AS Panik, Sebut Iran Sangat Dekat dengan Produksi Senjata Nuklir
- Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright memperingatkan bahwa Iran sangat dekat dengan pengembangan uranium yang diperkaya untuk keperluan senjata nuklir.
Dia mengatakan pada Rabu (13/5/2026), uranium yang diperkaya milik Iran membuat mereka hanya tinggal beberapa minggu lagi dari ambang batas yang diperlukan untuk memiliki senjata nuklir.
“Mereka hanya butuh beberapa minggu lagi untuk memperkaya uranium tersebut menjadi uranium tingkat senjata,” kata Wright kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat, dilansir New York Post, Rabu (13/5/2026).
“Masih ada proses persenjataan yang terjadi setelah itu, tetapi mereka sudah cukup dekat,” sambungnya.
Baca juga: Trump Kecewa Iran Ingkar Janji soal Uranium yang Diperkaya
Kepemilikan uranium Iran mengkhawatirkan
Iran "hanya beberapa minggu lagi" untuk menjadikannya senjata nuklir kelas murni, demikian kesepakatan Wright dan Senator Richard Blumenthal (D-Conn.) dalam sidang tersebut.
“Mereka memiliki uranium yang diperkaya sekitar 20 persen, dan itu beberapa minggu lebih lambat dibandingkan dengan yang 60 persen,” tambah Wright.
Menurutnya, dengan uranium yang tidak diperkaya, proses mendapatkan uranium yang layak untuk senjata nuklir membutuhkan waktu yang lama.
Baca juga: Trump Pede Iran Hentikan Pengayaan Uranium, Sebut AS Akan Mendapatkannya
“Tetapi ketika Anda sudah mencapai 60 persen, meskipun angkanya tidak terdengar seperti itu, Anda sudah jauh (mendekati) 90 persen dari proses pengayaan yang diperlukan untuk uranium yang layak untuk senjata nuklir,” ujar Wright.
“Ini sangat mengkhawatirkan,” tambahnya.
Sementara itu, Blumenthal mengatakan bahwa Trump kemungkinan harus memperoleh 11 ton uranium yang diperkaya 20 persen tersebut.
“Selain satu ton uranium yang diperkaya 60 persen, jika ia (Trump) ingin sepenuhnya menghilangkan ancaman tersebut,” katanya.
Baca juga: Iran Ancam Lakukan Pengayaan Uranium 90 Persen jika Diserang, Apa Bahayanya?
Iran diyakini memiliki sekitar 1.000 pon uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Teheran juga memiliki 11 ton uranium lainnya dengan tingkat pengayaan yang lebih rendah.
Utusan khusus AS Steve Witkoff juga secara terbuka menyatakan bahwa Iran mengeklaim memiliki uranium yang diperkaya hingga 60 persen yang cukup untuk membuat 11 bom nuklir jika diperkaya hingga 90 persen.
Menurut para ahli nuklir, mencapai tingkat pengayaan 60 persen merupakan lompatan teknis yang jauh lebih besar dibanding dari 60 ke 90 persen, yang merupakan tingkat pengayaan untuk senjata.
Baca juga: Putin Tawarkan Bantuan, Sebut Rusia Siap Angkut Uranium Iran
Trump yakin AS akan mendapatkan uranium Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menirukan gerakan menembakkan senjata saat berbicara tentang perang Iran, di Ruang Konferensi Pers James S Brady, Gedung Putih, Washington DC, 6 April 2026.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa Washington akan mendapatkan uranium yang diperkaya Iran "dengan cara apa pun".
Namun ia tidak merinci apakah Iran harus menyerahkan cadangan yang lebih kecil dengan pengayaan 60 persen atau seluruh persediaan.
Di sisi lain, para negosiator AS berupaya agar Iran melepaskan semua material nuklirnya, demikian dilaporkan Wall Street Journal pekan lalu.
Sejauh ini, Teheran menolak permintaan tersebut, meskipun Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan bantuan untuk menampung uranium tersebut jika Iran menyetujuinya.
Baca juga: Bertemu Xi Jinping, Trump Yakin AS-China Akan Punya Masa Depan Cerah
Wakil Presiden JD Vance pada Rabu (13/5/2026) mengisyaratkan bahwa telah ada "banyak kemajuan" dalam pembicaraan perdamaian dengan Iran, tetapi tidak membahas detailnya.
“Saya pikir kita sedang membuat kemajuan. Pertanyaan mendasar adalah, apakah kita membuat kemajuan yang cukup untuk memenuhi garis merah presiden?” ujar Vance kepada wartawan.
“Dan garis merah itu sangat sederhana. Dia perlu merasa yakin bahwa kita telah menerapkan sejumlah perlindungan sehingga Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” lanjut dia.
Tag: #panik #sebut #iran #sangat #dekat #dengan #produksi #senjata #nuklir