Diancam Dibom Trump, Oman Tetap Ogah Putus Hubungan dengan Iran
Perahu berlayar di perairan Selat Hormuz dari arah Khasab di Oman, Semenanjung Musandam, 25 Juni 2025.(AFP/GIUSEPPE CACACE)
17:36
4 Juni 2026

Diancam Dibom Trump, Oman Tetap Ogah Putus Hubungan dengan Iran

- Kesultanan Oman ogah mengikuti tekanan Amerika Serikat (AS) yang mendesak putus hubungan diplomatik dengan Iran. 

Oman menyatakan bahwa interaksinya dengan Teheran murni bertujuan untuk menegosiasikan sistem pengelolaan Selat Hormuz di masa depan agar tetap mematuhi hukum internasional.

Selama ini, Oman yang berbagi pengelolaan Selat Hormuz dengan Iran dikenal sebagai mediator jalur belakang yang netral dalam berbagai konflik di Teluk. 

Baca juga: Trump Murka Oman Terlalu Dekat dengan Iran, UEA dan Saudi Ikut Kesal

Meski netralitasnya memiliki batas, posisi Oman kini berada di bawah sorotan tajam Washington, sebagaimana dilansir The Guardian, Kamis (4/6/2026).

Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan spontan yang mengancam akan mengebom Oman. 

Kecurigaan AS kian dipertegas oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio saat memberikan kesaksian di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat.

"Tidak ada negara lain di Bumi selain Iran, dan mungkin Oman yang tampak mendekatinya, yang mendukung apa yang dilakukan Iran di selat tersebut," ujar Rubio.

Kecurigaan AS ini sebenarnya berakar sejak Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi muncul di televisi AS sesaat sebelum perang Israel-AS pecah untuk meminta tambahan waktu bagi negosiasi yang sedang dimediasi oleh Oman.

Baca juga: Tak Gentar Ancaman AS, Iran dan Oman Bahas Pengelolaan Selat Hormuz

Menanggapi tekanan tersebut, Duta Besar Oman untuk AS Talal bin Suleiman al-Rahbi langsung bergerak melakukan diplomasi di Kementerian Luar Negeri AS dan berkomunikasi dengan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent. 

Al-Rahbi menegaskan bahwa Muskat menolak sistem pemberlakuan tarif tol dan berkomitmen penuh menjaga prinsip kebebasan navigasi.

Sikap Oman 

Meskipun beberapa politisi Oman menunjukkan simpati terhadap penarikan biaya untuk layanan spesifik di Selat Hormuz, mereka membantah adanya rencana pemberlakuan tarif tol terselubung seperti yang dicurigai AS.

Sejak perang dimulai, Oman tetap membantu kapal-kapal yang melintas, termasuk milik AS, dengan menyediakan panduan navigasi, operasi pencarian dan penyelamatan (SAR), serta bantuan medis bagi kru kapal.

Di sisi lain, Iran menyatakan kesiapannya untuk mengembalikan arus pelayaran ke situasi sebelum perang dalam waktu satu bulan, sebagai bagian dari kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Baca juga: Trump Tiba-tiba Naik Darah dan Ancam Hancurkan Oman

Namun, Teheran telah membentuk Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA) yang mewajibkan kapal-kapal meminta izin melintas. 

Badan ini sendiri kini telah dijatuhi sanksi oleh Kementerian Keuangan AS. 

Guna memuluskan rencananya agar sesuai hukum internasional dan dapat diterima Oman, Iran mengusulkan biaya non-diskriminatif bagi kapal yang lewat.

Arman Khorsand, Kepala Pusat Urusan Internasional dan Konvensi Lingkungan pada Departemen Lingkungan Hidup Iran, menjelaskan bahwa tarif tersebut diperuntukkan menangani kerusakan lingkungan. 

"Operasi militer AS yang dilakukan di kawasan tersebut tidak hanya menimbulkan konsekuensi keamanan dan kemanusiaan, tetapi juga menimbulkan biaya lingkungan yang signifikan," ucapnya.

Khorsand menambahkan, berdasarkan prinsip hukum internasional, pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan harus menanggung biaya pemulihannya.

Baca juga: Terjepit di Selat Hormuz, Oman Jadi Samsak Geopolitik Iran dan AS

Tag:  #diancam #dibom #trump #oman #tetap #ogah #putus #hubungan #dengan #iran

KOMENTAR