Trump Tiba-tiba Naik Darah dan Ancam Hancurkan Oman
Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman (AFP/GIUSEPPE CACACE)
16:36
28 Mei 2026

Trump Tiba-tiba Naik Darah dan Ancam Hancurkan Oman

- Retorika agresif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kini menyasar Oman di tengah buntunya negosiasi terkait perang Iran. 

Dalam sebuah rapat kabinet, Trump memperingatkan bahwa tidak ada satu pun negara yang diizinkan untuk menguasai Selat Hormuz, termasuk Oman.

Ancaman itu dikeluarkan setelah Trump menolak laporan yang mengeklaim bahwa Iran dan Oman akan mengendalikan Selat Hormuz sebagai bagian dari kerangka kerja baru untuk mengakhiri perang.

"Tidak ada yang akan mengendalikannya. Ini adalah perairan internasional dan Oman harus bersikap sama seperti negara lainnya, atau kita harus menghancurkan mereka," kata Trump, sebagaimana dilansir India Today, Kamis (28/5/2026).

Pernyataan ini mengejutkan banyak pihak mengingat Oman merupakan salah satu mitra Teluk tertua dan terdekat bagi Washington. 

Selama ini, Oman tidak hanya menjadi tuan rumah bagi program kerja sama militer AS, tetapi juga sering berperan sebagai mediator senyap antara AS dan Iran.

Baca juga: AS Mulai Lawan Kendali Iran di Selat Hormuz, Siapkan Sanksi Baru

Gedung Putih tolak draf perjanjian 

Sebelumnya, televisi negara Iran melaporkan adanya draf kesepakatan tidak resmi yang akan mengizinkan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz kembali ke tingkat sebelum perang dalam kurun waktu satu bulan.

Dalam proposal tersebut, Iran dan Oman direncanakan akan mengawasi lalu lintas pelayaran bersama-sama. 

Sebagai bagian dari nota kesepahaman itu, AS juga diminta mengurangi kehadiran militernya di sekitar Iran dan mengakhiri blokade laut.

Namun, Gedung Putih langsung membantah keras kabar tersebut dan menyebut laporan itu sebagai fabrikasi total. 

Baca juga: Iran Lepaskan Tembakan ke Arah Kapal AS yang Coba Melintasi Selat Hormuz

Trump kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap tunduk pada aturan akses internasional.

"Kami akan mengawasinya, tetapi tidak ada yang akan mengendalikannya," ujar Trump.

Sebagai informasi, Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam negosiasi untuk mengakhiri perang Iran.

Sebelum perang Iran pecah akibat serangan AS-Israel pada 28 Februari, hampir seperlima dari pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintasi jalur perairan sempit tersebut setiap harinya.

Baca juga: Iran Lepaskan Tembakan ke Arah Kapal AS yang Coba Melintasi Selat Hormuz

Tidak hanya masalah selat, Trump juga memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan tekanan kepada negara-negara Teluk dan negara mayoritas Muslim agar bergabung dalam Abraham Accords.

Perjanjian yang digagas pada periode pertama kepresidenan Trump tersebut sebelumnya telah menormalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain. 

Kini, Trump mendesak agar Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Yordania ikut menandatangi kerja sama tersebut.

"Saya pikir mereka berutang budi kepada kita, jujur saja," kata Trump.

Baca juga: Terungkap, Kapal Korsel di Selat Hormuz Kemungkinan Besar Ditembak Iran

Dia menambahkan bahwa dua utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, sedang aktif bergerak untuk mengegolkan misi ini. 

Trump bahkan mengisyaratkan bahwa kelanjutan kesepakatan dengan Iran akan sangat bergantung pada kesediaan negara-negara tersebut untuk bergabung dalam Abraham Accords.

"Saya tidak yakin kita harus membuat kesepakatan (dengan Iran) jika mereka tidak menandatanganinya," tambahnya.

Program nuklir

Selain jalur pelayaran Selat Hormuz, program nuklir Iran tetap menjadi kerikil tajam dalam perundingan. 

Laporan televisi Iran sama sekali tidak menyinggung soal penghentian aktivitas nuklir Teheran, padahal Washington terus menuntut pembatasan yang ketat.

Baca juga: AS Diam-diam Bantu Kapal Tanker Sebrangi Selat Hormuz

Menurut laporan Reuters, para pejabat Iran menuntut agar isu nuklir dibahas terpisah pada negosiasi tahap kedua. 

Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menolak mentah-mentah kompromi tersebut.

"Intinya adalah Iran tidak akan pernah bisa memiliki senjata nuklir," tegas Rubio dalam rapat kabinet.

Dalam beberapa kesempatan, Trump juga mendesak Iran untuk menyerahkan seluruh uranium yang diperkaya tinggi. 

Dia juga menutup pintu rapat-rapat bagi adanya kelonggaran sanksi sebagai imbalan atas penyerahan debu uranium tersebut.

Baca juga: AS dan Iran Capai Kesepakatan Awal soal Selat Hormuz, Pasar Energi Belum Tenang

Tag:  #trump #tiba #tiba #naik #darah #ancam #hancurkan #oman

KOMENTAR