Saat Ancaman Trump ke Iran Berubah Jadi Ajakan Negosiasi dalam Sehari...
- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa dirinya sempat memberikan lampu hijau untuk melancarkan gelombang serangan militer baru ke Iran pada pekan ini.
Namun, keputusan tersebut mendadak ditunda guna memberikan ruang bagi proses negosiasi serius.
Langkah ini diambil setelah Trump mengeklaim adanya permohonan dari tiga pemimpin negara Teluk yang meminta tambahan waktu untuk merampungkan kesepakatan nuklir dengan Teheran.
Sepanjang bergulirnya konflik, Trump tercatat berulang kali melayangkan ancaman serangan udara baru, sebelum akhirnya menarik diri pada menit-menit terakhir demi menghindari terseretnya AS ke dalam pusaran perang yang lebih dalam.
Baca juga: Qatar Mulai Turun Tangan Hentikan Perang, Batalkan Serangan AS ke Iran
Pada Senin (18/5/2026), Trump secara bersamaan mengonfirmasi serangan sekaligus pembatalannya ke publik.
“Kami sedang bersiap untuk melakukan serangan besar-besaran besok, dan saya menundanya untuk sementara waktu, mudah-mudahan mungkin selamanya," ujar Trump seperti dikutip dari New York Times, Senin.
"Tetapi mungkin untuk sementara waktu, karena kami telah melakukan diskusi yang sangat besar dengan Iran, dan kita akan lihat apa hasilnya,” tambahnya.
Baca juga: Netanyahu Adakan Rapat Membahas Kemungkinan Perang Lagi dengan Iran
Saat Trump memulai operasi militer bersama Israel pada 28 Februari, ia sempat memproyeksikan bahwa perang tersebut akan rampung dalam waktu empat hingga lima minggu saja. Namun kini, konflik bersenjata tersebut telah memasuki bulan ketiga.
Kondisi ini membuat Washington terjebak di antara dua pilihan dilematis, yakni terus menekan Iran hingga tunduk sepenuhnya atau segera mendeklarasikan kemenangan dan menyudahi peperangan.
Akibatnya, pernyataan-pernyataan yang keluar dari Gedung Putih terkait perkembangan perang sering kali tampak kontradiktif.
Baca juga: Warga Iran Mulai Belajar Cara Menembak, Jaga-jaga Lawan AS
Dampak perang bagi kedua pihak
Sejumlah pejabat militer AS mengakui, rezim Teheran menunjukkan tingkat ketahanan yang luar biasa serta masih memiliki kapasitas besar untuk mengacaukan stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Terlebih, hingga saat ini persediaan hulu ledak nuklir Iran dilaporkan masih belum tersentuh oleh sekutu.
Kendati demikian, kampanye militer intensif yang dilancarkan jet tempur AS dan Israel telah memukul mundur kekuatan Iran cukup telak.
Baca juga: Perang Iran Kuras Stok Senjata, NATO Gelar Rapat Darurat
Estimasi dari Pentagon menyebutkan, operasi gabungan tersebut telah menghancurkan sekitar 13.000 target strategis, melumpuhkan armada Angkatan Laut Iran, serta menewaskan sejumlah petinggi militer dan badan intelijen, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Di dalam negeri AS sendiri, perang ini berjalan sangat tidak populer di mata publik.
Hasil jajak pendapat terbaru yang dirilis oleh New York Times-Siena menunjukkan, sebanyak 64 persen pemilih menilai keputusan Trump untuk menggelar perang melawan Iran adalah langkah yang keliru.
Mayoritas responden juga menyuarakan kekhawatiran mendalam atas pembengkakan biaya ekonomi akibat konflik.
Baca juga: Tantang Washington, Iran Ancam Jadikan Teluk Oman Kuburan Kapal Perang AS
Mediasi Negara Teluk
Ilustrasi perang AS vs Iran
Seiring dengan dampak buruk perang yang terus meluas, poros negosiasi yang membahas program nuklir Iran serta kontrol koridor Selat Hormuz sempat menemui jalan buntu.
Trump diketahui telah menolak beberapa draf proposal yang diajukan Iran karena menuntut lebih banyak konsesi di sektor nuklir.
Pada Senin, Trump mengungkapkan bahwa para pemimpin dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) telah menghubunginya secara langsung untuk meminta penundaan serangan militer.
Ketiga negara Teluk tersebut meyakini bahwa mereka dapat menjembatani sebuah kesepakatan damai dengan Iran yang nantinya bakal memuaskan kepentingan Washington.
Baca juga: Trump Tunda Serangan Besar ke Iran, Turuti Permintaan Negara Teluk
“Jadi saya dihubungi oleh tiga negara ini, ditambah negara-negara lain, mereka berurusan langsung dengan rakyat kita, saat ini Iran, dan tampaknya ada peluang yang sangat baik bahwa mereka dapat mencapai kesepakatan,” jelas Trump.
“Jika kita dapat melakukan itu tanpa membombardir mereka habis-habisan, saya akan sangat senang,” lanjutnya lagi.
Trump menegaskan, ia hanya akan menandatangani kesepakatan diplomasi yang memuat klausul larangan keras bagi Iran untuk memproduksi senjata nuklir.
Tuntutan mutlak inilah yang selama ini menjadi batu sandungan terbesar dalam negosiasi kedua belah negara.
Baca juga: Tak Puas dengan Tawaran Iran, Trump Disebut Akan Bahas Opsi Militer
Iran pulihkan pertahanan
Sementara, militer Iran dilaporkan memanfaatkan masa gencatan senjata satu bulan sebelumnya untuk memperkuat kembali pertahanan mereka.
Teheran bergerak cepat menggali ulang puluhan situs rudal balistik yang sempat hancur dibom, merelokasi kendaraan peluncur rudal bergerak, serta mengubah taktik pertempuran.
Seorang pejabat militer AS mengungkapkan bahwa sebagian besar stok rudal balistik milik Iran disembunyikan di dalam jaringan gua bawah tanah serta fasilitas militer yang dipahat di dalam pegunungan batu granit yang sangat keras.
Konstruksi alamiah tersebut sangat sulit ditembus oleh bom konvensional dari jet tempur AS.
Akibat kendala geografis tersebut, selama ini militer AS dilaporkan hanya mampu mengebom bagian pintu masuk bunker-bunker tersebut guna meruntuhkan akses jalurnya.
Namun saat ini, pasukan Iran dilaporkan telah berhasil menggali dan membuka kembali sebagian besar akses ke situs-situs peluncuran rudal tersebut.
Tag: #saat #ancaman #trump #iran #berubah #jadi #ajakan #negosiasi #dalam #sehari