Jepang Tolak Tuduhan ‘Militerisme Baru’ oleh China, Balas Mengkritik Beijing
Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi(REUTERS/Issei Kato)
15:48
31 Mei 2026

Jepang Tolak Tuduhan ‘Militerisme Baru’ oleh China, Balas Mengkritik Beijing

- Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi membantah tuduhan China bahwa Tokyo sedang menganut "militerisme baru".

Ia juga mengkritik Beijing karena memperluas militernya dengan cepat tanpa transparansi, yang semakin meningkatkan ketegangan antara kedua negara.

Koizumi mengatakan pada Dialog Shangri-La di Singapura, Minggu (31/5/2026), China terus meningkatkan pengeluaran pertahanannya pada tingkat yang tinggi.

Baca juga: Yen Juga Melemah, Jepang Gelontorkan Rp 1.300 T Dongkrak Nilai Tukar


"Pendekatan eksternal dan aktivitas militer China merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan bagi Jepang dan komunitas internasional," ujarnya dilansir Reuters, Minggu (31/5/2026).

"Coba pikirkan, ada sebuah negara yang memiliki gudang senjata nuklir dan pesawat pembom strategis besar. Jepang tidak memiliki senjata semacam itu, namun Jepang dicap sebagai 'militerisme baru'?"

Koizumi menegaskan Jepang patuh dengan hukum internasional, serta berkomitmen terhadap Piagam PBB dan upaya untuk menegakkan tatanan internasional yang bebas dan terbuka.

Baca juga: China Geram atas Negosiasi Jepang dan Filipina soal Batas Maritim, Disebut Ilegal

Dalam forum yang sama, delegasi China, Mayor Jenderal Meng Xiangqing, juga mengkritik Jepang.

"Saya sangat ragu apakah sebuah negara yang belum sepenuhnya memberantas warisan beracun militerisme layak untuk berbicara panjang lebar tentang kerja sama pertahanan di kancah internasional,” kata Meng.

“Dan apakah negara itu dapat memenangkan kepercayaan masyarakat internasional, terutama negara-negara Asia yang pernah diinvasinya," sambung dia.

Baca juga: Jepang-Taiwan Buka Rute Feri dengan Kapal Siap Perang

Jepang tetap terbuka untuk berdialog

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (kiri) berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping (kanan) menjelang KTT Jepang-China di sela-sela KTT APEC di Gyeongju, Korea Selatan, 31 Oktober 2025.JIJI PRESS via AFP Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (kiri) berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping (kanan) menjelang KTT Jepang-China di sela-sela KTT APEC di Gyeongju, Korea Selatan, 31 Oktober 2025.

Koizumi menyayangkan tidak dapat bertemu dengan mitranya dari China di dialog forum pertahanan utama Asia tersebut, tetapi menegaskan Jepang tetap terbuka untuk berdialog.

Dia menambahkan, Jepang bertekad untuk memainkan peran baru dalam kerja sama pertahanan di Asia-Pasifik dan bertujuan untuk secara nyata memperkuat daya pencegahan di kawasan tersebut.

"Kita menginginkan kawasan yang mampu melawan paksaan, yang tidak disesatkan oleh kebohongan, dan tidak dipengaruhi oleh tekanan," katanya.

Pada April 2026, Tokyo meluncurkan perombakan terbesar dalam aturan ekspor pertahanannya dalam beberapa dekade.

Termasuk menghapus pembatasan penjualan senjata ke luar negeri dan membuka jalan bagi ekspor kapal perang, rudal, dan senjata lainnya.

Baca juga: Jepang Sukses Uji Mesin Pesawat Hipersonik, Tokyo-AS Cuma 2 Jam

Ketegangan antara China dan Jepang

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri China menyerukan kepada negara-negara Asia-Pasifik untuk waspada dan "bersama-sama melawan tindakan gegabah neo-militerisme Jepang".

Hubungan antara Tokyo dan Beijing merosot ke level terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Ketegangan meningkat setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memperingatkan serangan hipotetis China terhadap Taiwan dapat memicu respons militer Jepang, pada November 2025.

China mengeklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya sendiri, meskipun ditentang oleh pemerintah Taipei.

Tag:  #jepang #tolak #tuduhan #militerisme #baru #oleh #china #balas #mengkritik #beijing

KOMENTAR