Bukan AS atau Iran, Turkiye Justru Bisa Jadi Pemenang Perang Timur Tengah
Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, dalam beberapa pekan terakhir aktif mendorong jalur diplomasi. Ia menegaskan dukungan terhadap perundingan damai dalam percakapan terpisah dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, serta Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.(AFP/OZAN KOSE)
16:54
1 Juni 2026

Bukan AS atau Iran, Turkiye Justru Bisa Jadi Pemenang Perang Timur Tengah

Perang yang melibatkan Iran sejak akhir Februari membuka peluang bagi Turkiye untuk memperkuat posisinya di kawasan.

Di tengah ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, Ankara memilih menjaga jarak dari kubu mana pun, sembari menawarkan diri sebagai mediator dan memanfaatkan perannya sebagai penghubung ekonomi antara Asia dan Eropa.

Presiden Turkiye, Recep Tayyip Erdogan, dalam beberapa pekan terakhir aktif mendorong jalur diplomasi. Ia menegaskan dukungan terhadap perundingan damai dalam percakapan terpisah dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, serta Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.

Baca juga: Turkiye Memanas, Polisi Serbu Markas Oposisi Turkiye, Usir Elite Partai

Sebelumnya, Erdogan juga menyampaikan kepada Presiden AS, Donald Trump, bahwa ia menyambut baik perpanjangan gencatan senjata yang dimulai pada April dan optimistis persoalan antara Washington dan Teheran masih dapat diselesaikan melalui diplomasi.

Fleksibilitas politik jadi keuntungan

Dilansir Souith China Morning Post, Cameron Johnson, mitra senior perusahaan konsultan rantai pasok Tidalwave Solutions, menilai konflik tersebut justru menyoroti kemampuan Turkiye memainkan politik luar negeri yang fleksibel.

"Pada akhirnya, ambiguitas strategis dan fleksibilitas Turkiye telah menjadi aset," kata Johnson.

Menurut dia, negara anggota NATO itu memilih tidak sepenuhnya berpihak kepada Amerika Serikat maupun China. Sikap tersebut memberi ruang bagi Ankara untuk tetap menjalin hubungan dengan berbagai pihak yang saling bersaing.

Johnson menambahkan bahwa Turkiye juga menjadi titik pengalihan penting bagi berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari energi, transportasi darat, penerbangan, logistik, hingga manufaktur.

"Turkiye juga merupakan titik pengalihan utama untuk segala hal, mulai dari energi, truk, penerbangan, kargo, manufaktur. Itu membuatnya menjadi semacam katup pelepas tekanan alami bagi perusahaan-perusahaan yang berusaha menghadapi ketidakstabilan," ujarnya.

Ia menilai Turkiye memiliki keunggulan dibanding sejumlah negara Timur Tengah lain yang masih berupaya mengurangi ketergantungan pada minyak.

Negara tersebut telah memiliki basis manufaktur yang mapan, tenaga kerja terdidik, dan biaya tenaga kerja yang relatif kompetitif.

Karena itu, Ankara dinilai mampu memanfaatkan peluang ekonomi yang muncul akibat konflik lebih cepat dibanding para pesaingnya.

Harga energi naik, peran Turkiye menguat

Pandangan serupa disampaikan Zhu Zhaoyi, Direktur Eksekutif Institute of Middle East Studies di Pangoal Institution, lembaga pemikir yang berbasis di Beijing.

Menurut Zhu, perang di Iran memberi ruang manuver strategis tambahan bagi Turkiye. Lonjakan harga energi global meningkatkan nilai strategis negara tersebut sebagai jembatan darat Eurasia sekaligus memperbesar arti penting jaringan pipa TurkStream yang menghubungkan Rusia dan Turkiye.

Selain itu, konflik juga membuka peluang lebih besar bagi Ankara untuk mengekspor drone dan perlengkapan pertahanan lainnya ke negara-negara Teluk.

Meski demikian, Zhu menilai keuntungan yang diperoleh Turkiye masih bersifat terbatas.

