Delegasi Qatar Diam-diam ke Teheran, Turun Tangan Perundingan Iran-AS
Warga Iran mengibarkan bendera negara saat menghadiri pemakaman para komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel, di Lapangan Enghelab, Teheran, 11 Maret 2026.(AFP/ATTA KENARE)
08:04
23 Mei 2026

Delegasi Qatar Diam-diam ke Teheran, Turun Tangan Perundingan Iran-AS

- Tim negosiasi dari Qatar dilaporkan telah tiba di Teheran, Iran, pada Jumat (22/5/2026). Mereka turun tangan membantu negosiasi damai Iran dengan Amerika Serikat (AS). 

Langkah ini diambil melalui koordinasi dengan AS sebagai upaya untuk mengamankan kesepakatan guna mengakhiri perang serta menyelesaikan sejumlah isu yang masih tertunda.

Informasi mengenai kunjungan ini diungkapkan oleh seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters.

Baca juga: Ada Negosiasi Mendadak dengan Iran, Trump Batal Hadiri Pernikahan Putranya

"Tim negosiasi Qatar berada di Teheran pada hari Jumat," kata sumber tersebut kepada Reuters.

Keterlibatan Doha terbilang signifikan, mengingat Qatar sebelumnya sempat menjaga jarak dari peran mediasi dalam perang AS-Iran 

Wilayah Qatar sendiri ikut terhantam serangan rudal dan drone milik Iran ketika perang berkecamuk, sebagaimana dilansir Reuters, Sabtu.

Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri Qatar belum memberikan tanggapan resmi terkait permintaan komentar.

Baca juga: AS dan Sekutu Siapkan Rencana B jika Iran Tolak Buka Selat Hormuz

Respons AS dan peran utama Pakistan

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi adanya perkembangan positif dalam proses diplomasi ini pada Kamis (21/5/2026).

"Ada beberapa tanda baik. Saya tidak ingin terlalu optimistis. Jadi, mari kita lihat apa yang terjadi dalam beberapa hari ke depan," paparnya.

Kendati Qatar kini kembali terlibat dalam jalur belakang, Rubio menegaskan bahwa Pakistan tetap memegang peran sebagai penengah utama sejak pertempuran pertama kali pecah. 

Berbicara di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri NATO di Swedia pada Jumat, Rubio memuji kinerja Pakistan yang dinilai telah melakukan tugas dengan sangat baik.

"Jelas negara-negara lain memiliki kepentingan, terutama negara-negara Teluk yang berada di tengah-tengah semua ini—mereka memiliki situasi mereka sendiri. Dan kami berbicara dengan mereka semua," jelas Rubio kepada para wartawan.

"Saya hanya ingin mengatakan bahwa negara utama yang bekerja sama dengan kami dalam semua ini adalah Pakistan, dan hal itu tetap tidak berubah," tambahnya.

Baca juga: Tolak Menyerah, Iran Tegaskan Tak Butuh Konsesi AS untuk Akhiri Perang

Ganjalan negosiasi

Perang ini bermula dari serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Teheran membalas serangan dan menutup Selat Hormuz.

Saat ini, gencatan senjata yang rapuh memang sedang berjalan, namun belum ada terobosan besar yang dicapai. 

Proses negosiasi dipersulit oleh aksi blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Seorang sumber senior dari pihak Iran mengungkapkan pada Kamis bahwa meski kesepakatan belum resmi tercapai, perbedaan pandangan antarpihak sudah mulai menyempit. 

Baca juga: Uni Eropa Paksa Iran Buka Selat Hormuz, Siapkan Sanksi Baru

Kendati demikian, masalah pengayaan uranium Iran serta kendali atas Selat Hormuz masih menjadi poin ganjalan utama yang sulit ditembus.

Kembalinya Doha ke meja runding terjadi di tengah situasi pelik bagi internal Qatar. 

Sebelumnya, Iran sempat menggempur Qatar dengan ratusan rudal dan drone yang menyasar infrastruktur sipil serta fasilitas produksi gas alam cair (LNG) vital di Ras Laffan.

Serangan tersebut seketika melumpuhkan sekitar 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar. 

Baca juga: Turkiye Pangkas Pajak, Bidik Investor Asing Manfaatkan Momentum Perang Iran

Akibat rentetan serangan Iran itu, Qatar bahkan telah menghentikan total produksi LNG mereka sejak 2 Maret.

Sebelum perang pecah, sekitar 20 persen perdagangan LNG global transit melalui Selat Hormuz, di mana pasokan utamanya berasal dari Qatar. 

Penutupan selat oleh Iran secara praktis telah memutus hampir seluruh kapasitas ekspor LNG negara Teluk tersebut.

Di sisi geopolitik, Qatar memegang posisi strategis bagi Washington. 

Negara ini merupakan salah satu sekutu utama non-NATO bagi AS dan menjadi lokasi bagi Pangkalan Udara Al Udeid, yang merupakan instalasi militer AS terbesar di kawasan Timur Tengah.

Baca juga: UEA Sebut Peluang AS dan Iran untuk Sepakat soal Selat Hormuz 50:50

Tag:  #delegasi #qatar #diam #diam #teheran #turun #tangan #perundingan #iran

KOMENTAR