasilitas di pangkalan pulau buatannya memungkinkan aparat penegak hukum, angkatan laut, dan kapal milisi China berpatroli setiap hari sepanjang tahun hingga 1.000 mil laut dari garis pantai China,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai pengaruh China mulai menghadapi batas.
“Beijing tampaknya telah mencapai titik hasil yang semakin berkurang. Dalam setidaknya empat tahun terakhir, mereka tidak berhasil menghentikan satu pun proyek energi, misi pasokan ulang, atau pembangunan di Asia Tenggara,” kata Poling.
Di sisi lain, Taiwan tetap menunjukkan kehadirannya dengan kunjungan pejabat tinggi ke Pulau Itu Aba di Kepulauan Spratly yang dipersengketakan. Pulau ini memiliki landasan pacu yang mampu mendukung penerbangan logistik militer, serta dermaga baru yang dapat menampung kapal patroli hingga 4.000 ton.
Sementara itu, Filipina, Amerika Serikat, dan negara mitra menggelar latihan militer gabungan pekan lalu di seluruh kepulauan Filipina, termasuk operasi maritim.
Baca juga: China Tiba-tiba Minta Warganya Keluar Iran Segera, Ada Apa?