Ketika Uang Mainan Jadi Alat Pembayaran di Kota Ini Selama Bertahun-tahun...
Penulis: Jonas Mayer/DW Indonesia
Jika Anda masuk ke toko roti atau toko buku di area Chiemgau di Negara Bagian Bayern, Anda akan melihat bagaimana pembeli melakukan pembayaran menggunakan uang kertas mainan yang berwarna-warni berhiaskan belalang, kumbang, atau serangga lainnya.
"Sekitar 10-15 pelanggan membayar dengan cara ini,” salah seorang penjual buku mengatakan pada DW.
Penduduk lokal menyebutnya sebagai "Chiemgauer” - mata uang yang mereka ciptakan sendiri.
Baca juga: Terbongkar, Oknum CIA Buat Operasi Intelijen Palsu demi Kuras Uang Pemerintah AS
Kedengarannya unik, tapi mata uang ini menjadi landasan bagi sistem keuangan mikro yang telah beroperasi selama lebih dari dua dekade. Sistem keuangan mikro ini kini berkembang menjadi alat utnuk mengurangi emisi karbon di wilayah ini.
Eksperimen di kelas yang berkembang pesat
Mata uang Chiemgauer lahir pada tahun 2003 di sebuah sekolah menengah setempat.
Saat itu, guru mata pelajaran ekonomi, Christian Gelleri, dan sekelompok siswa mencari cara untuk mendukung bisnis lokal yang kehilangan pelanggan setelah munculnya pusat perbelanjaan besar dan jaringan toko retail.
Solusi mereka adalah menciptakan mata uang baru, yang dirancang untuk tetap beredar di dalam wilayah tersebut. Mereka mencetaknya, membagikannya, dan satu demi satu penduduk setempat mulai menggunakan mata uang Chiemgauer, toko-toko pun mulai menerimanya.
Lambat-laun, ide di ruang kelas tersebut berkembang menjadi sebuah sistem keuangan.
"Saat ini, lima juta Chiemgauer dibelanjakan setiap tahunnya,” kata Gelleri, pemimpin asosiasi Chiemgauer e.V., yang mengelola mata uang tersebut. Saat ini, satu Chiemgauer setara dengan 1 Euro (Rp 20.800).
Di kantornya yang terletak di kota Traunstein di kaki Pegunungan Alpen, Gelleri membuka brankas kelompok tersebut dan memperlihatkan tumpukan tebal uang kertas kepada DW.
"Jumlahnya lebih dari 200.000 Chiemgauer, dengan nilai yang sama dalam mata uang euro,” kata Gelleri dengan bangga.
Uang kertas tersebut dicetak oleh perusahaan profesional dan dilengkapi dengan penanda hak cipta serta fitur anti-pemalsuan.
Menurut hukum Jerman, mencetak dan menggunakan mata uang selain euro dapat dianggap sebagai tindak pidana.
Namun, karena Chiemgauer terbatas digunakan di wilayah tersebut dan hanya digunakan oleh sekitar 4.200 orang serta 300 bisnis, bank sentral Jerman, Deutsche Bundesbank memberikan pengecualian.
Mereka yang ingin menggunakan uang ini harus mendaftar ke asosiasi Chiemgauer.
Trik membuat mata uang baru terus bertahan
Menelusuri toko-toko di Traunstein dengan etalase yang berwarna-warni turut menggambarkan bagaimana sistem mata uang ini bekerja.
Di sebuah toko makanan organik, seorang pelanggan membayar keju dan sosis dengan uang kertas 50 Chiemgauer.
"Saya mengelola toko makanan organik. Sebagian pendapatan dalam bentuk Chiemgauer itu saya gunakan untuk keperluan belanja saya sendiri," katanya kepada DW.
Hal yang sama juga dilakukan oleh seorang penjual hidangan khas Mediterania di pasar.
"Kami menggunakan uang Chiemgauer yang kami dapatkan untuk membayar pemasok bahan-bahan segar ,” jelasnya.
Dengan cara ini, uang tersebut berputar, baik secara tunai maupun elektronik melalui kartu khusus yang terhubung dengan rekening bank biasa.
Agar uang kertas tetap berlaku dan mata uang Chiemgauer terus beredar, pemegangnya harus membeli prangko kecil setiap enam bulan sekali.
Misalnya, prangko untuk uang kertas 10 Chiemgauer berharga sekitar 0,30 euro (Rp 6.200).
Setelah tiga tahun, uang kertas tersebut akan kedaluwarsa. Pengguna perorangan tidak dapat menukar Chiemgauer dengan euro, tetapi pelaku usaha dapat menukar mata uang tersebut dengan membayar biaya transaksi sebesar 5 persen.
