AS dan Iran Saling Serang 2 Hari Beruntun, Gencatan Senjata Hancur
- Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali bertempur, Kedua belah pihak saling jual-beli serangan udara selama dua hari berturut-turut pada Kamis (11/6/2026).
Baku tembak ini kian mengancam gencatan senjata rapuh yang sempat disepakati pada April lalu, sekaligus memupuskan harapan publik akan berakhirnya perang yang telah pecah sejak akhir Februari tersebut.
Merespons situasi ini, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan ragu untuk melancarkan serangan lanjutan jika Teheran tidak segera menyepakati perjanjian damai.
Baca juga: Fans Iran Inginkan Laga Lawan AS di Piala Dunia, Berharap Bawa Perdamaian
Ancaman Trump ini langsung memicu gejolak ekonomi, di mana harga minyak dunia melonjak hingga hampir 3 dollar AS dan terus merangkak naik dalam perdagangan di Asia pada Kamis.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan, langkah militer ini diambil demi menekan Iran agar mau naik ke meja perundingan.
"Serangan ini akan memajukan kepentingan militer kami dan juga meningkatkan posisi diplomatik kami," ujar Hegseth kepada wartawan saat mengunjungi Komando Sentral AS atau Central Command (Centcom) di Florida.
"Kami akan memukul mereka dengan keras malam ini, dan mudah-mudahan Iran membuat keputusan yang baik. Jika kami harus bernegosiasi dengan bom, kami akan bernegosiasi dengan bom," lanjutnya.
Baca juga: Timur Tengah Membara, AS-Iran Saling Serang Dua Hari Berturut-turut
Di sisi lain, Iran mengecam keras aksi tersebut, sebagaimana dilansir Reuters.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghei, menuduh AS telah menembak reservoir yang memasok air minum ke 10 desa dan melanggar hukum internasional.
"Ini bukan dampak tidak langsung, ini adalah kejahatan perang yang diperhitungkan dan pelanggaran nyata terhadap hak asasi manusia," tegas Baghei.
Terkait tuduhan tersebut, pihak Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon belum memberikan komentar resmi.
Baca juga: Sebut Misi Rahasia, Trump Klaim Kelabui Iran dan Angkut Minyak di Selat Hormuz
Saling klaim di Selat Hormuz
Eskalasi terbaru ini dipicu oleh jatuhnya helikopter Apache milik AS di dekat Selat Hormuz pada Senin (8/6/2026).
Peristiwa tersebut memantik aksi balasan beruntun di wilayah Iran dan pangkalan-pangkalan AS di sekitarnya.
Centcom mengumumkan, serangan udara terbaru mereka menyasar kemampuan pengawasan militer, sistem komunikasi, dan situs pertahanan udara di seluruh Iran.
Operasi yang berlangsung selama empat jam tersebut dinyatakan selesai tak lama setelah tengah malam waktu Teheran.
Kantor berita Iran melaporkan adanya ledakan di sejumlah kota, termasuk Sirik, Kargan, Bandar Abbas, Minab, dan Karaj yang berada di dekat selat, hingga wilayah Varamin di bagian utara dekat Laut Kaspia.
Baca juga: Bela Serangan ke Iran, Menhan AS: Kami Akan Bernegosiasi dengan Bom
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menggempur 18 target militer AS di pangkalan udara Kuwait dan Bahrain, termasuk Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.
Iran juga mengaku menembakkan 12 rudal balistik ke pangkalan udara al-Azraq di Yordania untuk malam kedua berturut-turut.
Situasi di jalur laut juga memanas. Komando militer gabungan tertinggi Iran memperingatkan akan menembak kapal apa pun yang nekat melewati Selat Hormuz yang telah ditutup selama berbulan-bulan. Media Iran bahkan mengeklaim dua kapal AS telah ditembaki.
Namun, Centcom membantah klaim tersebut. AS menegaskan, Selat Hormuz tidak ditutup dan tidak ada kapal mereka yang terkena tembakan, melainkan kapal komersial masih tetap melintas.
Di sisi lain, AS tetap mempertahankan blokade pelabuhan Iran dan sempat menembaki sebuah kapal pembawa minyak dari Iran di Teluk Oman karena mengabaikan instruksi.
Pemerintah India melaporkan tiga pelautnya yang sempat hilang dari kapal tersebut dinyatakan tewas.
Baca juga: Iran Serang 2 Kapal di Selat Hormuz, Penutupan Jalur Pelayaran Mulai Diberlakukan
Tag: #iran #saling #serang #hari #beruntun #gencatan #senjata #hancur