"Turkiye adalah penerima manfaat yang terbatas dan oportunistis, bukan pemenang struktural," katanya.

Ia menjelaskan bahwa manfaat ekonomi tersebut juga membawa risiko, termasuk memperburuk inflasi domestik yang sudah tinggi serta memperlebar defisit transaksi berjalan negara itu.

Baca juga: Turkiye Pangkas Pajak, Bidik Investor Asing Manfaatkan Momentum Perang Iran

Risiko jika konflik kian membesar

Tentara Iran berdiri di depan potret Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam kampanye untuk menggalang solidaritas dan dukungan untuknya, di Teheran pada 29 April 2026.AFP Tentara Iran berdiri di depan potret Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam kampanye untuk menggalang solidaritas dan dukungan untuknya, di Teheran pada 29 April 2026.

Di sisi lain, pembicaraan menuju kesepakatan damai yang lebih luas antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu. Meski gencatan senjata telah berlaku sejak April, kedua negara tetap terlibat saling serang.

Pada Rabu (27/5/2026), Washington dan Teheran dilaporkan saling melancarkan serangan di sekitar Bandar Abbas, kota pelabuhan yang menghadap Selat Hormuz. Serangan udara baru juga kembali terjadi pada akhir pekan.

Blokade laut di jalur transit minyak yang sangat penting itu masih berlangsung dan mengguncang pasar global energi, pupuk, serta berbagai komoditas penting lainnya.

Menurut Zhu, apabila konflik meningkat lebih jauh, posisi Turkiye justru bisa menjadi lebih rumit.

Ia menilai Ankara selama ini berusaha menjaga keseimbangan hubungan dengan Amerika Serikat, Rusia, dan Iran secara bersamaan. Jika perang meluas, Turkiye bisa dipaksa memilih salah satu pihak.

"Hal itu akan memaksanya mengambil pilihan kubu yang mahal dan berpotensi menghapus keuntungan taktis yang diperolehnya," ujar Zhu.

Erdogan sulit jadi penguasa tunggal Timur Tengah

Di tengah konflik yang berkepanjangan, pemerintah Turkiye juga terus mempromosikan Middle Corridor, jalur perdagangan yang menghubungkan China bagian barat, Asia Tengah, Turkiye, hingga Eropa.

Rute tersebut dipasarkan sebagai alternatif yang mampu menghindari zona konflik besar, termasuk perang di Iran dan Ukraina.

Johnson memperkirakan hubungan China-Turkiye ke depan akan semakin pragmatis dan berfokus pada ekonomi.

"Kedekatannya dengan Eropa dan Timur Tengah akan memberinya pengaruh lebih besar, karena China ingin dekat dengan Eropa. Yang diberikan Turkiye kepada perusahaan-perusahaan China adalah aset mitigasi risiko, yakni basis manufaktur yang aman dan tidak akan diserang," katanya.

Namun, baik Johnson maupun Zhu menilai keuntungan geopolitik Turkiye tetap memiliki batas. Negara-negara besar di kawasan tidak akan tinggal diam jika Ankara berupaya menjadi kekuatan dominan.

"Arab Saudi tidak akan tinggal diam dan menyaksikan Turkiye menjadi kekuatan dominan di dunia Islam. Mesir juga merupakan pesaing potensial, sementara Rusia akan terus merangkul Ankara sekaligus berusaha membatasinya," kata Zhu.

Karena itu, ia menilai ambisi Timur Tengah Erdogan kemungkinan besar tidak akan berujung pada lahirnya kekuatan hegemonik baru di kawasan.

"Perwujudan sebenarnya dari ambisi Timur Tengah Erdogan kemungkinan lebih berupa penentu agenda regional dalam berbagai isu lokal, bukan sebagai kekuatan hegemonik yang menyatukan kawasan," ujarnya.

Baca juga: 428 Aktivis GSF yang Ditahan Israel Dibebaskan, Turkiye Gercep Kirim Pesawat

Tag:  #bukan #atau #iran #turkiye #justru #bisa #jadi #pemenang #perang #timur #tengah

KOMENTAR