Warga AS Marah Besar Harga Bensin Naik Tertinggi, Caci Maki Trump
- Warga Amerika Serikat tak kuasa menahan amarah ketika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik ke level tertinggi sejak 2022, buntut dari serangan AS-Israel ke Iran.
Di salah satu pom bensin Los Angeles, Ryder Thomas (28) dengan muka masam mengisi BBM ke kendaraannya.
Untuk mengisi penuh (full tank) kini Thomas harus merogoh kocek 130 dollar AS (Rp 2,25 juta), naik 30 dollar AS (Rp 519.000) dari sebelumnya.
Baca juga: Harga Naik, Kenapa Bensin di AS Tetap Lebih Murah dari Negara Lain?
"Saya marah melihat harganya, tetapi saya lebih marah lagi mengapa harganya begitu tinggi," kata Thomas kepada AFP, dikutip pada Sabtu (2/5/2026).
Kenaikan harga bensin dipicu terganggunya pasokan minyak global, setelah Iran memblokade Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima minyak dan gas dunia.
Situasi ini memicu lonjakan harga minyak mentah yang kemudian berdampak langsung pada harga BBM di berbagai wilayah "Negeri Paman Sam".
Di California, harga bensin bahkan menembus lebih dari 6 dollar AS (Rp 104.000) per galon atau sekitar 1,59 dollar AS (Rp 27.500) per liter, naik dari kisaran 4,5 dollar AS (Rp 78.000) per galon sebelum perang pecah.
Thomas menilai, perang yang dipimpin Presiden AS Donald Trump tidak memiliki alasan jelas dan justru memperburuk kondisi ekonomi masyarakat.
“Perang ini sama sekali tidak perlu. Sama seperti ketika kita menginvasi Irak, tidak ada senjata pemusnah massal,” keluhnya.
Baca juga: Timbun 4 Liter Bensin saat Krisis, Pria Ini Dipenjara 3 Minggu
Dampak ekonomi di AS terus meluas
Billboard digital di Times Square, New York, Amerika Serikat, menampilkan tulisan Akhiri Perang Iran Sekarang, pada 30 April 2026.Selama beberapa pekan, Trump berulang kali menyatakan bahwa serangan ke Iran bertujuan mencegah negara tersebut memiliki senjata nuklir, dan berjanji perang tak berlarut-larut.
Namun, kondisi di lapangan justru sebaliknya. Dampak ekonomi kini terus meluas akibat gangguan pasokan energi global.
Thomas juga mengkhawatirkan efek berantai dari kenaikan tarif BBM terhadap harga kebutuhan lain seperti makanan dan pakaian.
Ia berharap pemilih moderat yang sebelumnya mendukung Trump mulai menyadari dampak kebijakan tersebut terhadap kehidupan mereka.
Sementara itu, warga lain bernama David Chavez memiliki pandangan berbeda terkait penyebab kenaikan harga bensin.
Pria yang bekerja sebagai juru kamera itu mengakui kenaikan harga BBM bukan hal menyenangkan, tetapi menurutnya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan satu pihak.
Baca juga: Minat Warga Singapura pada Mobil Listrik Menurun, Mau Kembali ke Mobil Bensin
"Kita tidak tahu semua yang terjadi di baliknya. Terlalu mudah menyalahkan satu orang atas semua masalah," ucapnya.
Chavez pernah memilih Partai Demokrat, tetapi beralih mendukung Trump karena menilai penanganan imigrasi dan ekonomi di era Presiden Joe Biden tidak memuaskan.
Ia juga menuding perusahaan minyak besar memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga, serta menyebut regulasi lingkungan di California turut mendorong tingginya biaya bahan bakar.
Meski demikian, Chavez tetap menyebut Trump tidak buruk-buruk amat.
"Trump masih menangani banyak hal sedikit lebih baik," ujarnya.
Baca juga: Suami Tinggalkan Istri di Pom Bensin, Baru Sadar Setelah 300 Km
Pensiunan ikut merana
Dampak kenaikan harga BBM juga dirasakan kelompok rentan, termasuk pensiunan.
Perempuan berusia 73 tahun bernama Flo kesulitan memenuhi kebutuhan hidup akibat lonjakan biaya.
"Dengan harga bensin setinggi ini, saya sekarang lebih sering pergi ke bank makanan daripada sebelumnya," katanya. "Saya juga harus mengurangi mengemudi."
Flo menyebut penghasilannya sekitar 3.000 dollar AS (Rp 52 juta) per bulan dari pekerjaan paruh waktu dan dana pensiun, hampir setengahnya digunakan untuk membayar sewa.
"Hidup sudah sulit," ujarnya. "Tapi sekarang justru lebih sulit."
Baca juga: Mau ke Mana Sebenarnya Amerika dan Iran?
Tag: #warga #marah #besar #harga #bensin #naik #tertinggi #caci #maki #trump