Biaya tersebut kemudian digunakan untuk membiayai operasional mata uang dan mendukung organisasi nirlaba lokal.
Baca juga: Wajah Trump Mau Dipasang di Uang Kertas 250 Dollar AS, Demokrat: Demi Ego Presiden
Beli panel surya balkon, dapat Chiemgauer gratis
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Beberapa tahun terakhir, Gelleri dan pengelola Chiemgauer telah melibatkan aspek perlindungan lingkungan ke dalam mata uang mereka.
Warga kini dapat memperoleh bonus Chiemgauer setelah melakukan sesuatu yang ramah iklim, seperti memilih untuk memperbaiki celana jeans daripada beli celana baru, menggunakan platform car-sharing (berbagi penggunaan mobil), atau memilih material-material ramah lingkungan untuk rumah.
Tindakan-tindakan ini diberi imbalan berupa bonus mulai dari satu hingga 200 Chiemgauer.
"Pemilik panel surya ini mendapat 100 Chiemgauer,” kata Gelleri, sambil menunjuk ke dua panel surya yang terpasang di halaman belakang sebuah rumah di Traunstein,
"Dalam 20 tahun, instalasi listrik balkon dengan panel surya turut menghemat 11 ton karbon dioksida.”
Warga dan pelaku usaha setempat membiayai insentif tersebut dengan menyetorkan dana bersama untuk mengimbangi emisi karbon mereka, hal ini serupa dengan sistem perdagangan emisi karbon skala kecil.
Setiap ton karbon yang diimbangi melalui dana tersebut, berhasil menghemat hingga 9 ton karbon berkat perilaku ramah iklim yang didorong oleh skema tersebut.
Skema bonus iklim serupa telah menyebar dari Bayern ke empat wilayah lain di seluruh Jerman.
Selama empat tahun terakhir, skema ini telah menghemat total 12.800 ton CO2, setara dengan emisi sekitar 2.000 mobil Jerman dalam periode yang sama, menurut auditor independen TÜV Nord.
Kecil tapi sejalan dengan tren global
Chiemgauer bukan yang pertama. Dunia telah memiliki sekitar 300 ‘mata uang pelengkap' - sebutan untuk mata uang berdampingan dengan mata uang resmi suatu negara.
Sebagian besar mata uang pelengkap tersebut terkonsentrasi di Eropa dan Brasil, dengan fokus mempromosikan ekonomi dan kesejahteraan lokal. Namun efek tambahannya, mata uang ini turut mengurangi emisi dari sektor transportasi.
"Mata uang ini mendorong kegiatan belanja lokal, yang pada gilirannya memperpendek rantai pasokan, karena para pedagang membeli barang-barang produksi lokal,” kata Ester Barinaga, yang meneliti mata uang pelengkap di Universitas Lund di Swedia. Menurut Badan Energi Internasional, IEA, transportasi barang menyumbang 8 persen dari emisi gas rumah kaca global.
Beberapa mata uang ini dirancang khusus untuk mendorong perilaku ramah lingkungan. Di kota Viladecans, Spanyol, misalnya, "Vilawatt” memberikan imbalan kepada warga yang menghemat energi.
Di Indonesia, Filipina, dan negara lain, token Bank Plastik diberikan kepada orang-orang yang mengumpulkan dan menyerahkan botol plastik untuk didaur ulang.
Namun, semua mata uang ini punya keterbatasan, sama halnya dengan Chiemgauer. Pakaian, elektronik, dan sebagian besar barang manufaktur masih diproduksi di luar negeri dan diimpor.
Kurang dari 1 persen penduduk di wilayah tersebut berpartisipasi dalam sistem ini. Dan jika sistem ini tumbuh jauh lebih besar, bank sentral Jerman bisa saja turun tangan untuk melakukan pengaturan.
Meski demikian, bagi Barinaga, mata uang komplementer memiliki pelajaran penting, sekecil apa pun perannya dalam skema yang besar.
"Uang bisa dirancang,” katanya. "Jika uang diciptakan untuk menghargai perilaku pro-lingkungan, maka akan ada lebih banyak orang yang berperilaku pro-lingkungan.”
Baca juga: PBB Kehabisan Uang dan Terancam Kolaps, AS Biang Keladinya
Artikel ini telah dimuat di DW Indonesia dengan judul Bagaimana Uang Mainan Bisa Bantu Memangkas Emisi?
Tag: #ketika #uang #mainan #jadi #alat #pembayaran #kota #selama #bertahun #tahun