Negosiasi Buntu, Konflik AS-Iran Masuk Fase Mirip Perang Dingin
Personel Angkatan Laut Amerika Serikat saat berjaga di kapal USS Monterey (CG 61) yang sedang transit di Selat Hormuz pada 3 Juni 2021.(US NAVY/CHELSEA PALMER via AFP)
21:24
28 April 2026

Negosiasi Buntu, Konflik AS-Iran Masuk Fase Mirip Perang Dingin

- Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat.

Konflik keduanya memasuki fase seperti Perang Dingin, dengan sanksi keuangan, pencegahan kapal perang, dan pembicaraan tentang kemungkinan diadakannya dialog, dilansir media AS Axios, Selasa (28/4/2026) yang mengutip pejabat AS.

Menurut laporan tersebut, beberapa pejabat mengatakan bahwa mereka khawatir AS akan terseret ke dalam konflik beku tanpa perang dan tanpa kesepakatan.

Baca juga: UEA Keluar dari OPEC Imbas Perang Iran, Kecewa dengan Negara-negara Arab


Dalam skenario ini, Washington harus mempertahankan pasukannya di wilayah tersebut selama berbulan-bulan lagi.

Kemudian, Selat Hormuz akan tetap tertutup, blokade AS akan tetap berlaku, dan kedua belah pihak akan terus menunggu pihak lain untuk menyerah atau menyerang lebih dulu.

"Konflik yang membeku adalah hal terburuk bagi (Presiden AS Donald) Trump secara politik dan ekonomi," kata sebuah sumber yang dekat dengan presiden.

Baca juga: Iran Siap Bagi Kemampuan Pertahanan ke Negara Lain, Klaim AS Tak Lagi Dominan

Donald Trump berada dalam kebimbangan

Trump bimbang antara melancarkan serangan militer baru atau menunggu apakah sanksi keuangan yang diberlakukannya akan membuat Iran lebih cenderung bernegosiasi untuk mengakhiri program nuklirnya, menurut lima penasihat yang telah berbicara dengannya.

"Yang dipahami semua [pemimpin Iran] hanyalah bom," kata Trump baru-baru ini kepada seorang penasihat, yang kemudian menyampaikan komentar tersebut kepada Axios.

Baca juga: Iran Sebut AS Tak Berhak Mendikte Negara Lain, Minta Hentikan Tuntutan Irasional

"Saya akan menggambarkannya sebagai orang yang frustrasi tetapi realistis. Dia tidak ingin menggunakan kekerasan. Tetapi dia tidak akan mundur." kata penasihat itu.

Saat ini, kebuntuan negosiasi Teheran dan Washington belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat.

Kenaikan harga energi tampaknya pasti akan terjadi selama berbulan-bulan, dan perang terbuka dapat meletus kapan saja.

Baca juga: Iran Disebut Butuh China untuk Damai dengan AS, Beijing Perlu Turun Tangan

AS ingin sanksi ekonomi terhadap Iran ditambah

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pidato kenegaraan mengenai konflik Timur Tengah di Cross Hall, Gedung Putih, Washington DC, 1 April 2026.AFP/POOL/ALEX BRANDON Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pidato kenegaraan mengenai konflik Timur Tengah di Cross Hall, Gedung Putih, Washington DC, 1 April 2026.

Beberapa penasihat senior Trump ingin dia mempertahankan blokade AS terhadap Selat Hormuz untuk saat ini, dan memberlakukan lebih banyak sanksi ekonomi untuk menekan Iran, sebelum kembali melakukan pengeboman.

"Tingkat sanksi terhadap Iran sangat luar biasa, tekanan terhadap Iran sangat luar biasa, dan saya pikir lebih banyak lagi yang dapat diterapkan," ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang juga penasihat keamanan nasional Trump, dalam wawancara Fox News, Senin (27/4/2026).

"Saya berharap seluruh dunia akan bergabung dengan kami dalam sanksi berat dan hal-hal lain yang kami lakukan untuk menekan rezim tersebut agar membuat konsesi yang tidak ingin mereka buat," lanjutnya.

Baca juga: AS Tak Mengira Iran Kirim Proposal Bagus, Langsung Dibahas Trump dan Gedung Putih

Para pejabat pemerintahan Trump dan sekutunya percaya bahwa sanksi tersebut dapat membuat Iran tidak mungkin lagi menyimpan lebih banyak minyak.

Dengan begitu, Teheran harus menutup sumur-sumur minyaknya yang menyebabkan kerusakan ekonomi besar.

Namun, para analis yang mengkritik perang tersebut mengatakan bahwa hal itu tidak akan berhasil untuk mendapatkan konsesi dari Iran.

Baca juga: Iran Tiba-tiba Tawarkan Akhiri Perang, AS Diberi Syarat Ini

Trump disebut tidak tertarik menerima proposal Iran

Trump membahas proposal Iran dengan tim keamanan nasional pada Senin, yang menawarkan untuk menegosiasikan kesepakatan tambahan guna membuka Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade AS terhadap kapal-kapal yang berlayar ke dan dari Iran.

Seorang pejabat AS dan dua sumber lain yang mendapat pengarahan mengenai pertemuan tersebut mengatakan, belum ada keputusan yang diambil.

Seorang sumber mengatakan bahwa Trump tampaknya tidak bersedia menerima proposal Iran karena hal itu akan menunda pembicaraan mengenai program nuklir Teheran.

“Garis merah presiden terkait Iran telah dijelaskan dengan sangat, sangat jelas, tidak hanya kepada publik Amerika, tetapi juga kepada mereka,” kata Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.

Tag:  #negosiasi #buntu #konflik #iran #masuk #fase #mirip #perang #dingin

KOMENTAR